IF …. Part 2

IF...

Loha. Lohaaa….. #kedip-kedip manyis. Wkwkwkkwkw…. *ziziiiiik -_-

Huaaaaaa…. ituh apah? *tunjuk lumut. Itu juga! * tunjuk sarang laba-laba. Terus ituh? *lirik bagian yang berkarat.

Wakakakakkaka…… adeeehhhh…. setelah sekian lama moodku angot-angotan, ampe ini blog mulai terlihat angker karena kelamaan kosong. Hahahhahah….

Angkhirnya bisa muncul juga inih cerita aneh. Gak tau deh yeee, ini cerita jadinya cemana. Yah, buat yang masih mau baca. Silahkan deh. Tapi jangan protes ye, kalo kagak ade feelnya.

Kkkkkk…. ocey dah, daripade banyak kate.

Happy Reading ajah yeeeeeeeeee !!!!!!

 

*****************

 

 

 

Ha Won memaku pandangannya pada objek menakjubkan, yang tersaji pada layar televisi mewah yang terletak beberapa meter dari meja kerjanya. Mata dan telinganya bekerja aktif menangkap info yang tengah ia lihat dan ia dengar.

Fantastic.

Mulutnya berucap tanpa suara. Sesekali kepalanya menggeleng tak percaya. Otak pria itu benar-benar gila, tapi ia juga mengakui insting bisnis menggila  pria itu. Seperti biasa, Kyuhyun selalu berhasil membuat orang-orang tercengang dengan apa yang baru saja diluncurkannya. Global Corp baru saja merilis Hotel terbarunya. Tapi ada yang berbeda dan benar-benar mutakhir untuk Hotel-nya kali ini. Hotel terapung. Cho Kyuhyun, pria itu baru saja meresmikan pembukaan Hotel Terapung-nya yang begitu fantastic. Dengan melakukan langkah besar, pada lokasi yang masih termasuk dalam kawasan salah satu pulau Fenomenal didunia, pulau mungil bernama Maldives, pulau yang disebut-sebut sebagai Surga yang tertinggal.

Dengan tangan dinginnya, Kyuhyun telah menunjukan eksistensi sejati dengan membangun Hotel terapung di tempat tersebut. Ucapan selamat dan sanjungan tertuang dengan tulus dari berbagai sumber. Pasalnya, Hotel itu mendapat sambutan baik dari pemerintah Maldives sendiri. Karena pembangunan Hotel itu, sedikit banyak membantu keadaan geografis negara kepulauan itu yang terancam tenggelam akibat kenaikan permukaan laut yang disebabkan perubahan iklim. Tentu saja ini bukanlah proyek kecil. Banyak pihak-pihak penting yang terkait dalam pembangunan Hotel itu. Tidak tanggung-tanggung, seorang arsitek ternama dari Belanda didapuk untuk menangani proyek ini. Arsitek itu terkenal dengan keahliannya dalam hal penataan kota terapung yang sudah tidak diragukan lagi.

Seperti yang berlaku pada Hotel ini, fasilitas yang disediakan benar-benar menakjubkan. Hotel itu menyediakan berbagai fasilitas seperti pusat konvensi, lapangan golf, sport club, pusat perbelanjaan, perawatan kecantikan, tempat hiburan malam, dan yang terutama adalah sebuah Casino yang menjadi daya tarik tersendiri dari Hotel itu.

 

66IDMil8PU

 

Hotel itu juga dilengkapi dengan landasan kecil, yang digunakan Kyuhyun untuk mendaratkan Jet pribadinya. Dengan bentuk Hotel yang berjenjang, dimana terdapat ruangan-ruangan tertutup yang tersembunyi dibawah rimbunan hijau dari atapnya. Belum lagi dengan pemandangan pantai interiornya yang menakjubkan. Dimana kamar-kamar dan juga restauran yang akan membuat kita merasa seperti berada dibawah permukaan laut, dengan pemandangan ikan-ikan yang akan menjadi suguhan indah para penghuninya. Sungguh benar-benar pemikiran yang sangat brilian.

Dan berita yang lebih menghebohkan lagi, untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun terakhir. Tepatnya, setelah Global Corp memiliki anak perusahaan sendiri dibidang Advertising, yang didirikan Cho Kyuhyun setelah satu tahun masa kepemimpinannya. Kali ini Global Corp memberi kesempatan kepada perusahaan Advertising lain, untuk menjadi vendor yang akan mengiklankan Hotel terbarunya tersebut. Tentu saja, berita itu merupakan angin segar yang tidak akan mungkin dilewatkan oleh seluruh perusahaan Advertising, baik didalam maupun diluar negeri.

“Nona, apa sebaiknya kita mengajukan penawaran kerjasama secepatnya? Saya yakin saat ini bahkan banyak saingan kita yang sudah mulai bergerak,” Lee Min So-sekertaris pribadi Ha Won, wanita itu terkenal dengan kejeliannya melihat peluang- mengajukan usulan yang menurutnya sangat tepat untuk dilakukan.

