IF….. (PROLOG)

Hei… Hei… Hei….

Saiia datang lagi kawand !!!

Adakah yg merindukanku ??? #Najonk

Kkkkk….

Oia, jangan terkejut saat membacanya ya. Karena seperti biasa, cerita saiia lagi-lagi tidak jelas seperti apa. Kkkkk… tapi selalu, dan selalu saiia ingatkan.

No BASH, dan kali ini saiia juga meminta No Protes, No Omelan, dan No judge !!!!😀

Oceyyyy….

Yasudlah…

HAPPY READING !!!!!!!!!!

*******************

PROLOG

 

 

 

 

Jung Ha Won berjalan hilir mudik di dalam kelasnya, mata kuliah Manajemen Bisnis baru saja usai. Kini ia tengah menunggu seorang pria, pria yang begitu memujanya. Pria itu adalah salah satu dari sekian banyak pria yang berusaha mendapatkan hati gadis itu. Namun sayang, sikap dingin dan keras gadis itu membuat mereka mundur secara teratur. Tapi tidak dengan pria yang berjanji akan menjemputnya saat ini.

Lee Donghae, sunbae-nya yang berbeda jurusan dengannya. Adalah satu-satunya pria yang berhasil mendekati gadis itu, meski statusnya sampai saat ini masih menggantung. Namun itu tidak mengurangi rasa cinta Donghae kepada seorang Jung Ha Won. Baginya, bisa dekat dengan wanita itu saja sudah cukup. Ia harus berpuas diri, meski posisinya lebih terlihat seperti seorang pesuruh, daripada kekasih. Meski mereka dekat dan Donghae selalu mengatakan sebesar apa cintanya pada Ha Won, tapi seperti angin lalu wanita itu tidak pernah menggubrisnya.

Ha Won menikmati keberadaan Donghae yang selalu setia disaat ia membutuhkannya. Untuk masalah status atau perasaan, ia merasa tidak pernah menjanjikan sesuatu pada pria itu. Tapi Ha Won juga tidak suka jika melihat Donghae berdekatan dengan wanita lain. Ia hanya ingin Donghae didekatnya, menuruti semua perintahnya. Dan dengan adanya seorang Donghae, paling tidak itu sedikit membantunya, dari gangguan-gangguan pria-pria yang mencoba mendekatinya. Ha Won menyukai pria ber-Otak, dan menurutnya Donghae cukup memiliki otak. Meski ia tidak yakin, jika mengingat bagaimana Donghae selalu menuruti keinginannya.

Dan see ? Selama ini ia mendapatkan apa yang diinginkannya. Hampir dua tahun ini Donghae cukup bisa diandalkan saat Ha Won membutuhkannya.

“Kau gila Ha Won-ah, kau meminta Donghae menjemputmu dalam 15 menit ? Memangnya kau kira berapa Kilometer jarak dari rumahnya ke Kampus kita ? Dan lagi, bahkan dia tidak ada jadwal kuliah hari ini.” protes Jaera, saat ia merasa kupingnya mulai memanas mendengar serentetan omelan Ha Won lantaran Donghae yang tidak juga datang menjemput mereka. Jaera yang merupakan sahabat Ha Won, meski mereka sahabat kental namun tak jarang Jaera akan menegur Ha Won jika wanita itu mulai bertindak kelewatan dengan sikap egois dan keras kepalanya.

“Aku tidak perduli Jaera-ya, dia sudah menutuskan untuk menuruti semua keinginanku dan itu berati dia harus menurutiku dalam segala hal” bantah Ha Won, wanita egois itu sama sekali tidak menggubris ucapan sahabatnya. Yang ia mau saat ini adalah Donghae segera datang dan mengantarkan mereka ke pusat perbelanjaan. Kasih sayang berlebihan yang ia dapatkan dari keluarganya, membuatnya tumbuh menjadi wanita manja yang egois dan keras kepala. Ia melakukan apapun yang ia mau, tanpa peduli dengan orang-orang disekitarnya. Di tambah paras cantik nan mempesona, yang merupakan warisan murni neneknya yang mantan seorang model. Membuat Ha Won semakin menunjukan eksistensinya, dimanapun ia berada. Ia paling tidak suka jika ada yang mendebat ucapannya.

