The Bad Patient Part 2

Gambar

Author Pov

“KAU…!!! ”geram Kyuhyun kesal,

Ia merasa sedang dipermainkan dengan yeoja ini, bagaimana tidak ? Saat ini ia melihat Ha Won masih mengenakan tshirt pendek dibalik kemejanya. Sialan, yeoja ini berhasil mengerjainya. Umpatnya kesal.

Ha Won tersenyum penuh kemenangan, ia menaikan sebelah alisnya “Wae ? Kau berharap akan melihat apa Cho Kyuhyun ? Pemandanga indah, hmm?” sindirnya dengan seringai mengejek “Dalam mimpimu saja Tn. Cho !”

Kyuhyun mengepalkan tangannya kuat, menahan keinginan untuk melayangkan tonjokan kewajah yeoja dihadapannya ini. Karena itu amat sangat tidak gentlement, tentu saja. Tapi yeoja ini selalu saja berhasil dengan sangat baik dalam hal memancing emosinya.

“Sesuai kesepakatan, aku sudah membuka bajuku. Dan sekarang saatnya kau diam dan biarkan aku melanjutkan pekerjaanku.”

Kyuhyun masih memandangnya dengan pandangan membunuh, seandainya bisa ia sangat ingin menguliti wanita ini, detik ini juga.

Ha Won segera melanjutkan pekerjaannya, saat dilihatnya Kyuhyun tidak membalas ucapannya. Apa namja ini menyerah ? Atau ia tidak menemukan kata untuk membantahnya ? terserahlah. Kebisuan namja ini membantunya mempermudah pekerjaannya. Walau ia tahu namja ini masih menyimpan kesal dihatinya.

Memandikan pasien bukanlah hal yang bisa dibilang mudah, terlebih pasien namja. Ia harus pintar-pintar melakukannya agar tidak salah menyentuh bagian-bagian yang tidak semestinya. Terlebih terhadap namja menyebalkan dihadapannya ini. Kini ia sudah selesai memandikan dan mengganti baju Kyuhyun dengan kaus dan celana katun lembut untuk memudahkan Kyuhyun terapi nanti. Sekarang saatnya menyisir rambut namja ini, Ha Won menurunkan tangannya yang tadi sempat terangkat sedikit.

Ia masih memperhatikan rambut Kyuhyun, namja itu kini sibuk dengan PSPnya. Ha Won sedikit memandangnya sebal. Apa orang ini tidak bisa sedetik saja menjauh dari benda itu ? tanyanya dalam hati. Ia kembali menatap rambut Kyuhyun, ia belum pernah melihat namja ini dalam keadaan rambut basah. Akan seperti apa penampilannya ? Karena jujur saja, dalam kondisi rambut basah yang acakan seperti ini saja pesonanya masih cukup memukau. Mwoya ? Ha Won buru-buru menepis pikirannya. Bodoh, bisa-bisanya ia sempat terpesona dengan namja abstrak ini. Ia mengutuki dirinya sendiri.

Akhirnya setelah mencoba menilik, seperti apa tatanan rambut yang pas dengan namja ini. Ia segera menggerakan tangannya, mulai menyisir rambut yang terasa lembut ditangannya itu. Ia memutuskan, mengarahkan sebagian besar rambut itu kebagian kiri (*lihat rambut Kyuhyun di MV SPY). Tapi setelah selesai menyisir rambut Kyuhyun, ia justru merasa geli dengan hasil karyanya sendiri. Kenapa namja ini jadi terlihat seperti orang yang akan berfoto postcard ? Pikirnya geli.

Kyuhyun menoleh kearahnya saat mendengar suara seperti dengusan kecil atau mungkin sebuah tawa yang ditahan ? Ia memicingkan mata, menatap Ha Won curiga “Wae ?” tanyanya.

Ha Won menutup mulutnya dengan tangan demi menutupi tawa kecil yang berhasil lolos keluar. “Aniyo

“Kau menertawaiku ?” tanya Kyuhyun tak percaya.

Ani” Ha Won berusaha meyakinkan, meski ia sendiri tak yakin.

“Tapi kau menertawaiku !” Kyuhyun bertahan dengan tuduhannya.

“Ouh, aku yakinkan kau. Aku tidak akan seberani itu Tn. Cho” kilah Ha Won dengan nada berlebihan.

Kyuhyun kembali memandangnya sebal, tapi kemudian sudut bibirnya sedikit tertarik “Apa yang kau tertawakan ? Apa karena aku terlihat imut ?” tanyanya dengan rasa percaya diri yang menurut Ha Won sangat keterlaluan.

Ha Won mencibir, menanggapi pertanyaan Kyuhyun “Kata ‘Imut’ dan namamu terasa sulit untuk digabungkan dalam satu kalimat Tn. Cho”

Kyuhyun mendengus sebal mendengar penuturan Ha Won, ia malas meladeni yeoja itu. Cacing-cacing dalam perutnya sudah meronta, mengingat kemarin malam ia tidak jadi makan. “Aku lapar” ucapnya pelan.

“Benarkah ? Apa kau yakin tidak akan membuangnya lagi ?” tanya Ha Won sedikit menyindir.

“Apa kau akan kembali mendebatku ? Atau kau bisa mengambilkannya sekarang juga nona Jung ?”

Kali ini Ha Won tidak mendebatnya lagi dan segera keluar dari kamar Kyuhyun. Sepertinya pasiennya itu benar-benar lapar.

***

Ha Won kembali dengan sebuah baki yang berisi sepiring makanan lengkap, piring kecil dengan beberapa iris buah, susu, dan air putih. Ia meletakkan baki tersebut di hadapan Kyuhyun. Namja itu menatap makanan tersebut dengan mata berbinar, ia sungguh amat sangat lapar. Tapi ia tak langsung menyantap hidangan itu.

Ia memandang Ha Won dengan pandangan yang membuat yeoja itu bingung. “Wae ?” tanya Ha Won, merasa jengah dengan pandangan Kyuhyun.

“Suapi” jawab Kyuhyun singkat.

Mwo ?” mata Ha Won membulat seketika. Ia memastikan jika pendengarannya  tidak salah menangkap kata-kata yang di ucapkan namja itu

“Aku rasa kau belum tuli nona Jung. Suapi aku !” kini nadanya lebih terdengar seperti memerintah.

Ha Won melipat tangan kirinya di bawah dada sebagai penopang tangan kanannya yang sedang memegang dagu seolah sedang berpikir keras, namun dengan mata yang masih menatap Kyuhyun “Kukira hanya kakimu yang bermasalah ? Apa itu juga berpengaruh dengan fungsi tanganmu ?” sindirnya, ia tahu namja ini kembali mengerjainya.

Kyuhyun tak menanggapi sindiran itu “Yong Joon yang bisanya menyuapiku” ujarnya “Berhubung kau sudah memproklamirkan dirimu yang akan mengurus semua kebutuhanku, jadi kau juga harus selalu menyuapiku saat makan” jelasnya.