Usulan itu memang tepat, tepat bagi Min So dan orang lain, tidak bagi seorang Jung Ha Won. Tidak terpikir sedikitpun keinginan dalam benaknya, untuk mengadakan kerjasama dengan perusahaan milik pria bajingan itu. Meski tak dipungkiri sebesar apa keuntungan yang akan diperolehnya, tapi, mengingat bagaimana pria itu pada pertemuan terakhir mereka. Itu bukan sesuatu yang menurutnya dapat menjadi referensi kerjasama yang menguntungkan. Membayangkan betapa seringnya ia akan bertemu pria itu, benar-benar membuatnya bergidik ngeri sekaligus mual. Mungkin kali ini, ia harus melewatkan peluang emas yang begitu diinginkan semua pengusaha periklanan. Katakanlan ia bodoh atau mungkin gila, tapi ia tidak menyesal melakukannya.

“Tidak,” hanya jawaban singkat yang diucapkan dengan begitu yakin yang keluar dari bibir tipisnya, matanya masih memandang layar televisi yang sudah tak lagi menayangkan berita tentang Hotel fenomenal itu.

Seandainya Min So belum mengenal seperti apa Ha Won, dan juga dia bukan sekertarisnya, mungkin wanita itu sudah mengatakan jika Ha Won tidak waras. Karena ia masih belum mengerti dengan jalan pikiran atasannya itu. “Sebelumnya saya minta maaf jika saya lancang, tapi jika saya boleh tahu. Apa Nona yakin dengan hal ini? Kita tahu ini merupakan Proyek Fenomenal yang mungkin semua orang berharap bisa ikut terlibat didalamnya, tapi…”

“Apa aku pernah bermain-main dengan ucapanku, Min So-ssi?” tanya Ha Won disertai lirikan tak suka, karena kali ini Min So berani mempertanyakan keputusannya.

Min So menunduk dalam, menyadari kelancangannya. “Maafkan saya Nona. Sungguh, saya tidak bermaksud tidak sopan dengan pertanyaan saya. Maaf, jika Nona tidak berkenan,” berulang kali ia membungkukkan badan.

Ha Won mengerti maksud sekertarisnya tidak seperti itu, dan itu memang pertanyaan yang wajar. Hanya saja, suasana hatinya benar-benar tidak bisa diajak kompromi jika sudah membahas sesuatu yang bersangkutan dengan bajingan itu. “Sudahlah, aku mengerti. Dan aku harap, kau tidak lagi membahas apapun yang berhubungan dengan Hotel itu. Kita tidak akan pernah ambil bagian dalam proyek iklan itu. Lebih baik kau lupakan, dan kau bisa membawakan berkas-berkas yang harus kuperiksa, sekarang.”

Min So membungkuk hormat, sebelum berlalu pergi dari ruangan itu. Ha Won memperhatikan wanita yang lebih tua beberapa tahun diatasnya itu menutup pintu ruangannya. Ia menarik nafas dalam sebelum bersandar pada punggung kursi kerjanya. Ya Tuhan, sandainya saja Hotel itu bukan milik Global Corp yang merupakan kekuasaan Cho Kyuhyun. Tentu dengan senang hati, ia akan turun tangan sendiri mengajukan kerjasama untuk mendapatkan proyek besar itu. Tapi ini? Jujur, ada sebagian sudut kecil dihatinya yang tidak rela melepaskan peluang raksasa untuk mendapat keuntungan besar itu. Tapi, apalah artinya bisikan hati jika ego sudah mendominasi. Kebencian mendalam yang ia rasakan pada pria itu sepertinya sudah mendarah daging, tak ada apapun yang bisa merubah hal itu. Tidak ada.

 

***

 

“Kita harus bergerak cepat. Sebelum dia disibukan dengan Hotel barunya,” ucap seorang Pejabat tinggi Korea Selatan itu pada rekannya. Kedua Pejabat itu berjalan tegap menapaki kemegahan gedung yang menjadi kantor utama Global Corp. Gedung pencakar langit itu benar-benar dirancang dengan sedemikian rupa, bergaya arsitektur modern yang kental dengan nuansa barat, gedung itu memberikan kesan elegan bagi siapa saja yang bisa berada didalamnya.

“Kau benar,” timpal pria paruh baya lainnya. “Hotel itu benar-benar Fenomenal, sungguh tidak diragukan lagi bagaimana tangan seorang Cho Kyuhyun jika sudah bekerja. Dia tidak pernah tanggung-tanggung dalam bertindak. Dan ada baiknya kita tidak mencari perkara dengannya.”

Setelah menerima informasi dari sekertaris Kyuhyun mengenai keberadaan pria itu, yang sekiranya dapat ditemui. Kedua pejabat tadi, mengikuti pria itu menuju ruangan Kyuhyun.