Jaera yang terlihat kesal melihat ulah Ha Won, segera bangkit dari duduknya “Ck, kau sudah keterlaluan Ha Won-ah. Kita masih bisa menggunakan mobilku, kenapa harus menyuruhnya datang hanya untuk memuaskan keinginanmu untuk memanfaatkannya. Itu tindakan yang memalukan, kau tahu ? Aku akan pergi dengan mobilku sendiri” kata Jaera dengan rasa kesal yang tidak berusaha ia tutupi. Ia benci jika Ha Won sudah mulai menunjukan sikap egoisnya seperti ini.

Ha Won berhenti sejenak dari kegiatannya berjalan hilir mudik sambil menghentakan kaki dengan kesal. Ia berbalik mengahadap Jaera, menatap sahabatnya itu dengan tatapan marah “Jangan coba-coba Lee Jaera ! Atau aku tidak akan meminjamkan catatanku jika kau berani melakukan hal yang tidak kusuka.” Ha Won melancarkan ancamannya yang selama ini selalu berhasil membuat Jaera tidak berani membantahnya. Ya, otak Jaera yang sedikit pas-pasan harus bersedia berkompromi dengan kesewenang-wenangan seorang Jung Ha Won, yang notabene-nya merupakan salah satu mahasiswi dengan prestasi gemilang di Kampusnya.

Tapi sepertinya kali ini Jaera sudah jera, dengan segala ancaman ataupun tetek-bengek sejenisnya yang selalu Ha Won lancarkan jika keinginannya tidak dituruti. “Terserah ! Aku bosan dengan segala ancaman kacanganmu” ia melihat sekelebat kemarahan dalam tatapan mata Ha Won. Jaera paling tidak suka melihat tatapan Ha Won yang seperti itu. Ia menarik nafas dalam, mencoba bersabar menghadapi tingkah manja sahabatnya yang tengah kambuh ini. “Dengar Ha Won-ah, aku bukannya tidak mau menemanimu. Hanya saja… Ya Tuhan, apa kau tidak memikirkan bagaimana caranya Donghae berusaha sampai disini dalam 15 menit ? Setengah jam saja belum tentu ia bisa mencapainya, apalagi 15 menit ? Bahkan, aku yakin pasti saat ini ia tengah memacu mobilnya dengan kecepatan yang bisa mengalahkan pembalap F1 sekalipun” Jaera berusaha memberi pengertian, yang ia sendiri yakin tidak akan dipedulikan Ha Won. Jaera tahu dengan pasti seperti apa Donghae memuja Ha Won. Dan ia yakin bagaimanapun caranya, pasti Donghae akan berusaha sampai secepat mungkin. Dan Jaera sedikit khawatir untuk itu.

Dan dugaannya benar, decakan kesal yang terdengar dari bibir tipis Ha Won sudah cukup menjelaskan jika kata-katanya tadi sama sekali tidak berpengaruh padanya. “Harus berapa kali ku katakan jika AKU TIDAK PERDULI !”  Ha Won menegaskan “Meski ia harus menggunakan pesawat Jet sekalipun, yang terpenting dia ada disini dan mengantarkan kita. Hanya itu, tidak lebih. Dan jika setelahnya ia ingin pergi, aku tidak masalah” ucapnya tak perduli.

Jaera melipat tangannya didepan dada dan memandang Ha Won malas “Dan dia harus kembali menjemput, setelah acara kita selesai. Bukan begitu ?” tebak Jaera.

Ha Won merasa tak perlu menjawab pertanyaan, yang ia yakin Jaera sudah tau apa jawabannya. Ia melirik jam tangan merk ternama yang melingkar elok di tangan langsingnya, Donghae sudah terlambat setengah jam dari waktu yang ia tetapkan. Dan Ha Won tidak suka. Merasa lelah berjalan hilir mudik, ia menempatkan bokongnya pada kursi kosong disamping kursi yang kembali diduduki Jaera.

“Ha Won-ah” panggil Jaera pelan. Ha Won menoleh kearahnya, wajah cantiknya memberengut kesal karena terlalu lama menunggu. “Apa selama ini kau benar-benar tidak memiliki sedikitpun rasa kepadanya ?” tanya Jaera.

Ha Won menarik nafas malas, dan menghembuskannya dengan keras “Tidak”

“Meski hanya sedikit ?”