Ha Won menatapnya tak percaya, kecurigaan terlihat jelas di wajahnya “Benarkah ?” tanyanya sedikit sangsi.

“Tentu saja…” jawab Kyuhyun cepat. Tentu saja tidak. Lanjutnya dalam hati. Bodoh, apa dia pikir aku sudah gila hingga mau disuapi bocah sialan itu ? Membayangkannya saja sudah membuatku mual. Batinnya lagi. Ia sengaja ingin mengerjai yeoja ini. Ia masih kesal, karena yeoja ini kemarin malam ia kelaparan. Jadi bukan sesuatu yang kejam kan jika ia ingin membalasnya ?

Ha Won masih belum bergeming dari posisinya saat ini, ia masih menatap Kyuhyun curiga. Ia berusaha mencari kebohongan atau sedikit mimik usil dari wajah Kyuhyun. Namun kali ini Kyuhyun berhasil menyembunyikannya, dan menampilkan wajah datarnya yang seolah itu kegiatan yang biasa dilakukan orang untuknya.

Omooo..” ujar Ha Won tiba-tiba, sambil menutupi mulutnya dengan tangan. Seolah teringat akan sesuatu yang sangat mengerikan.

Wae ?” tanya Kyuhyun sedikit terkejut.

“Apa…. Yong Joon juga yang mengurus ‘Kebutuhanmu’ yang lain ?” tanya Ha Won sambil memberikan tanda kutip dengan tangan saat menyebutkan kata ‘Kebutuhanmu’. Merujuk kepada kejadian tadi malam, saat Kyuhyun berusaha mengintimidasinya. Terlihat jelas ia berusaha menyembunyikan senyum mengejeknya.

Kyuhyun yang mengerti kearah mana maksud ucapan Ha Won, hanya bisa mendengus kesal melihatnya “Tidak lucu ! Selera humormu amat sangat buruk nona Jung” ujarnya sebal.

Sementara Ha Won hanya mengangkat bahu tak acuh, namun senyum mengejek masih tersungging dibibirnya “Yah, aku hanya berfikir mungkin saja kau termasuk orang yang cukup fleksibel untuk urusan itu”

“Persetan dengan pemikiranmu. Aku sudah lapar. Jadi ? Kau masih ingin melanjutkan kata-kata tak bermutumu itu. Atau …. ?” Kyuhyun melirik baki makanan yang ada dihadapannya.

Akhirnya Ha Won mengalah, bagaimanapun juga manusia menyebalkan ini pasiennya. Mau tidak mau ia harus benar-benar merawatnya. Dengan malas Ha Won berjalan menghampiri Kyuhyun, lalu duduk di sampingnya. Mengangkat baki makanan tersebut, dan meletakannya pangkuannya. Dengan sedikit tidak rela, ia menyuapkan makanan itu kemulut Kyuhyun, yang sudah membuka mulutnya dari tadi. Ck, manusia ini benar-benar. Adik-adiknya dipanti saja tidak ada yang pernah minta ia suapi. Gerutunya dalam hati.

Kyuhyun Pov

Ck, apa yeoja ini tidak bisa berpura-pura baik sedikit saja ? Terlihat sekali ia amat sangat terpaksa menyuapiku. Hahaha,,, wajah kesalnya benar-benar lucu. Tidak kusangka yeoja menyebalkan ini bisa terlihat manis saat memberengut seperti itu. Eh, apa tadi kubilang ? Manis ? Andwaeee,,, jangan sampai aku terpesona dengan wajah menipunya ini. Ekspresi wajahnya benar-benar tidak konsisten. Kenapa wajahnya tidak pernah bisa terlihat tenang ? Selalu saja menunjukan raut kesal, sebal, marah, atau sedikit tersenyum ? Aku jadi bertanya-tanya seperti apa wajahnya saat tertidur. Mungkinkah pada saat itu ia baru akan terlihat tenang ? Dan satu lagi yang paling aku benci, ia senang sekali menahan tawa. Bukannya aku penasaran dengan wajahnya dalam keadaan tertawa. Yah, baiklah kuakui aku sedikit penasaran juga, tapi ingat, hanya sedikit. Aku lebih merasa tersinggung dengan kebiasaannya menahan tawa, karena aku merasa ia seperti ingin menertawaiku. Dan aku tidak suka.

Sepertinya aku benar-benar kelaparan. Terlihat dari tandasnya makanan yang ada dihadapanku tadi, berikut dengan buah dan susu. Belum pernah aku makan senikmat ini, dan aku harap ini bukan karena dia yang menyuapiku. Ia keluar sebentar sambil membawa baki makanan tadi. Hah, kenapa setelah makan aku jadi mengantuk lagi. Ck, yeoja itu benar-benar merusak jadwal tidurku. Seharusnya masih beberapa jam lagi aku bangun. Aish,,, aku kan tidak mau dibilang korupsi waktu tidur. Jadi bukankah akan sangat baik jika aku kembali melanjutkan tidurku ? Hoooaaaahhh,,,, aku menguap dengan nikmat, sebelum membaringkan badanku dan bersiap melanjutkan tidurku.

Tapi sepertinya yeoja ini tercipta memang untuk menggangguku. Seperti hantu yang tiba-tiba sudah berada disampingku. Hanya Tuhan yang tahu, bagaimana ia bisa masuk ke kamar ini tanpa suara sedikitpun. Ia menepuk pahaku pelan. “Bagun Tn. Cho ! Kau ingin tubuhmu lumpuh total ya ?” tanyanya.

Aku membuka mataku yang tadi tidak begitu kurapatkan demi melihat wajahnya yang selalu membuatku kesal, ekspresi sebal itu lagi yang aku lihat di wajahnya. “Wae ? Apa maksudmu ?”

“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu, apa maksudmu tidur setelah selesai makan ? Kau ingin badanmu menjadi sebesar Gorila, huh ?”

“Kau berlebihan, tidak ada yang seperti itu” bantahku sambil berbalik memunggunginya. Tapi dengan cekatan ia segera mencegahku. Haishhh…. benar-benar mengganggu ketentraman orang. “Yak, sebenarnya kau ini mau apa ? Tidak cukupkah tadi kau sudah mengganggu waktu tidurku ?” bentakku kesal.

“Tidur ?” tanyanya tak percaya. Seolah kata itu merupakan kata terlarang untukku. Berlebihan sekali ekspresinya. “Kau tidak lihat ini sudah jam berapa ? Kau bukan beruang yang sedang berhibernasi Tn. Cho. Fungsiku disini juga bukan untuk memandikanmu, memberimu makan, lalu membiarkanmu tidur. Dan yang harus kau tahu, hobi tidurmu yang menggila itu, akan semakin membuat saraf-saraf dalam tubuhmu semakin melemah.” Jelasnya panjang lebar. Cih, memangnya aku perduli dengan semua ucapannya itu.

Jinja Tn. Cho, apa kau benar-benar tidak ingin sembuh ?” ia terlihat sangat kesal dengan tingkah diamku yang tidak menggubris ucapannya.