Kyuhyun tengah duduk santai dikursi keberasarannya, terlihat begitu tenggelam dalam keasyikan membersihkan senjata kesayangannya, mengelap dengan kelembutan yang mengejutkan. Ia memperlakukan benda mematikan itu dengan sangat spesial, tak ada satu orangpun yang ia izinkan untuk menyentuh barang tersebut. Pistol itu sudah memantulkan kilauan yang menandakan licinnya permukaan yang telah dipoles berulang kali dengan perawatan ekstra. Mengingat benda itu sudah beberapa kali menunjukan kepiawaiannya dalam melumpuhkan lawan atau siapapun yang membuat Kyuhyun tak suka.

“Selamat siang Tuan Cho, saya harap Anda dalam keadaan baik-baik saja.” Lee Eun Suk, yang merupakan salah seorang Dewan Petinggi negara itu membungkuk hormat pada Cho Kyuhyun. Diikuti Kim Dae Wook, yang juga menjadi rekan sejawatnya.

Kyuhyun hanya tersenyum culas menanggapi sapaan hormat kedua orang itu, ia sudah hafal dengan apa yang diinginkan tikus-tikus negara itu datang kepadanya. Ia sudah tahu, permainan busuk apa yang sudah dua orang pejabat itu lakukan. Tapi ia tidak perduli, selama stabilitas, perkembangan, dan hubungan perusahaannya dengan pihak pemerintah tidak terguncang, atau terhambat dengan segala macam peraturan yang menurutnya terlalu mengada-ada. Kyuhyun tidak akan ambil pusing. Yah, beginilah cara kerja manusia-manusia licik. Dan Kyuhyun membutuhkan orang-orang seperti itu.

Kyuhyun tak bergeming sedikitpun dari posisi duduknya, bahkan meski sekedar melirikpun tidak ia lakukan. Kedua orang itu sudah maklum dengan sifat dingin Kyuhyun, dan mereka tidak keberatan dengan hal itu, selama tujuan mereka tercapai.

“Duduklah,” ucap Kyuhyun basa-basi. Kedua tamu itu menurut, berusaha duduk dengan nyaman di tengah aura ruangan yang terasa dingin. Bukan karena suhu dari mesin pendingin, melainkan dari pancaran keangkuhan aristokrat seorang Cho Kyuhyun yang sangat terasa.

“Berapa partai yang akan maju pada pemilihan kali ini?” tanya Kyuhyun langsung. Ia sudah tahu dari pemberitaan mengenai pesta demokerasi yang akan diadakan Korea Selatan. Dan tentu saja, ia membutuhkan kepastian jika partai kedua koneksinya itu bukan partai kacangan. Sebenarnya, Kyuhyun sama sekali tidak tertarik dengan dunia politik. Tapi tentunya, lain hal jika uang yang ia keluarkan untuk partai itu tidak menghasilkan keuntungan dalam aspek lain bagi perusahaannya.

“Sudah 45 partai yang dinyatakan lolos, untuk mengikuti pemilihan umum periode ini. Dan, Anda tentu sudah tahu jika partai kami selalu berada di urutan pertama,” Tuan Lee menjelaskan.

Kyuhyun mengangguk mengerti, “kudengar, ada masalah di Bandara Incheon mengenai barang-barangku dengan bagian Bea Cukai,” Kyuhyun mengingatkan. Bibirnya mengerucut saat meniup ujung mulut pistol yang tidak berdebu sama sekali.

Wajah kedua pejabat itu mulai memucat saat Kyuhyun membahas masalah yang sempat membuat mereka turun tangan beberapa waktu lalu. Perubahan topik yang mendadak ini, tak urung membuat perasaan mereka ketar-ketir. Meski masalah itu sudah terselesaikan, tapi mengetahui Kyuhyun yang sudah mendengar masalah itu tentu saja sendikit banyak membuat mereka takut. Tuan Kim memandang Ji Hoon, seolah meminta bantuan. Yang dibalas Ji Hoon hanya dengan wajah datar tanpa ekspresi.

Lalu Tuan Kim memberanikan diri memandang Kyuhyun, yang sama sekali tidak memandang kearahnya. Terlalu serius dengan keasyikannya memanjakan pistol itu. Tapi Tuan Kim tahu benar, meski Kyuhyun terlihat serius dengan kegiatannya. Pria itu tetap mengamati sekelilingnya, dan yang pasti sedang menunggu jawabannya. Tuan Kim menelan ludah cepat sebelum menjawab, “Anda tidak perlu khawatir Tuan Cho, kami sudah mengatasi masalah itu. Dan kami bisa berjanji, jika masalah serupa tidak akan terjadi kembali.”

Kyuhyun mengangguk-anggukan kepala berulang kali dengan gerakan lambat. Menandakan jika ia akan mengingat dengan pasti, apa yang baru saja ia dengar. Penjilat memang selalu mengumbar kata-kata manis yang begitu menjanjikan. “Ji Hoon-ssi, kau bisa mengingatnya dalam memory otakmu apa yang mereka katakan, bukan?”