“Tidak”

“Benarkah ? Lalu kenapa kau marah jika dia dekat dengan wanita lain ?” tembak Jaera.

Ha Won terdiam, sebenarnya ini adalah pertanyaan yang selalu ia hindari. Apakah ia memiliki rasa pada Donghae ? Entahlah, ia juga tidak tahu. Yang ia tahu, ia sudah terbiasa merasakan keberadaan Donghae didekatnya, menuruti semua apa yang dia inginkan, memperhatikannya, dan yang pasti… mencintainya. Lalu ? Bagaimana perasaan Ha Won yang sebenarnya ? Apa ia akan mengijinkan hatinya untuk mencintai Donghae ?

Tidak, ia tidak akan mau terjebak dalam perasaan yang bernama CINTA. Baginya cinta sama dengan airmata, seperti yang sering dialami sahabatnya. Jaera. Tak jarang wanita itu menghampiri Ha Won dengan segala cerita memilukan akibat cinta yang tak berjalan sesuai harapan, cerita yang lebih sering diwarnai air mata daripada senyum dan tawa. Dan Ha Won Bersumpah, ia tidak akan membiarkan dirinya mengalami masa-masa menyedihkan seperti itu. Menjadi manusia yang di bodohi satu kata bernama, CINTA.

Merujuk pada pertanyaan yang tadi dilontarkan sahabatnya, Ha Won hanya menjawab sekenanya “Karena aku tidak suka”

Jaera memutar bola matanya malas, demi mendengar jawaban asal dari Ha Won “Cih, aku yakin suatu saat kau akan mengakui perasaanmu Ha Won-ah. Camkan kata-kataku”

“Mungkin” kata Ha Won tanpa diduga.

Mata Jaera menyipit, memandangnya tak percaya. Pasti Ha Won tengah menyiapkan lelucon konyol dibalik ucapannya kali ini “Kapan ?”

“Saat Donghae bisa lebih tinggi dariku” ucapnya santai.

Hahhh… Benar tebakanku, batin Jaera. Sampai kapanpun tinggi badan Donghae tidak akan bisa melebihi Ha Won. Sebenarnya Donghae cukup tinggi untuk ukuran seorang pria, namun bagi wanita dengan postur tubuh jangkung seperti Ha Won. Tentu saja tinggi itu masih kurang, tinggi Ha Won dan Donghae sama, mereka setara. Tapi tinggi itu akan menjadi tidak imbang, disaat Ha Won mengenakan heels atau wegdes yang merupakan alas kaki kesukaannya.

Dan jika Ha Won mengatakan ia akan mencintai Donghae, disaat pria itu bisa lebih tinggi darinya. Maka jawabanya hanya satu kata, Mustahil.

Ha Won tersenyum saat melihat Jaera tak lagi membantah ucapannya. Namun senyumnya segera menghilang, tatkala ia kembali memandang jam tangannya. Ini benar-benar sudah keterlaluan. Belum pernah Donghae terlambat hingga selama ini. Mencoba mencari tahu alasan pria itu berani membuatnya menunggu, hingga begitu lama. Ha Won merogoh tasnya untuk mencari ponsel-nya. Dan ketika mendapatkan apa yang ia cari, ibu jarinya bergerak lincah, mengelus benda tipis ditangannya, mencari nama pria yang sudah memunculkan sedikit riak kemarahan dihatinya.

Ha Won segera menyentuh tombol pangilan setelah menemukan nama Donghae. Lama ia menunggu panggilannya diangkat. Decakan kesal kembali terdengar dari bibirnya saat panggilan pertamanya tak mendapat tanggapan. Jaera memandang Ha Won yang mulai terlihat semakin kesal. Kembali Ha Won mencoba menghubungi Donghae. Setelah beberapa detik, kali ini panggilannya dijawab. Namun saat ia ingin melontarkan serentetan omelan yang telah berada di ujung lidahnya, ia terdiam. Suara tegas ini bukan milik Donghae, ia memandang layar ponsel-nya memastikan jika ia tidak salah menghubungi orang. Dari nomor dan nama yang terpampang jelas itu benar-benar milik Donghae, tapi kenapa…