“Memangnya apa yang mau kau lakukan ? Menyiksaku dengan terapi yang membuat kakiku nyeri sepanjang hari ? Itu kan maksudmu ?” tanyaku kesal. Aku ngeri membayangkan akan melakukan terapi yang sangat menyiksa itu. Dipaksa belajar berjalan disaat kakimu benar-benar kaku bukanlah hal yang menyangkan. Dan aku tidak ingin merasakannya lagi, terapis-terapis sialan itu tidak pernah bisa mengerti rasa sakit yang aku rasakan. Mereka selalu berkata itu adalah respon tubuhku yang sedikit terkejut dan akan membaik seiring berjalannya waktu. Omong kosong, mereka bisa berkata seperti itu karena bukan mereka yang berada diposisiku. Aku memandang tajam yeoja ini, akankah ia juga melakukan hal yang sama.

Ia menarik nafas pelan, berusaha mengerti ketakutanku. Ia memandangku lembut, ekspresinya sudah tidak sekeras tadi. Tapi aku tidak suka, “Jangan memandangku seperti itu ! Aku tidak butuh dikasihani” hardikku.

Ia menaikan sebelah alisnya, hilang sudah pandangan lembutnya tadi. Kini ia kembali mencibirku “Aku ? Mengasihanimu ? Cih, aku rasa kepercayaan dirimu itu perlu sedikit dikurangi Tn. Cho. Masih banyak diluaran sana orang yang butuh aku kasihani. Untuk apa aku mengasihani orang sepertimu. Yang bahkan tidak kasihan dengan dirinya sendiri”

“Apa maksudmu ?”

Senyum sinis kembali menghiasi wajahnya “Apa namanya jika kau tidak ingin sembuh dari kelumpuhanmu ? Bukankah itu tandanya kau tidak menyayangi tubuhmu ? Kau lebih suka melihat tubuhmu teronggok tak berdaya. Kau tidak ingin orang lain mengasihani dirimu, sementara kau sendiri yang membuat mereka mengasihanimu dengan ketidak berdayaanmu. Apa kau tidak pernah berpikir untuk keluar dari ketidak berdayaan itu ? Terlalu disayangkan Tn. Cho, jika masa mudamu hanya bisa kau habiskan dengan meringkuk dikursi roda. Tidakkah itu terlihat menyedihkan ?” sialan, semakin pedas saja kata – katanya.

Ha Won Pov.

Aku paling tidak suka melihat pasien yang tidak mempunyai keinginan untuk sembuh. Tidak pernah mau dikasihani, tapi membuat diri mereka sendiri layak untuk dikasihani. Memang tidak mudah menjadi terapis seperti ini, terlebih untuk penderita lumpuh seperti mereka. Selain kondisi fisiknya yang harus kita sembuhkan. Yang tak kalah penting adalah kondisi psikisnya. Mental mereka yang selama ini sempat down karena trauma saat menerima kenyataan mereka lumpuh. Rasa ketergantungan terhadap bantuan orang lain karena tidak bisa melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri. Perasaan itu akan membuat mereka membenci diri mereka sendiri, karena merasa menjadi manusia yang tidak berguna, menjadi beban.

Dan pemikiran seperti inilah yang harus dirubah. Kita harus bisa menimbulkan motivasi dalam diri mereka sendiri dan meyakinkan mereka bahwa mereka juga masih bisa sembuh. Masih bisa melakukan segala hal sendiri. Tapi tentu saja itu tidak mudah, kita harus benar-benar membuktikan jika mereka masih bisa diterima dalam masyarakat umum tanpa mendapat cemoohan atau pandangan kasihan. Melihat bagaimana sikap namja ini terhadap lingkungan disekitarnya sepertinya itu bukan hal yang mudah. Hufh, tapi aku tidak akan menyerah pada sikap menyebalkan namja ini.

Ia masih memandangku dengan ketidak sukaan yang sangat nampak dari wajahnya. Aku yakin ia mengerti dengan ucapanku tadi “Tenang saja Tn. Cho. Jika yang kau maksud terapi menyiksa yang seperti tadi kau bilang, sangat menyakitkan. Aku memang tidak bilang terapi ini akan mudah. Tapi aku berani menjamin, rasa sakit ini tidak akan seperti yang pernah kau alami.”

“Apa yang membuatmu yakin, aku akan mempercayai ucapanmu ?” tanyanya tidak percaya.

Aku tersenyum “Kita lihat saja nanti” ujarku sambil berjalan keluar menuju kamarku untuk membawa semua perlengkapan yang biasa kugunakan untuk melakukan terapi.

Aku kembali ke kamar namja itu dengan membawa tas besar yang lumayan berat. Lalu kembali lagi kekamarku untuk mengambil beberapa alat yang lebih besar yang biasa dipakai untuk berjalan. Kupindahkan semua peralatan yang menunjang pekerjaanku ke kamar namja itu. Dan apa yang ku lihat ? Kenapa namja itu menampakan wajah horor saat melihat peralatan yang ku bawa. Wajahnya kini sedikit memucat. Astaga jangan bilang dia trauma dengan peralatan ini. Karena itu akan semakin mempersulit perkerjaanku. Aku harus menepis semua pemikiran apapun yang ada dikepala namja itu terhadap peralatan ini

“Astaga, ada apa dengan wajahmu ? Kenapa pucat begitu ?” ia hanya menggeleng pelan. Terlihat sekali ia berusaha tidak melihat alat ini. Alat yang biasa digunakan untuk belajar jalan bagi pasien lumpuh. Alat itu memang sangat sederhana, tapi tidak sesederhana fungsinya. Alat sepanjang 2 meter yang terbuat dari sejenis besi ringan yang bisa dibongkar pasang, yang akan dipasang dengan jarak lebar 1 meter. Gunanya hanya untuk berpegangan bagi pasien saat belajar menggerakan kakinya kembali. Tapi karena tahap inilah yang amat sulit dalam proses terapi ini, sehingga sering menjadi momok tersendiri bagi para pasien.

“Kita tidak akan menggunakan ini sekarang Tn. Cho. Kau tenang saja, jangan tegang begitu. Kau ini, membuatku takut saja. Sudah jangan dilihat alat-alat itu” ujarku berusaha menenangkannya, aku segera menyingkirkan peralatan itu ke sudut kamar yang tidak terjangkau pandangannya. Ia terlihat menarik nafas lega. Sebegitu traumakah ia dengan alat itu ? Atau mungkin ada salah satu trapisnya yang telah membuatnya seperti ini ?

Aku kembali mendekatinya yang kini masih berbaring di ranjang. Menyingkap selimut yang membungkus tubuhnya. Namja ini benar-benar seperti beruang yang hendak berhibernasi saja. “Kau mau apa ?” tanyanya tidak suka. Aku tak menjawab, kulipat selimutnya dan meletakkannya di samping kakinya. Ia masih menunggu apa yang akan aku lakukan padanya.