Semua yang ada di ruangan itu, tentu mengerti dengan sangat, arti dari kata-kata yang Kyuhyun ucapkan. Meski mengatakan pada Ji Hoon, tapi mereka sadar Kyuhyun sudah mengunci janji itu dalam ingatannya sendiri, dan tahu siapa yang akan ia mintai pertanggung jawaban jika masalah serupa kembali terjadi.

“Ya, Tuan,” sahut Ji Hoon mantap.

Setelah memastikan benda kesayangannya itu sudah bersih dan mengkilat, Kyuhyun meletakannya pada kotak khusus dan menutupnya dengan hati-hati. Untuk pertama kalinya sejak kedua pejabat itu memasuki ruangan, Kyuhyun mengangkat wajahnya, memandang kearah mereka. Ditatapnya lekat-lekat dua pria paruh baya yang usianya terpaut jauh diatasnya. Tapi karena uang, mereka rela merendahkan diri di depan pria muda sepertinya. Untuk itu, Kyuhyun tidak mau ambil pusing.

Ia sedang senang atas peluncuran Hotel barunya kemarin. Kyuhyun selalu menganggap anak-anak perusahaan Global Corp sebagai anaknya juga. Maka, tak heran jika Floating Paradise yang merupakan Hotel barunya itu, Kyuhyun anggap sebagai bayi-nya yang baru saja lahir. Tapi kelahiran itu belum sempurna jika tidak didukung dengan promosi tepat yang akan mengenalkan Hotel itu pada Dunia. Baru tadi pagi ia kembali ke Korea, setelah beberapa hari disibukan dengan berbagai usuran sehubungan dengan proses peluncuran Hotel-nya.

Kyuhyun mempunyai tujuan tersendiri, mengapa ia melempar peluang mempromosikan Hotel-nya kepasar bisnis. Padahal, ia sendiri sudah memiliki perusahaan Advertising terkemuka yang sudah tidak diragukan lagi. Tapi, ia mempunyai alasan melakukan hal itu, ia mempunyai tujuan yang akan melancarkan semua keinginannya. Dan ia, sedang tidak ingin diganggu dengan hal lain, terutama hal-hal yang berbau politik. Pemilihan umum seperti ini, tentunya membutuhkan banyak dana. Baik dari pihak lokal maupun swasta, mengingat kedua pejabat itu berniat mencalonkan diri sebagai anggota parlement untuk periode berikutnya, tentunya perlu suntikan dana yang tidak sedikit. Dan Kyuhyun bukan orang baik yang mau berswadaya tanpa mendapatkan feed back yang sesuai. Ia sudah lama menjalin hubungan baik dengan pihak pemerintah, semua itu hanya jalan agar perkembangan bisnisnya tidak tersandung berbagai masalah dalam pengurusan izin dan lain sebagainya.

Obrolan seputar politik itu hanya berlangsung selama satu jam, yang dimanfaatkan Tuan Lee dan Tuan Kim untuk memastikan mereka mendapatkan kepercayaan dan yang pasti kucuran dana dari Kyuhyun.

Kyuhyun menarik nafas lelah, setelah kedua pejabat itu pergi dari ruangannya. Penat mulai menggerogoti, ia butuh penghiburan. Godaan untuk memejamkan mata dan menikmati mimpi indah, yang berisi percintaan panas dengan seorang wanita angkuh yang selalu berhasil menarik gairahnya itu terasa menggiurkan. “Ji Hoon-ssi,” panggil Kyuhyun pelan.

Ji Hoon yang selalu siap di dekatnya segera menjawab, “ya, Tuan.”

“Apa Dia sudah mengajukan penawaran kerjasama?”

Ji Hoon paham benar siapa ‘Dia’ yang Kyuhyun maksud. Kyuhyun sudah menjelaskan semua alasannya, kenapa ia melempar kegiatan promosi itu kepasar bisnis. Meski sedikit merasa aneh dengan keputusan boss-nya, yang biasanya selalu mengedepankan keuntungan diatas segalanya. Tapi Ji Hoon memaklumi hal itu, setelah ia mengetahui alasan Kyuhyun melakukannya, dan ia tidak berani mempertanyakan selebihnya. Kyuhyun bukan orang bodoh, tentunya ia tahu dengan pasti apa yang tengah ia lakukan.

“Belum Tuan, dari sekian banyak tawaran kerjasama yang datang hampir setiap menitnya. Orang yang Tuan maksud, belum mengadakan penawaran apapun,” jawab Ji Hoon sopan.

Kyuhyun tersenyum acuh mendengarnya. Ia bangkit, berjalan pelan menuju jendela, tangannya dijejalkan kedalam saku celana yang terjahit rapih dan membuatnya terlihat pas membalut kaki jenjangnya yang berotot. Ia menarik nafas pelan, matanya memandang awan putih yang berarak membentuk kelompok-kelompok besar itu dengan tatapan menerawang. Ini akan menjadi permainan panjang dan butuh kesabaran, pikirnya. Tapi, kali ini Kyuhyun akan bersedia untuk bersabar. “Sebentar lagi, penawaran kerjasama itu akan datang, Ji Hoon-ssi. Apa kau percaya?”