“Ah, mian” ucap Ha Won saat orang diseberang sana mengucapkan halo berulang kali. “Bukankah ini ponsel Lee Donghae ?” tanya Ha Won memastikan. Terdengar penjelasan dari sipemilik suara tegas itu. Dan seketika wajah Ha Won memucat, demi mendengar setiap kata yang diucapkan dengan tegas oleh orang itu. Tiba-tiba jantungnya berdebar lebih cepat dari yang bisa ia bayangkan, jantung itu berusaha memompa darah yang seolah sepakat untuk berhenti mengaliri wajah Ha Won hingga membuat wajah itu semakin pucat pasih. Bahkan tangannya tak lagi sanggup menggenggam benda tipis ditangannya itu, hingga suara bantingan terdengar saat ponselnya berhasil mendarat mulus di lantai. Pikirannya menggelap seketika.

Jaera yang melihat perubahan tak wajar pada Ha Won, segera melontarkan berbagai pertanyaan yang berulang kali hanya dijawab Ha Won dengan dua kata lirih “Tidak mungkin” kepalanya terus menggeleng tak percaya.

 

 

***

Ha Won menatap tak percaya pada tubuh yang kini terbujur kaku, di ruang gawat darurat sebuah rumah sakit. Wajahnya mengeras saat melihat tubuh yang masih terbalut baju biru muda, yang ia ingat dengan sangat karena dialah yang memilihkan kaus V neck itu. Tapi kini, baju berwarna pucat itu terlihat lebih berwarna. Ya, berwarna. Berwarna lantaran bercampur dengan merahnya darah segar yang membalur tubuh kakunya. Perlahan atau mungkin juga secara tak sadar, Ha Won berjalan mendekati tubuh pucat yang kini seluruh tubuhnya terdapat bercak darah.

Penjelasan yang Ha Won dengar dari suara tegas ditelpon, yang tak lain adalah suara seorang polisi. Di tambah dengan detail kronologi terjadinya kecelakaan, yang ia dapat dari polisi di luar tadi membuatnya semakin merasa menjadi manusia paling bodoh, paling jahat, dan paling kejam. Lee Donghae, pria itu kini terbujur kaku karena mengalami kecelakaan lalulintas. Kecelakaan. Donghae mengalami kecelakaan, lantaran mengemudi dengan kecepatan melebihi batas normal. Donghae tewas, dia meninggal ditempat lantaran benturan yang teramat keras pada bagia kepalanya. Dada Ha Won semakin sesak, bahkan debaran jantungnya tidak juga reda sejak beberapa saat lalu. Dia, ya. Dia yang sudah membunuh Donghae. Dia pembunuh. Dia yang menyebabkan kecelakaan itu.

Baru sejam lalu, ia memaki Donghae memintanya untuk segera sampai di kampusnya. Dan kini ?

“Bangun Hae !” suaranya tercekat, seakan menggantung disela-sela tenggorakannya. Wajah Ha Won terlihat keras, namun tangannya menyentuh wajah Donghae dengan lembut. Dingin. Kini wajah yang melekat pada tubuh tak bernyawa itu terasa dingin. “Ini tidak lucu Hae, Bagun !!!” kini suara Ha Won terdengar melengking. Ia mencoba mengguncang tubuh Donghae. Memaksa pria itu mengakhiri lelucon yang tidak lucu ini. Tidak. Tidak mungkin. Donghae tidak mungkin meninggal. Tidak mungkin. Pria itu pernah berjanji akan selalu berada disisinya, akan selalu mencintainya, akan selalu memenuhi segala keinginannya, dan akan selalu menunggu Ha Won mengakui bahwa ia… mencintainya.

“Bangun Hae, aku mohon bangun” Ha Won terus saja mengguncang tubuh kaku tanpa nyawa itu. Dan Ha Won merasakan jiwanya berguncang, saat menyadari bahwa kini Donghae benar-benar telah meninggalkannya. Pria yang selama dua tahun ini menemani hari-harinya, kini telah meninggalkannya disaat ingin memenuhi keinginannya. Seketika, bulir-bulir penyesalan menyusup dihatinya. Membuat dadanya kian sesak dan tenggorokannya sakit saat menahan gumpalan rasa penyesalan yang telah terlambat. Matanya memanas, sangat. Tapi entah mengapa, air matanya tidak dapat mengalir. Ha Won takjub karena dirinya belum menangis.