Aku duduk disamping kakinya, menaikan celana pendek yang ia kenakan sedikit lebih keatas lutut. Haish, kenapa bulu kakinya lebat sekali, membuat geli saja. Ck, terserahlah. Lalu membalur tanganku dengan minyak khusus yang biasa aku gunakan untuk memijat pasienku. Dan mulai menggerakkan tanganku untuk memijat kakinya yang ternyata sangat kaku. Astaga berapa lama namja ini tak pernah mencoba menggerakkan kakinya. Hingga semua otot-otot kakinya terasa kaku seperti ini. Aku benar-benar harus membuat otot-ototnya kembali lemas, agar memudahkan saat nanti digunakan untuk belajar berjalan. Ia mencoba rileks saat merasakan pijatanku di kakinya. Aku sekalian mencoba mengecek tulang kakinya, adakah kiranya yang masih terasa patah atau belum tersambung sempurna pasca kecelakaannya setahun lalu ?

Dan menurut pemeriksaan fisik yang aku lakukan melalui pijatan ini sepertinya sudah tidak ada masalah, ya mungkin tinggal menunggu hasil ronsennya saja agar lebih akurat. Tapi untuk ukuran patah tulang akibat kecelakaan kondisi namja ini sudah bisa dibilang cukup membaik. Mengingat ia sudah sempat ditangani beberapa terapis sebelum aku. Yah, bisa di bilang hanya tinggal pelatihan untuk berjalan saja, tapi mungkin karena rasa sakit yang sempat ia rasakan yang membuatnya tidak mau kembali melanjutkan terapi. Sehingga menyebabkan otot-otot kakinya kembali kaku. Namja ini benar-benar harus dibuat mau melaksanakan terapi ini, karena aku yakin jika dia mau rajin berlatih tidak lama lagi ia akan bisa kembali berjalan.

“Pijatanmu enak” komentarnya sambil memejamkan mata. Menikmati pijatanku.

“Tentu saja, tapi satu hal yang harus kau tahu. Pijatan ini bukan sebagai pengantar tidurmu Tn. Cho. Jadi buka matamu !” enak saja, aku memijatnya sedangkan ia tertidur “Kau bisa menjerit jika terasa sakit, karena otot-otot kakimu ini sangat kaku jadi mungkin akan terasa sakit saat aku akan melemaskan otot yang teramat kaku.”

“Tidak sakit kok” balasnya.

“Ck, kau ini. Aku bilangkan nanti jika terasa sakit” ia hanya tersenyum saat melihatku sebal dengan ucapannya.

Tepat beberapa detik kemudian ia memekik kuat “AAAARRGGGHHH,,,, SAKIT !!! Kau ingin membalasku ya ? Kenapa sekarang pijatanmu terasa sakit”

“Aku sudah memperingatkanmu kan tadi ? Kau saja yang tidak tanggap. Dan aku bukannya ingin balas dendam, tapi bagian betismu ini memang tegang sekali. Nah, terasakan saat kupijat seperti ini ?” tanyaku sambil memijat bagian yang ku maksud.

“AAAARRRGGGHHH,,, terserahlah yang pasti lakukan apapun agar tidak terasa sakit” ucapnya sambil menahan sakit dikakinya. Kini tubuhnya semakin menegang, dan itu berdampak buruk bagi kakinya, otot itu akan semakin tegang jika dia mengeraskan badannya begitu.

“Lemaskan badanmu Tn. Cho. Jika kau seperti ini, maka otot-otot kakimu akan semakin tegang, dan kau akan semakin merasa sakit. Rileks saja okay ? Tenang. Tarik nafas, lemaskan badanmu.” Ia mencoba mengikuti instruksiku. Tapi sepertinya sulit.

“Rileks kepalamu. Ini sangat sakit, kau tahu ? Sudah hentikan. Aku tidak mau kau pijat lagi. Berhenti !!! ” perintahnya saat aku masih memijat kakinya.

“Tidak. Sampai kapanpun kakimu tidak akan bisa dipakai berjalan jika semua otot-otot kakimu tegang begini. Bagaimana kau bisa belajar berjalan dengan kaki yang kaku seperti ini. Tahan sebentar, sakitnya ini tidak akan lama,” ujarku masih sambil memijat betisnya.

“AAAARRGGGHHHHS SAAAKIIIITTT…. sungguh nona Jung. Ini benar-benar sakit. Aku tidak mau. Kau ini berniat memijatku atau menyiksaku huh ?” protesnya kesal karena aku tak juga menghentikan kegiatanku.

“Diamlah Tn. Cho. Kau ini berisik sekali. Hentikan rengekanmu dan biarkan aku melanjutkan pekerjaanku” balasku. Dia kira hanya dia saja yang panik. Aku juga panik, karena jika dia terus bergerak seperti ini yang ada aku bisa salah memijat kakinya. Dan itu akan berakibat fatal baginya.

“Merengek ? “ tanyanya tak percaya, sambil masih menahan sakit dikakinya. “Kau kira aku bocah ?”

“Kau bahkan lebih parah dari bocah Tn. Cho.” Ia mendelik marah kearahku sambil masih meringis menahan sakit.

Author Pov

Kyuhyun meraih bantal disamping kepalanya. Mendekap bantal itu sekuat yang ia bisa untuk menahan rasa sakit dikakinya.

“Kapan terakhir kali kau diterapi ?” tanya Ha Won sambil memijat kaki Kyuhyun, kini ia pindah ke kaki yang satunya.

Kyuhyun menurunkan bantal yang tadi ia pakai untuk menutupi wajahnya saat menahan sakit. “Entah, aku lupa. Mungkin 2 atau 3 bulan yang lalu. Wae ?” tanyanya. Sebelum tubuhnya kembali menegang saat kembali merasakan sakit di kakinya.

“Tenang. Jika terasa sakit kau ikuti saja rasa sakitnya. Maka kau akan merasa lebih baik, jangan kau lawan rasa sakitnya. Ikuti saja, taris nafas, hembuskan, tarik lagi, hembuskan”

“Aku bukan ingin melahirkan bodoh.” Ucapnya, tapi ia tetap mengikuti apa yang Ha Won katakan.

“Nah, merasa lebih baikkan ? Rileks saja Tn. Cho terapi itu tidak semengerikan yang kau kira, asal kau benar-benar menjalankannya sesuai dengan prosedur.” Ucap Ha Won, sedikit merubah pemikiran namja ini. Walau bagaimanapun sugesti seperti ini penting agar pasien tidak menganggap terapi sebagai sesuatu yang menakutkan.

Satu jam sudah Ha Won melakukan pijatan pada kedua kaki Kyuhyun. Untuk hari ini sepertinya sudah cukup. Pikirnya. Terlebih saat melihat Kyuhyun masih memeluk bantalnya dengan begitu erat. Cih, berlebihan sekali. Batin  Ha Won saat melihat tingkah Kyuhyun.