Ji Hoon menangkap keyakinan bulat dari kata-kata Kyuhyun, dan ia tidak meragukan jika apa yang dikatakan Kyuhyun itu akan menjadi kenyataan. “Ya, Tuan. Saya yakin, dalam waktu dekat tawaran itu akan segera datang.”

Kyuhyun menyeringai tak sabar ingin melihat rencananya berjalan lancar.

 

***

 

Ha Won yang baru saja datang, segera menghampiri sang nenek yang -seperti pelayannya katakan- sedang kedatangan tamu. Ha Won sudah menyiapkan godaan apa yang akan ia lontarkan kepada Rye Eun, karena tamu tersebut adalah Tuan Shin. Mantan Jendral yang menunjukan ketertarikan dengan Rye Eun sejak beberapa tahun belakangan. Tapi Rye Eun hanya menganggapnya sebagai pengagum, tidak lebih.

“Apa aku mengganggu kencan kalian?” tanpa sungkan Ha Won segera bergabung di tengah Rye Eun dan Tuan Shin, yang tengah mengobrol santai di mini bar yang tersedia di rumah itu. Ha Won tak menanggapi lirikan jengkel yang Rye Eun arahkan padanya.

“Halo cantik, apa kau baru pulang?” tanya Tuan Shin ramah. Di usianya yang sudah memasuki pertengahan enam puluh, Tuan Shin cukup pandai menjaga kebugaran tubuhnya. Sisa pembentukan otot sempurna dimasa mudanya sebagai tentara, masih sedikit terlihat meski tidak terlalu jelas. Ketampanan masa mudanya juga masih tersisa, di wajah tuanya.

“Ya, seperti yang… WOW,”ucapan Ha Won terputus saat matanya menatap takjub pada botol wine yang bertuliskan salah satu merk wine terbaik dunia, dan tahun pembuatannya yang menjadikan wine itu begitu langka dengan harga yang fantastis.

Tuan Shin tersenyum bangga, karena dapat membuat wanita muda dengan selera tinggi itu tercengang dengan apa yang dibawanya. “Tentunya kau tidak ingin melewatkannya, bukan?”

“Tentu saja, akan menjadi suatu dosa yang tak termaafkan jika aku melewati kesempatan untuk mencicipinya.”

Rye Eun memutar bola mata malas, mendengar komentar berlebihan dari Ha Won. Ia tahu, cucunya itu hanya ingin menggoda Tuan Shin dengan membesarkan hati pria tua itu, dan sudah dapat ditebak tujuan utamanya adalah membuat Rye Eun kesal. Ha Won menerima gelas berisi wine yang disodorkan Tuan Shin kepadanya, diiringi ucapan terimakasih.

“Bukankah, Tuan Shin begitu mengerti apa yang kau suka halmeoni?” Ha Won memulai godaannya.

“Dan kebetulan, kau juga menyukainya, kan?” Senyum Rye Eun sangat bertolak belakang dengan matanya yang memelototi Ha Won. Menyuruh cucunya itu untuk tutup mulut, dan segera menyingkir dari hadapannya.

Tapi bukan Ha Won jika ia mau mengalah begitu saja. Ha Won mengabaikan sinyal kekesalan yang Rye Eun tunjukkan. Ia berpura-pura fokus pada gelas wine di tangannya, menggoyang-goyangkan gelasnya pelan sebelum menghirup aromanya dan kemudian menyesapnya sedikit, merasakan cairan berwarna maron dengan cita rasa tinggi itu melewati tenggorokannya. Sementara Rye Eun semakin gemas melihat kelakuan Ha Won, terlebih saat dilihatnya Tuan Shin seakan terhibur dengan kehadiran cucunya itu.

“Wonie,” panggil Rye Eun, berusaha menarik perhatian Ha Won.

“Hmmm…”

“Minggu depan, aku akan berlayar ke Mediterania,” Ha Won langsung menoleh kesebelah kanan, kearah neneknya yang sedang duduk dengan anggun, gaun panjang yang dia kenakan menutupi kaki yang ditumpangkan diatas kaki lainnya. Dan hal itu, tentu saja, membuatnya semakin terlihat elegan. Pantas jika Tuan Shin begitu terpesona pada wanita tua itu. Dengan dagu terangkat, Rye Eun melirik Ha Won, menunggu apa yang akan dikatakan atau –yang mungkin sudah pasti- ditanyakan cucunya.

Ha Won menelengkan kepala, memandang sang nenek meraih gelas wine di dekatnya. Dan tepat ketika Rye Eun menyesap minuman itu, Ha Won bertanya, “apa, kau bermaksud akan melakukan honeymoon dengan Tuan Shin, sebelum kalian menikah?”