Hati Ha Won berdenyut nyeri saat matanya menatap intens wajah pucat dihadapannya, wajah yang mendapatkan luka diberbagai tempat hingga menampilkan bekas darah yang telah dibersihkan. Ha Won memuaskan diri untuk menatap wajah tampan, yang kini penuh luka itu. Wajah yang tidak akan pernah bisa ia lihat lagi. Ia baru menyadari, bahwa selama ini ia tidak pernah benar-benar menatap wajah Donghae. Kebodohan yang sangat ia sesali. Keningnya, ia tidak pernah tahu jika Donghae mempunyai kening yang indah. Tangan Ha Won bergerak perlahan menyentuh bagian yang terdapat luka memanjang itu, mengusapnya pelan. Lalu jari-jarinya turun membelai alis Donghae yang terlukis sempurna dipelipisnya, yang robek akibat kecelakaan. Ha Won memandang nanar, saat kedua ibu jarinya berhenti pada kedua kelopak mata yang kini telah tertutup rapat. Tidak ada, kini tidak akan ada lagi tatapan penuh cinta yang selalu Donghae berikan kala menatapnya. Tatapan cinta yang selalu membuat Ha Won kesal, lantaran Donghae sering diam-diam menatapnya sambil tersenyum penuh rahasia.

Kini jarinya semakin turun menyentuh hidungnya, hidung mancung yang diam-diam membuat Ha Won iri karena hidungnya yang tidak semancung Donghae. Kini hidung itu terlihat sedikit bengkok, karena benturan yang amat kuat. Kedua telapak tangannya mengusap pipi pucat Donghae lembut, sebelum ibu jari tangan kanannya menyentuh bibir Donghae yang kini telah membiru dan pecah karena luka. Bibir itu, bibir tipis itu yang pernah membuat Donghae mendapatkan tamparan dari tangannya. Ha Won paling tidak suka wajahnya disentuh orang lain, dan Donghae dengan beraninya justru mengecup pipinya. Hanya kecupan ringan, seringan elusan angin musim dingin. Namun tindakan itu, mampu membuat Ha Won meradang dan melayangkan tamparan pada pipi yang dulunya terasa hangat dan lembut itu.

Untuk kesekian kalinya, Ha Won kembali menggelengkan kepalanya. Menatap wajah tampan yang biasanya terlihat mulus itu, namun kini dihiasi berbagai luka “Bangun Hae !” jeritnya. Kali ini ia merasakan pipinya mulai basah, gumpalan kristal itu telah pecah menjadi butir-butir airmata penyesalan. Ia menangis, untuk pertama kalinya ia menangisi seorang pria. Pria yang begitu mencintainya. Namun karena kebodohannya Ha Won harus kehilangan pria itu. “Bangun Hae, aku mohon bangun. Bukankah kau selalu berkata jika kau tidak akan pernah meninggalkanku, meskipun aku menyuruhmu pergi ? Tapi, kenapa sekarang kau meninggalkanku Hae ? Kenapa ? Aku tidak pernah menyuruhmu pergi, tapi kenapa kau masih meninggalkanku” raungnya sambil terus mengguncang tubuh kaku dihadapannya. “Aku mencintaimu Hae, aku mencintaimu” perasaan yang selama ini ia tahan akhirnya terluapkan disaat semuanya telah terlambat. “Bukankah kau ingin mendengar aku mengatakan cinta padamu ?” tanyanya lirih, pertanyaan yang tidak akan mendapatkan jawaban. “Aku sudah mengatakannya Hae, aku sudah mengatakannya. Bangunlah, aku mohon”

Jaera yang sejak tadi berdiri terisak di pintu masuk, saat menyaksikan apa yang Ha Won lakukan segera menghampirinya. “Cukup Ha Won-ah. Cukup” ia berusaha menarik tubuh Ha Won yang terus saja menguncang jasat yang terbujur kaku dihadapannya.

“Dia menang Jaera-ya. Dia menang” ratap Ha Won lirih, derasnya airmata semakin mengguyur pipinya yang masih pucat karena shock. “Dia sudah berhasil lebih tinggi dariku, dia berhasil. Bahkan kini sangat tinggi, tinggi sekali. Hingga tingginya dapat menembus nirwana.” Ha Won tersenyum miris, mengutuki kata-katanya dulu. Kini Donghae membuktikannya, ia kini jauh lebih tinggi. Bukan tinggi badannya, tapi tempat jiwanya beradalah yang kini sangat tinggi. Tinggi, tinggi menuju keabadian. Dan Ha Won, wanita egois itu harus menelan pil pahit kebodohannya.