“Sudah selesai” ucap Ha Won, ia menurunkan kembali celana Kyuhyun yang tadi ia singkap keatas. Lalu menyelimuti tubuh Kyuhyun, yang sudah kembali rileks. “Istirahatlah. Masih ada satu jam lagi sebelum makan siang. Tidur sejenak, bisa sedikit melemaskan otot-ototmu yang lumayan tegang.”

“Benarkah ? Kau mengijinkanku tidur ? Kau tidak berencana membunuhku saat aku tertidurkan ?” sindir Kyuhyun.

Ha Won memandanganya malas “Sebenarnya itu ide yang sangat menarik. Tapi sepertinya ibumu masih menyayangimu, jadi mungkin sekarang aku akan sedikit berbaik hati mengijinkanmu tidur” jawabnya cuek, sebelum berlalu ke kamar mandi untuk mencuci tangan.

***

“Kenapa rapih sekali ?” tanya Kyuhyun heran, pada suatu sore saat Ha Won memakaikannya celana panjang dan sweater, bukan piyama tidur seperti biasanya. Sudah beberapa hari sejak pertama datang, Ha Won memang membuktikan ucapannya, ia benar-benar mengurus semua keperluan Kyuhyun. Rasa canggungnya sudah sedikit berkurang.

“Kita akan ke taman” jawab Ha Won singkat. Sambil membantu Kyuhyun duduk di kursi rodanya.

Mwo ???” tanya Kyuhyun histeris. Beruntung ia sudah duduk, jika tidak mungkin tubuhnya akan segera limbung karena terkejut. Wajahnya menegang mendengar jawaban Ha Won. “Kau gila ya ?” lanjutnya sedikit panik.

Ha Won mengerutkan kening, heran dengan respon pasiennya ini. Adakah kalimatnya yang tidak dapat dimengerti ? Kenapa pasiennya bisa histeris dan sedikit panik begitu. “Wae ? kenapa kau panik begitu ? Ada yang salah ?”

“Kau ! Kau sengaja ingin mempermalukanku kan ?” tuduh Kyuhyun dengan nafas memburu karena kesal dan panik. Kenapa ? Karena selama ini muncul didepan umum dengan kondisinya seperti saat ini adalah hal yang paling ia hindari. Lebih baik ia membusuk di kamarnya dari pada harus di cemooh orang-orang diluaran sana karena keadaannya. Sungguh, ia amat ngeri jika membayangkan pandangan orang-orang yang akan memandangnya kasihan, jijik, atau mungkin cemoohan. Berlebihan memang. Tapi itulah bayangan yang selama ini bersarang dipikirannya semenjak kecelakaan itu. Ia benar-benar menutup diri dari dunia luar.

Ha Won menarik nafas pelan, mencoba mengerti keadaan pasiennya. Ia tahu Kyuhyun sedang menghindar dari dunia luar. Tapi ini tidak bisa dibiarkan, Kyuhyun akan selamanya terpuruk dengan ketakutannya dengan pandangan orang terhadap keadaannya. Ia benar-benar harus bisa merubah pemikiran namja ini. Harus. Karena lingkungan sosial juga akan berpengaruh terhadap keadaan psikisnya. “Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu ?”

“Sudah pasti. Kalau tidak, untuk apa kau mengajakku ketempat umum ?”

Ha Won melipat tangan didada sambil membalas tatapan kesal Kyuhyun “Ck, kenapa pikiranmu picik sekali sih. Tidakkah kau ingin menghirup udara segar ?”

“Tidak. Jika untuk itu, aku harus mendapat pandangan menyedihkan dari orang-orang”

“Dan apakah kau sudah pernah membuktikan kata-katamu itu ?”

Mwoya ?”

“Mendapat pandangan menyedihkan dari orang-orang ?”

Kyuhyun tersenyum sinis, sebelum menjawab “Aku tidak akan membiarkan itu terjadi”

Ha Won mendecak kesal mendengar ucapan pasiennya ini. “Nah kan ? Itu hanya pemikiranmu saja Tn. Cho. Bagaimana kita bisa tahu jika belum mencobanya ? Dan lagi, apa yang membuatmu berpikir orang-orang itu mau memperdulikan keadaanmu ?”

“Tentu saja. Apa lagi yang bisa dilakukan manusia, selain mengejek kekurangan manusia lainnya. Dan aku tidak akan pernah membiarkan diriku mendapat ejekan, apapun itu.”

“Astaga, tidakkah rasa percaya dirimu itu terlalu berlebihan ? Memangnya mereka tidak punya urusan penting lain, hingga mau susah-susah mengejekmu seperti yang kau takutkan ?” ucap Ha Won, yang kesal dengan kata-kata Kyuhyun. Bagaimana mungkin namja itu bisa berpikiran sedangkal itu. Ya, walaupun yang dia ucapkan tidak sepenuhnya salah. Tapi tidakkah itu berlebihan ? Ha Won mendekat kearahnya “Aku tidak menyangka jika kau termasuk namja yang bisa dibilang, pe-nge-cut !” lanjutnya tepat ditelinga Kyuhyun. Sengaja mengeja kata terakhirnya.

Kyuhyun sontak mengendikan bahunya, saat merasakan nafas yeoja itu sedikit menerpa kulitnya. “Kau !” geramnya saat Ha Won sudah menjauhkan wajahnya. Yeoja ini benar-benar sangat ahli dalam hal memancing emosinya. Pikir Kyuhyun.

Ha Won hanya menanggapinya dengan cuek, ia sengaja memancing emosi namja ini agar mau mengikuti ucapannya. Seorang namja, akan amat sangat pantang untung di tantang. Dan ia harap itu juga berlaku pada namja manja didepannya ini.

“Terserah apa katamu, aku tidak akan mau keluar” tolak Kyuhyun. Berusaha tidak terpancing, walau ia sadari itu agak sedikit sulit.

Ha Won benar-benar merasa kesabarannya hampir menipis menghadapi namja ini. Kenapa hanya ingin membawanya keluar saja begitu sulit ? “Jinja Tn. Cho. Apa kau tidak jenuh berbulan-bulan tertahan di ruangan ini ? Aku heran, kenapa sampai saat ini tubuhmu belum berlumut, mengingat kau bahkan tidak pernah mendapatkan cahaya matahari dan udara segar.”

“Katakan sesukamu nona Jung. Dan aku akan tetap dengan pendirianku. Jika kau ingin keluar, keluarlah. Tapi jangan harap kau bisa membawaku juga.” Ujar Kyuhyun, sambil menggerakan kursi rodanya menjauhi Ha Won.

Yeoja itu tersenyum licik seraya berjalan mendekati Kyuhyun, dan langsung menangkap pegangan pada bagian belakang kursi roda itu. Membuat kursi itu berhenti bergerak, ia membungkukan badannya, mendekatkan bibirnya ketelinga Kyuhyun. “Dan apa kau pikir aku peduli dengan penolakanmu Tn. Cho. ? Aku tahu kau pengecut, tapi asal kau tahu. Aku paling tidak suka dibantah” bisiknya pelan sambil melingkarkan sebuah Syal dileher Kyuhyun. Namun bisikan itu, cukup membuat Kyuhyun bergidik geli.