Rye Eun merasa wine yang baru saja diteguknya kembali terdorong keluar, menghasilkan batuk yang sama sekali tidak terlihat anggun. Buru-buru ia menyambar tisu yang tak jauh dari jangkauan tangannya, menarik beberapa lembar untuk membersihkan mulutnya dari sisa anggur yang mungkin menempel. Ia langsung melemparkan lirikan tajam pada Ha Won, yang mengangsurkan tempat tisu kedekatnya. “Kau tidak seharusnya berkata seperti itu, sayang,” suara Rye Eun terdengar mengancam.

Ha Won hanya ngangkat bahu acuh mendengar nada mengancam itu, “aku hanya bertanya halmeoni,” ia berdalih. Lalu berpaling ke arah Tuan Shin, “apa menurutmu aku salah bertanya seperti itu?”

Tuan Shin menahan senyum geli menanggapi pertanyaan asal itu, ia ingin menimpalinya dengan jawaban yang pastinya akan semakin membuat Rye Eun malu. Tapi saat matanya menangkap raut kesal di wajah wanita yang begitu dipujanya, ia harus mengurungkan keinginan itu. Sebagai gantinya, ia hanya menjawab, “aku tidak tahu, mungkin halmeoni-mu bisa memberikan jawaban.”

“Ck, kalian sama gilanya. Dan kau nona muda, jaga mulutmu! Aku akan berlayar dengan teman-temanku, bukan dengan dia,” lirikan Rye Eun merujuk pada Tuan Shin yang tengah tersenyum.

“Benarkah?” tanya Ha Won pada Tuan Shin, pria tua itu mengangguk membenarkan ucapan Rye Eun. “Kenapa kau tidak ikut? Kau tidak khawatir? Mungkin saja, dia akan mengadakan pesta dengan banyak bujang bersama teman-teman nyentriknya itu?”

“Haish, anak ini benar-benar.”

Tuan Shin terbahak mendengar hal itu, “semoga saja itu tidak terjadi. Aku juga menyesal tidak bisa ikut dalam pelayaran itu, tapi besok aku sudah ada janji dengan temanku untuk menghadiri acara lelang barang antik di Mesir. Mungkin kami juga akan lama disana.” Tidak heran, selain dikenal dengan hobi traveling-nya, Tuan Shin juga dikenal gemar mengoleksi barang-barang antik dari berbagai negara.

“Oh, sayang sekali,”

Rye Eun mendengus sebal mendengar nada sedih yang begitu dibuat-buat oleh Ha Won. “Jung Ha Won, sekali lagi kau mengatakan hal yang tidak berguna. Maka aku akan…”

Ha Won mengangkat sebelah tangannya, menandakan Rye Eun untuk menahan ucapannya sejenak saat ponsel-nya berdering. “Tahan omelanmu halmeoni, anakmu menelpon.” Ha Won menunjukan nama penelpon yang tertera di layar ponsel-nya.

Rye Eun dan Tuan Shin terdiam memperhatikan Ha Won yang sedang berbincang dengan ayahnya. Tak lama setelah obrolan basa-basi, wajah Ha Won mulai berubah tegang. “Aku tidak akan melakukan hal itu appa,” tolaknya. “Kau sudah menyerahkan perusahaan ini kepadaku, dan itu berarti semua keputusan sudah berada ditanganku.”

“Aku hanya menyerahkan perusahaan itu untuk kau kelola Wonie, sementara keputusan penting tetap ada di tanganku. Dan kali ini, aku memerintahkanmu untuk melakukan hal itu!” tegas Jung Il Sook yang merupakan ayah Ha Won.

“Aku tidak mau, apapun yang terjadi aku tidak akan mengadakan kerja sama dengan perusahaan itu.”

“Dan aku tidak mau mendengar alasan apapun yang kau ucapkan. Kau harus mendapatkan proyek itu. Karena jika tidak, kau bisa mempersiapkan diri untuk mengelola tambang minyak kita yang ada di Afrika.”

“Apa? Kau pasti bercanda appa. Kau tidak mungkin setega itu padaku,”

“Semua pilihan ada ditanganmu Wonie, dapatkan proyek itu jika kau tidak ingin tinggal di Afrika,” belum sempat Ha Won menjawabnya. Il Sook sudah memutuskan telponnya.

Ha Won menelan ludah berat mengingat perintah dan juga ancaman ayahnya tadi. Il Sook adalah pria lembut yang sangat mencintai keluarganya. Tapi, jika sudah menyangkut pekerjaan, sikap profesional-nya akan sangat menonjol. Tak peduli meski dengan anak kandungnya sekalipun.

“Ada apa?” tanya Rye Eun khawatir, saat melihat wajah Ha Won yang mulai memucat sejak beberapa menit lalu.

Ha Won dapat merasakan dadanya sesak dan kepalanya berdenyut nyeri memikirkan apa yang harus ia lakukan. Il Sook tidak pernah bermain-main dengan ucapannya, dan Ha Won sudah tahu akan hal itu. Il Sook selalu jeli memperhatikan perkembangan setiap perusahaan yang dimilikinya, tak heran jika berita ini tentu saja sampai ketelinganya. Dan Ha Won yakin, jika sang ayah menganggapnya gila karena mengabaikan proyek raksasa itu. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Batinnya menjerit panik. Disaat seperti ini, ia merasa, akan lebih menyenangkan jika terlahir dari kalangan keluarga biasa.