“Dia hebat bukan ?” tanyanya entah pada siapa. Ia kembali tersenyum miris dengar air mata yang terus mengalir “Dia hebat karena berhasil membuatku mengatakan bahwa aku mencintainya, perasaan yang tidak pernah ingin kuakui selama ini. Dan dia berhasil membuatku mengatakannya. Kau hebat Hae, kau hebat” pekiknya, tangannya kembali mengguncang tubuh Donghae namun segera ditahan oleh Jaera.

Ha Won hancur. Ya, wanita keras kepala itu hancur lantaran pria yang begitu mencintainya kini telah pergi. Pergi membawa cintanya, cinta yang begitu besar. Cinta yang membuatnya kehilangan nyawa. Cinta yang selalu diberikannya dengan tulus.

“Aku mencintainya Jaera-ya ! Aku mencintainya, sungguh !” Ha Won berteriak tanpa kendali.

“Ne, kau mencintainya. Aku tahu kau mencintainya. Sekarang biarkan dia tenang dengan cintamu. Lepaskan Ha Won-ah, lepaskan dia. Biarkan dia tenang” Jaera berusaha menarik tangan Ha Won yang masih mencengkram lengan kaku Donghae.

Namun Ha Won lagi-lagi menggelengkan kepalanya. “Aku tidak akan mencintai pria lain, selain dia. Tidak akan. Tidak akan” ucapan dan cengkraman Ha Won pada lengan Donghae semakin melemah seiring kesadarannya yang mulai menghilang.

 

 

***********************

Hahahahhaha….

NO PROTES, NO OMELAN, dan NO JUDGE. Ingat ????

Kayaknya ada yang nyariin si Mr. Autis ya ? kkkkk…. dia masih saiia kantongin.😛

Oia, ini memang tulisan terpendek yg pernah saiia buat. Kkkk… ya namanya juga Prolog. Kagak mungkin panjang2.

Dan saiia juga lagi mayes pake kata TBC , coz satu kata itu kayaknya banyak bangged yg ngutuk. saiia khan jadi gak tega. #PLAK😛

Pokoknya selama belum ada kata THE END atau FIN. Berarti itu story masih berlanjut. Masalah berlanjutnya kapan, ya…. tergantung hahhahaha… *Rempong

Ada yg ingin kisah selanjutnya ???

Semoga mood saiia bagus untuk membuat storynya, hahhaaa,,,,

Yasudlah, saiia ngantuk. Itu si Chayank Onge udah manggil2 adjha ngajak bobo. #HOEKS
wkwkwkkw….

Oceeeeyyyyyyy… thanks for reading and comment. #kl ada yg koment. :p

Ghamsahamnida……………

94 thoughts on “IF….. (PROLOG)

  1. Kasian bnget Hae, bru dpt peran udh mati aja,, dpt dialog juga ngga, berarti honor cuma dpt dikit dong*plakk* wkwkwk
    berarti next storynya si evil*ditabok Kyu* yg bkal beraksi ya?? Penasaran,, go to part 1^^ Fighting!!

  2. Eonniyaa.. oh jeongmal mewek mewek.. masa odong odongku d bikin mati ??? aduhg aduhh

    feelnya ngena.. jung ha won ini babo bgt.. #piss
    pengenn lanjutt..!!

  3. Yahh jung hawon egois amt jd org,jd mati kan thu si ikan..Nyesl dch pzti..

    Kasian amt nsb mu ikan baru ngl bntr dah mati..

  4. Huwaaaaaaaaa, TEGAAAA!!! hiks.. hiks.. ikanku dibikin mati. Sumpah mewek :(((((
    Truz, sp nnti cast namja-nya? Cho Kyu Hyun lagi? kekekekekeke~

    Aku pengen bunuh author-nyaaaaa *AsahGolok
    kkkkkkk~

    oia, saking serius (?) mewek, sampai lupa ngenalin diri. Ayunie imnida. Aku reader baru disini. Bangapta….