“Kau benar-benar mengerikan nona Jung” umpatnya kesal.

“Pujian yang sangat manis Tn. Cho” balas Ha Won tak perduli. “Kajja !” lanjutnya, dan segera mendorong kursi roda itu kearah pintu.

“Tidak-tidak. Aku tidak mau. Kau ini tuli ya ? Sudah berapa kali kubilang aku tidak mau. Bagaimana sih berkomunikasi denganmu agar kau mengerti, jika aku tidak mau keluar. Hentikan !” perintah Kyuhyun dengan  suara nyaring. Ia benar-benar kesal dengan yeoja ini, yang seenaknya saja melakukan apapun terhadapnya. Ia bukan boneka yang bisa diperlakukan seenaknya. Yeoja ini memang terapisnya, tapi bukan berarti bisa bertindak semaunya. Maki Kyuhyun dalam hati. Ia menahan laju kursi roda itu dengan tangannya.

“Tidak akan !” balas Ha Won “Aku akan membuktikan kepadamu bahwa semua pemikiran yang selama ini bersarang dikepalamu itu salah. Kita lihat apa akan ada manusia yang kau bilang akan mengejekmu ? Kalau sampai ada yang seperti itu aku sendiri yang akan menyumpal mulutnya. Jadi sekarang lebih baik kau bersikap kooperatif, sebelum aku menyumpal mulut berisikmu itu lebih dulu.” Ancam Ha Won tanpa mempedulikan umpatan Kyuhyun.

“Tapi…” Kyuhyun masih terdengar ragu.

Ha Won berusaha menguasai kekesalannya, menarik nafas sejenak “Baiklah Tn. Cho. Mungkin ini akan membuatmu sedikit tenang.” Ucapnya pelan “Aku berjanji jika kali ini ada satu orang saja yang mengejek, menghina, mencemooh, atau apalah itu kepadamu. Maka ini akan menjadi yang pertama dan terakhir kalinya aku membawamu keluar rumah.     Bagaimana ?”

Kyuhyun terlihat sedikit berpikir. Sebenarnya ini bukan ide yang bagus menurutnya, karena yang ia mau tidak perlu keluar sama sekali. Tapi mengingat sifat yeoja ini yang akan melakukan apapun yang dia anggap layak, maka akan sangat sulit membantahnya. Dan sepertinya permainan ancam-ancaman sangat tidak berlaku bagi yeoja ini. Hufh, Kyuhyun menarik nafas dalam.

“Baiklah, aku ingin membuktikan ucapanmu” ucap Kyuhyun yang terdengar putus asa. Percuma, pikirnya. Seperti apapun dia menolak, tidak akan merubah apapun.

Ha Won tersenyum simpul mendengarnya. Tanpa berkata, ia mendorong pelan kursi roda yang Kyuhyun gunakan melaju meninggalkan kamar. Ia menuju sebuah alat yang sengaja di pasang oemma Kyuhyun untuk mempermudah gerak putranya. Sebuah alat semacam lift kecil. Dengan tombol yang akan menggerakan alat itu ke lantai atas dan bawah. Karena tidak mungkin Kyuhyun menggunakan tangga dengan memakai kursi roda.

Ha Won Pov

Hufh, aku menarik nafas lega. Akhirnya berhasil juga memaksa namja ini keluar. Aku saja yang melihatnya mendekam di kamar merasa jengah, hanya dia dan Tuhan yang tahu apa yang dia rasakan selama ini.

Kami sudah sampai di taman yang tidak jauh dari rumahnya, sore hari di saat musim semi seperti ini taman akan sangat ramai. Aku bisa merasakan ketegangan Kyuhyun, sejak keluar dari pintu gerbang rumah tadi. Badannya terlihat sangat kaku, tangannya yang memucat mencengkram erat tangan kursi rodanya. Astaga, namja ini benar-benar berlebihan. Aku mencondongkan sedikit badanku agar mendekat ketelinganya “Rileks Tn. Cho. Kau bukannya akan kumasukan ke dalam lubang buaya. Hilangkan keteganganmu jika tidak ingin menjadi pusat perhatian” bisikku pelan.

Ia tidak menjawab, ataupun membantah. Entah karena terlalu tengang atau memang tidak ingin mencari masalah didepan umum, sehingga ia menuruti ucapanku. Ia menggerakan bahunya pelan, berusaha terlihat santai. Mesti kulihat dari samping wajahnya masih terlihat sedikit tegang. Matanya terus melirik orang-orang yang lalu-lalang di sekitar kami. Sejauh ini tidak ada yang memperdulikan kehadiran kami, semua sibuk dengan urusannya sendiri. Ada yang asyik bercengkrama dengan keluarga, atau sekedar duduk bersama teman atau kekasih, dan berbagai kegiatan ceria lainnya. Aku membawa Kyuhyun, menuju kursi taman yang terlihat kosong. Berjalan dari rumahnya ke taman ini lumayan juga, meski tidak terlalu jauh. Aku duduk sejenak di kursi itu, membiarkan Kyuhyun memperhatikan kegiatan disekitarnya. Kini wajahnya sudah tidak terlihat setegang tadi. Bahkan terkadang tersungging sedikit senyum diwajahnya saat melihat bocah-bocah yang sedang berlarian tak jauh dari kami. Aku juga ikut tersenyum melihat perubahannya. Sepertinya ketakutannya sedikit berkurang, semoga ini akan menjadi awal yang baik. “Kau mau sesuatu ?” tawarku sambil melihat banyaknya penjual makanan yang berjejer rapih di kios-kios yang ada di pinggir taman.

Ia menoleh kearahku “Apa ?”

“Terserah kau mau apa ? Eskrim, balon, atau permen kapas mungkin ?” ledekku. Aku harus menggigit bibirku demi menahan tawa yang ingin keluar saat ia membulatkan matanya mendengar pertanyaaanku.

“Sialan, kau kira aku sama seperti mereka” ujarnya sambil memandang anak-anak yang sejak tadi menarik perhatiannya.

“Aku hanya bercanda Tn. Cho. Kau ini sensitif sekali sih. Jadi kau mau apa ? Kopi ? Teh ? Snack mungkin ?”

“Kopi saja, dengan krim dan tanpa gula”

Aku menganguk sebelum bangkit dari dudukku. “Baiklah, kau tunggu sebentar disini dan jangan kemana-mana !”

Ia mencibir mendengar ucapanku “Kau pikir apa yang bisa kulakukan dengan kondisi seperti ini ? Melanglang buana sambil menggoda para yeoja ? begitu ?”

Aku hanya mengangkat bahu pelan ‘Yah, mungkin saja kau ingin menggoda halmeoni yang duduk disana “ balasku sambil mengedikan dagu kearah seorang nenek yang sedang duduk sambil memperhatikan cucunya bermain.

Kyuhyun memutar bola matanya, malas menanggapi ucapanku. Aku segera berlalu menuju salah satu kios.