“Wonie?” ulang Rye Eun, karena tak mendapati tanggapan.

Halmeoni…” Ha Won menjaga suaranya agar tidak terdengar tertekan, tapi ternyata ia gagal. “Kurasa, anakmu sudah mulai gila.”

Mwo???”

 

***

 

Lagi, untuk kesekian kalinya dalam beberapa waktu terakhir. Kyuhyun harus terbangun disaat ayam pun masih enggan membuka mata. Sudah satu minggu mimpi erotis itu selalu mengganggunya, membuat Kyuhyun tak lagi mampu menikmati waktu tidurnya dengan tenang. Pada awalnya, Kyuhyun selalu mengutuki mimpi sialan itu, bagaiamana mimpi itu bisa mempermainkan dan membuatnya terlihat seperti maniak idiot. Tapi, akhirnya ia sadar, mimpi itu terjadi karena besarnya hasrat yang ia miliki untuk menyeret wanita itu ke atas ranjangnya. Mimpi itu seperti perwujudan visual semu dari apa yang ada dibenaknya.

Kyuhyun mendudukan tubuhnya, lalu bersandar pada kepala ranjang. Kamar dengan design Marocco itu terlihat sangat elegan, tak dipungkiri lagi selera Kyuhyun yang begitu berkelas. Ia menarik selimut hingga ke pinggang, sudah tahu apa yang terjadi dibaliknya. Seperti malam-malam sebelumnya, tentu saja mimpi itu akan meninggalkan jejak di atas seprainya. Dan, ia sudah tidak ingin lagi memikirkan hal itu.

 

45474_393461140743405_859725129_n

            Kyuhyun sempat berniat untuk memeriksakan diri kepada seorang sexsolog, ia yakin hal ini sudah tidak sehat. Tapi, kemudian ia megurungkan niat itu, ia berpikir, daripada berusaha menolak mimpinya yang sama sekali mustahil untuk dilakukan. Kenapa tidak ia nikmati saja mimpi itu, daripada berusaha menghindarinya seperti penyakit yang mematikan. Meskipun pada kenyataannya, mimpi itu memang seperti penyakit. Karena, mengakui atau tidak, mimpi itu sudah berhasil menggerogoti kolam berahinya, membuat hasratnya kepada wanita lain seakan terbunuh dan memudar. Walaupun ia tetap melakukannya, tapi kepuasan yang ia dapat tak lagi sama. Masih belum cukup untuk memadamkan kobaran gairah dalam tubuhnya, karena yang ia inginkan adalah wanita itu yang harus melakukannnya, mendinginkan hasratnya yang telah terbakar dan menuntut kepuasan total.

Lama Kyuhyun terduduk diranjangnya, minikmati sisa-sisa mimpi indahnya. Ya, sekarang ia tak akan lagi memusuhi mimpi itu. Karena cara terbaik melawan musuh terbesar, adalah dengan merangkul musuh itu sendiri. Dalam kasusnya kali ini, yang Kyuhyun lakukan adalah melawan mimpi itu, dengan cara menikmatinya. Menikmati semua rasa yang dihasilkan mimpi itu.

Setelah merasa kondisi tubuhnya sudah normal dan tenang kembali, Kyuhyun bangkit berdiri. Menyambar jubah tidur yang tersampir pada lengan kursi yang tak jauh dari ranjang, mengenakannya, lalu mengikatnya asal. Ia berjalan pelan kearah ruang santai yang terdapat di kamar itu, bagian yang hanya dipisahkan dengan sebuah pilar kecil yang menjadi ujung dari deretan tralis. Bagian itu berada begitu dekat dengan jendela, membuat Kyuhyun dapat melihat bias fajar yang mulai muncul dengan malu-malu, merembas melalui sela-sela tirai jendela. Kyuhyun meraih gelas yang tersedia diatas meja, menuangkan air dari teko kristal yang diletakkan dibagian tengah gelas-gelas kecil itu. Menegaknya pelan, menikmati cairan dingin tanpa rasa itu mengaliri tenggorokannya yang kering. Mimpi itu menguras tenaga, dan juga membuatnya haus.

Merasa dahaganya sudah hilang, Kyuhyun meletakkan gelas itu kembali keatas meja. Lalu berbalik menghadap kearah jendela, dan dalam tiga langkah kecil, wajahnya sudah berada beberapa centi dari jendela. Fajar kian menyingsing seiring jarum jam yang terus memutar waktu. Kyuhyun membuka jendela itu, menghirup aroma embun yang langsung menerjang indera penciumannya. Aroma yang sangat menenangkan. Sudah lama sekali dari yang bisa ia ingat, kapan terakhir kali ia menikmati suasana fajar seperti ini.