  5. Ya allah donghae~ya jgn pergiiii……

    Penyesalan mmng sllu dtg belakangan, hawon egois bgt.. Haeppa jdi meninggalkan kan.. Huaaahuaaa ;( ;-(

  6. Penyesalan selalu datang terakhir, perjuangan donghae buat Ha won keren,,, sedia kapan saja, tapii takdir tak berpihak .😦
    Ha won suka sama donghae,,, kenapa ga idup lagi,,, abang ikannnnnn😥
    Next lanjut,,,, bakalan ada abang evil niihh

  7. Huaaaa,, comment pertama ga masuk ternyata :((((
    Ini, donghae merana akan cintanya #poorabang ikan,,,, kau sampe rela melakykan apapun untuk cintamu, walau kau sulit bahkan ketika cinta itu menerimamu “Jung Ha Won” kau bahkan sudah tak ada, melihat penuturan dari surga .
    Next part with abang evil,

  8. kasian eh donghae nya.. semoga di kehidupan bersama si mr.autis nanti gak kaya sama hae yah.. hawon jangan sampe nyesel lagi..

  9. satu kata adalah nyesel. kenapa aku baru ngeh ada ff ini di library mu eon..
    ya ampun muka hae ancur gitu aduh abang jgn pergi dong..
    keep writing story keren-keren mu itu ya eon,aku mendukungmuuu! wkwk

  10. annyeong…
    aku udah baca beberapa FF disini.. dan aku tertarik baca ‘IF‘ dan emang bener ceritanya bagussss… karakter Hawon disini keren.. tapi kenapa donghae harus meninggaL???
    blm juga kenaLan sama dia…

    huffttt

    Lanjut ke part 1 dehhh!!

  11. tissu.. mana tisuu.. butuh tisu sekarang juga!!
    kenapa lee donghae nya harus meninggal?
    aigoo.. bner benr sedih banget bcanya eonni

  12. sumpah penasaran!!!!!!!! eon jahat ih part 1 udah langsung diprotect, minta passwordnya dong…… please banget part akhirnya terlalu nyesek……
    gategaaa, donghaenyaaaa pasti cinta banget, dan ha won juga baru nyadar….
    please unn gimana cara dapet passwordnya????

  13. Eonniiii…… knp dr td bikin aq sdh trs????? td pas bc second chance 4 U,,aq sdh gra2 kyu dselingkuhin…Trs skrng aq lg2 hrs sdh gra2 hae oppa hrs ngalamin hal setragis itu….
    Huaaaaaaa eonni tega😥

  14. Hiiii… Ampe nangis gini. Hae.. Kamu tingginya telat #hue.. ToT

    jiahh…tragis bgt hae…
    Suka bgt prolognya. Br prolog aja udah bikin mewek gini, gmn part 1 nya wkwkwk…
    Keren bgt!
    Feelnya itu loh yg daebak!
    Krn hae yg meninggal disaat dia ingin mewujudkan keinginan ha won, dan ha won yg terlambat menyadari perasaannya. Itu yg bikin nyesek!
    Lanjut ya…
    Gumawo

  15. annyeong eonnie, aku readers baru..
    suka sama ff nya.. daebak lah..
    rada kesel awalnya sama ha won, kenapa jahat bgt ma donghae…
    matikan jadinya… tapi yasudahlah, kayaknya ada hikmahnya… kkk~
    feelnya dpt banget eon, waktu moment haewon nya dpt bgt sumpah..
    penyesalan emg sllu dtg terlambat… T.T
    eonnie jjang !

  16. hmmm… penyesalan emg dtg terlambat
    kesel awalnya sama hawon, tega banget ke donghaenya..
    ada hikmahnya hae meninggall…
    ff unnie keren2 semua.. choae !
    dae to the bak😀

  17. kepincut ama judul, dan….. mewek
    kakak, ff mu yg ini kenapa ngubek ngubek perasaan gini eoh ?
    ya ampun, donghae kenapa meninggal ?
    jung ha won nyesel deh, traumatis ntr itu…
    gak bisa berkata kata, ff mu keren semua kak !!

  18. Ohh astaga..
    Prolognya bkin merinding..
    Hmhhh jd lbh penasaran ama next partnya, ntu nyritain awal mula hae won, apa kyu won??
    Oke lahh ntar dulu aje, mau ngubek yg laen duyu baru baca yg lanjutannya ini..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s