Kyuhyun Pov

Hahhhh, benar kata yeoja cerewet itu. Ternyata dunia luar tak semengerikan yang ada dipikiranku, sudah berapa lama aku terisolir ? Atau lebih tepatnya mengisolirkan diri dari dunia luar. Aku benar-benar merindukan lingkungan seperti ini. Melihat bocah-bocah itu bermain riang membuat sebagian hatiku merasa tentram. Tawa polos dan kecerian itu, itu sungguhan. Bukan tawa palsu atau mengada-ada. Aku memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang disekitarku, waspada jika ada yang akan memperhatikanku. Tapi nyatanya mereka tidak ada yang perduli. Seperti kata terapisnyaitu, mereka terlalu sibuk dengan urusannya masing-masing hingga tak memperdulikan orang-orang disekitarnya.

Ku lihat terapisku itu, sedang berjalan dengan dua cup di kedua tangannya. Yang aku tahu salah satunya adalah Kopi pesananku. Ia segera menghampiriku, menyerahkan cup yang ada di tangan kanannya.

“Kau minum apa ?” tanyaku sekedar mencari topik obrolan. Saat melihat ia menyesap minumannya,

“Teh” jawabnya singkat. Ck, kenapa giliran aku yang memulai dia menjawabnya sedikit sekali. Baru aku ingin bicara lagi, saat ponselnya tiba-tiba berbunyi. Ia segera memeriksa ponselnya. Wajahnya berubah sumringah saat melihat nama yang tertera pada layar ponselnya.

“Tn. Cho. Aku permisi sebentar” ujarnya beranjak pergi meninggalkanku, lagi. Siapa sih yang menelponya ? Kenapa wajahnya terlihat senang sekali. Mencurigakan. Mungkinkah sipenelpon itu kekasihnya ?

Aish, sejak kapan aku jadi suka mengurusi urusan orang lain ? Apa peduliku dengan siapa dia berbicara. Aku membuang pandanganku kearah lain, mencoba mencari sesuatu yang menarik. Tapi sepertinya kepalaku ini sedang tidak beres, karena dengan sendirinya mengarahkan pandanganku kembali ke arah yeoja itu. Ia terlihat senang sekali. Dan, dia tertawa ?

Sungguh, aku harus mengerjapkan mataku beberapa kali demi melihat  tawa indahnya. Suara tawanya renyah sekali, lembut dan tidak memekakan telinga. Sangat berbeda dengan suaranya saat berbicara denganku. Ck, kenapa aku merasa ada sebagian diriku yang terusik dengan tawa itu ? Pasti ada yang salah dengan diriku.

Sepertinya acara menelponnya sudah selesai, ia kembali menghampiriku. “Nugu ?” tanyaku spontan. Shit, ada apa dengan bibirku ? Kenapa bisa bekerja diluar kendali seperti ini ?

Ia mengerutkan kening memandang ku heran, seolah aku baru saja menanyakan bagaimana bumi bisa berbentuk bulat ? Haisshhh,,, memalukan. Apa yang harus aku jelaskan.

Mwoya ?” tanyanya bingung.

Haruskah aku menjawabnya ? Kenapa tidak dia saja yang langsung menjawab pertanyaanku, bukannya malah bertanya balik seperti ini, memusingkan saja.

“Siapa yang baru saja menelponmu ?” jelasku, bukannya menjawab yeoja ini malah senyum-senyum tidak jelas. “Kekasihmu ?” tebakku. Hei, kenapa lagi-lagi bibirku bersuara sesukanya ? Aku benar-benar harus mengontrol bibirku, agar tidak bicara semaunya lagi. Kurapatkan bibirku, menahan kata yang mungkin saja akan terucap tiba-tiba.

“Untuk apa kau bertanya seperti itu ?” tanyanya lagi. Aigooo,,, yeoja ini tidak bisakah menjawab saja pertanyaanku ? Kebiasaan lain yang aku benci dari dirinya adalah suka sekali jika di tanya, bukannya menjawab justru balik bertanya.

“Hanya ingin tahu, apa tidak boleh ?”

“Tidak. Karena itu bukan urusanmu” nah kan ? Sekalinya menjawab maka jawaban yang keluar dari bibirnya pasti selalu kata-kata yang menyulut emosi. Apa susahnya sih, menjawab iya atau tidak ? Kenapa malah rahasia-rahasia seperti ini. Menyebalkan !

“Ayo kita pulang, sepertinya sudah cukup untuk hari ini. Dan kurasa, kau sudah bisa menarik kesimpulan bukan ? Bahwa semua pemikiranmu selama ini, amat sangat salah.” ujarnya seraya beranjak kebelakangku. Kemudian mendorong kursi rodaku bergerak meninggalkan taman, tanpa menjawab pertanyaanku.

Author Pov

Ha Won sedang bersandar pada kepala tempat tidurnya. Sejak pulang dari taman tadi, tak hentinya senyum tersungging di bibir indah Ha Won. Kenapa ? Karena benar seperti dugaan Kyuhyun tadi. Yang menelponnya adalah sang kekasih. Sudah beberapa hari ini, komunikasinya dengan sang kekasih sedikit terganggu. Karena kesibukannya dan kekasihnya yang seorang dokter dan juga dosen di sebuah Universitas ternama di seoul. Perbedaan jarak saat ini, dimana kini ia berada di Busan dan sang kekasih di Seoul. Sedikit banyak juga mempengaruhi hubungan mereka. Mengingat itu akan semakin mempersulit pertemuan mereka.

Tapi Ha Won, tak perlu merasa khawatir. Ia percaya dengan kekasihnya. 2 tahun menjalin hubungan, membuat mereka cukup mengenal pribadi masing-masing. Meski masih ada sesuatu yang sangat mengganjal dihatinya. Karena hingga saat ini kekasihnya itu belum pernah sekalipun memperkenalkan Ha Won kepada keluarganya. Apakah pria itu malu dengan keadaannya, yang hanya seorang anak panti ?

Tapi Ha Won tidak mau berpikiran negatif terhadap namja-nya. Mungkin kekasihnya itu masih menunggu waktu yang tepat. Pasti begitu, pikirnya mencoba meyakinkan diri sendiri. Ia menatap wallpaper ponselnya yang menampilkan dirinya sedang dirangkul mesra seorang namja tampan berlesung pipi. Baru saja beberapa menit yang lalu, ia berbincang lagi dengan namja-nya. Tapi ia sudah kembali merindukan suaranya. Iya tersenyum, masih dengan pandangan ke arah layar ponselnya. Sungguh, ia benar-benar merindukan namja itu. Rasanya mendengar suaranya saja tidak cukup. Ia butuh sosoknya, sosok gagah namja-nya.

“Aku masih merindukanmu oppa.” Ucapnya sambil mengelus layar ponselnya, mengelus foto lesung pipi namja itu. “Ah, mungkin aku bisa meminta hari libur. Aku benar-benar ingin bertemu denganmu oppa. Bogoshipo…”seperti orang bodoh, ia mencium singkat layar ponselnya.

***

“Aku tidak perduli apapun alasanmu. Yang aku mau, siang ini juga kau harus kerumahku. Atau kau akan menyesal nantinya !”

KLIK

Kyuhyun memutuskan sambungan telponnya pada seseorang, tepat saat Ha Won memasuki kamarnya dengan membawa baki berisi makanan lengkap. Ini sudah waktunya makan siang. Yeoja itu duduk di samping Kyuhyun, meletakan baki itu di pangkuannya. Dan memulai rutinitasnya, yakni menyuapi sang pasien makan. Kini ia sudah menganggap itu hal yang wajar, dan wajahnya tidak menampilkan ekspresi terpaksanya itu lagi. Dan entah mengapa, itu sedikit membuat Kyuhyun lega.

Ia kembali membuka mulutnya lebar, saat Ha Won menyuapkan makanan. Sepertinya ia mulai terbiasa dengan kehadiran yeoja ini. Terapisnya kali ini sangat berbeda dengan beberapa terapis sebelumnya. Selain karena kali ini terapisnya yeoja, faktor lainnya yaitu yeoja ini bisa membuat hari-harinya lebih hidup dan berwarna dengan segala macam perdebatannya. Dan kini Kyuhyun sudah menganggap perdebatan itu menjadi sesuatu yang menyenangkan. Dan akan sangat aneh, jika satu hari saja ia dan terapisnya ini tidak berdebat.

Ha Won meletakan baki berisi piring kotor tadi ke tempat pencucian piring. Keadaan rumah beberapa hari ini kembali sepi. Tuan dan Nyonya Cho sudah kembali berkutat dengan pekerjaannya di Seoul. Kim ahjuma sedang beristirahat pada jam segini, dan Yong Joon belum pulang dari sekolahnya.

Ha Won baru saja hendak mencuci piring tersebut, saat tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara bell pintu. Siapa yang bertamu siang-siang begini ? Tanyanya serasa melap tangannya yang sudah terlanjur basah, pada lap tangan yang terletak di samping tempat pencuci piring itu.

Ia segera berjalan cepat menuju pintu, karena sepertinya tamu ini tidak sabaran sekali. Tidak cukupkan hanya memencet bell beberapa kali saja ? Kenapa harus berkali-kali seperti itu. Membuat berisik saja, umpat Ha Won sambil membuka kunci pintu itu.

Baru saja ia ingin memberi peringatan kepada sang tamu saat pintu telah terbuka, tapi fokus matanya segera teralih kepada penampilan yeoja yang merupakan tamunya ini. Ia menatap aneh yeoja tersebut. Ini musim semi kan ? pikirnya. Tapi kenapa yeoja ini memakai pakaian seperti saat musim panas ? Lebih banyak bagian yang terbuka dari pada yang tertutupnya. Apa ia tidak merasa udara lumayan dingin ? pikir  Ha Won lagi. Ia masih begong melihat yeoja dihadapannya ini.

Yeoja itu bersedekap dan mengangkat dagunya, menanggapi tatapan bingung Ha Won.

“Mana Cho Kyuhyun ?”

 

 

 

TBC

 

 

 

Hello.. Hello… Helloooooo

Masih adakah yang ingat dengan FF ini ? Semoga masih ada yang berminat membacanya ya. Heheeheee……

Otthoke ? Otthoke ? Otthoke ???

Ini sudah part 2 tapi masih aneh aja jadinya…

Mianhae kalo feelnya kagak dapet, konfliknya kagak ada atau ceritanya kagak nyambung.

Yach, apa mau dikata ? Kemampuan saiia memang baru sebatas ini, jadi mesti harus banyak belajar lagi neh. But, semoga FF ini masih cukup layak untuk sekedar menghibur ya. *ngarep

Hohoho….

Oceyyy…

Saiia mau lanjut belajar dulu…

ByeByeBye….

Jung Ha Won

98 thoughts on “The Bad Patient Part 2

  1. wahh eonn aku suka nih sama karakter ha won disini walaupun kyuhyun oppa sering nyerang ha won pke kta” ksar pi ha won bles lagi ucapan kyuhyun oppa . . .

  2. emank therapys krjanya kya gtu y eon,enak donk kalo pasien nya kaya bang kiyu,,, haha jdi kepengen jadi therapys jga,,,

  3. Kyuhyun jg udh punya pacar????
    sepertinya bakal ad yg sakit hati ni si ha won…gara2 org tua pacarnya kan??*asal*
    daebak authoooooor!!jjang!!kkkkkk

  4. Woah….. Ha-Won sudah mulai bisa melunakkan pikiran-pikiran Kyuhyun tentang therapi dan juga keadaan di dunia luar, meskipun penuh dengan paksaan. Oh! Jadi Ha-Won udah punya seorang kekasih ya ?? Penasaran, siapa kekasih nya Ha-Won ya ?? Kkkkk dan itu, siapa yeoja yang adatng ke rumah Kyuhyun ? Kekasih nya juga kah ?? Ulala~

  5. disini kyu udah lebih terbuka ya. gara-gara ha won yg ampe harus berdebat ini itu hehe

    yaah ha won udah punya pacar? siapa?
    dan lg wanita yg dtg ke rumah kyuhyun siapa tuh..

  6. Waduh? Siapa tuh yeoja?
    Chingu kyu atau…yeojachingu?
    Berdebat terus…tp paling suka klo pas lg debat eh kyu kehilangan kata2.
    Dan lbh lucu lg waktu kyu pucat mukanya liat peralatan terapi hahaha… Kasian.
    Keren bgt ff nya..
    Feelnya oke bgt!
    Lanjut ya….

  7. Owh,,apakah terinspirasi dari novelnya sandra brown ya,, heheh aq jg suka novel”nya sandra brown,,tp yg ini aq lupa jdulnya,,
    Menarik skali membayangkan kyuhyun jd org lumpuh,, meskipun evilnya msh ngikut,,
    Dan mreka sudah punya kekasih masing”kah?? Ato hanya hawon aj,, tp kyu dsini playboy ga ya??

  8. awesome ! karakter ha won nya keren!
    kyuhyun kehilangan kata kta …
    good joob jung ha won ! yuhyun gk berkutik..
    eoh ? siapa itu yeoja ???

  9. Ohh ohh oww..
    Ini ff bntar” bkin ketawa kek org gila, bntar” tegang dan rda gmana gitu pas kyu di terapi..
    Nahhh si ha won uda punya namja chingu?? Kirain hae, tp knn hae kgak punya lesung pipi?? Siwon kahh?? Teuki kahh?? Ape org laen?? Ishhh knapa kgak single aj?? End nya ttp ama kyu knn?? Dan cp cwe yg dateng ntu??
    Arghhh tmbah pnasaran.. :-V

  10. Wahhhh jangan-jangan yoeja itu pacar kyu awww apa ha won akan cemburu?kkkkk kyu udh mulai bergetar(?)liat senyum hawon hihihi kaya nya kekasih ha won itu bossman choi..bener g oenn?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s