Kyuhyun memandang dikejauhan, menatap takjub pada jingga yang menyebar indah diufuk timur. Satu hal yang ia syukuri dari waktu tidurnya yang terganggu, ia mendapat bayaran setimpal dengan keeksotisan alam buah karya sang pencipta. Detik berlalu dengan Kyuhyun yang belum beranjak dari tempatnya berdiri, masih terpesona pada fenomena alam yang begitu cantik. Tapi, hembusan angin musim dingin yang begitu menggigit, membuatnya tak tahan berlama-lama membuka jendela sepagi ini. Ia segera menutup jendela itu sebelum tubuhnya menggigil.

Berbalik, Kyuhyun memandang jam dinding yang masih menunjukan waktu subuh. Menyadari tak ada yang bisa ia lakukan sepagi ini, akhirnya ia memutuskan untuk berendam didalam jaguzzi. Sepertinya, memanjakan diri dengan air hangat beraroma terapi, cukup menarik untuk melenturkan sendi-sendinya yang sempat menegang.

 

***

 

Ha Won terlihat tak bersemangat duduk dikursi kerjanya, semalaman ia nyaris tidak dapat tertidur karena terus memikirkan apa yang harus ia lakukan. Membujuk ayahnya untuk menarik kembali perintahnya, itu merupakan hal mustahil. Tapi ia juga tidak mungkin, menuruti perintah itu. Karena, hal itu sama saja menjadi jembatan yang akan menghubungkan dirinya dengan bajingan pesolek itu. Ck, ia benci saat otaknya tak mampu menghasilkan jalan keluar yang menurutnya tepat. Ia teringat bagaimana terkejutnya Rye Eun, saat ia menceritakan apa yang ayahnya perintahkan.

“Hei, apa maksud kata-katamu tadi, kau mengatakan jika anakku sudah mulai gila? Tidakkah kau sadar jika anakku itu adalah ayahmu?” tanya Rye Eun, terkejut mendengar ucapan Ha Won.

Tuan Shin sudah pulang, saat menyadari situasi yang mulai tidak nyaman untuk melanjutkan acara bertamunya. Ha Won berdecak pelan mendengar pertanyaan sang nenek, wajar memang. Karena pernyataannya yang sungguh tidak sopan itu. Tapi kali ini appanya memang benar-benar gila, bagaimana mungkin ia menyuruhnya mengadakan kerja sama dengan Globa Corp? Perusahaan yang amat sangat ia hindari, dan jika ia mau jujur, bukan perusahaan itu yang ia hindari. Tapi kepada sang pemiliklah masalahnya berada. Bajingan tampan itu, meski ia tidak ingin mengakuinya, tapi Kyuhyun memang tampan.

“Maksudku bukan begitu halmeoni, tapi… Ya Tuhan, tidakkah menurutmu appa-ku sudah gila karena memerintahkan untuk mengadakan kerjasama dengan Global Corp? Kau pasti sadar, jika aku menangani proyek itu, dengan siapa aku akan berhubungan.”

Mwo? Global Corp? Itu artinya, kau akan berurusan dengan… pria tampan itu?”

“Tepat. Tapi, tidak bisakah kau berhenti menyebutnya tampan?” Ha Won jengah tiap kali mendengar neneknya menyebut kata ‘Pria Tampan’ yang ditujukan pada Kyuhyun.

Wae? Dia memang tampan. Dan menurutku bukan anakku yang gila, tapi kau.”

“Aku?”

“Ya, kau gila karena tanpa alasan yang jelas kau membenci pria itu.”

“Kebencianku beralasan, halmeoni,”

“Benarkah? Memangnya apa yang sudah ia lakukan hingga membuatmu begitu membencinya? Apa dia pernah… maksudku, apa dia pernah bertindak tidak sopan, seperti…”

“Tidak. Tidak.” Ha Won buru-buru mencegah Rye Eun melanjutkan kata-katanya, ia tahu apa yang akan neneknya ucapkan. Ia bahkan merasakan wajahnya memanas sekaligus ngeri, saat membayangkan apa yang Rye Eun maksud.

“Lalu? Kau tentu tidak mungkin membencinya tanpa alasan, bukan?”

“Tidakkah menurutmu pemberitaan tentang berbagai scandal yang ia lakukan, sudah cukup menjadi alasan mengapa aku membencinya?”

Rye Eun menggeleng pelan, mendengar alasan Ha Won yang menurutnya terlalu dipaksakan. “Wonie, dia itu pria. Tentunya kau tahu, apa yang biasanya para pria lakukan, bukan? Apalagi pria dengan kemaskulinan nyata seperti yang dimilikinya, tanpa ia bertindakpun para wanita sudah rela melemparkan diri kepelukannya.”

“Dan aku tidak ingin berurusan dengan pria seperti itu, mengganggap wanita hanya sebagai objek kesenangan. Bukankah, hal itu membuatnya terlihat seperti seorang maniak?”

Rye Eun menarik nafas dalam, ia tahu bukan hanya itu alasan Ha Won. Ia yakin masih ada hal lain yang menyebabkan Ha Won begitu menjaga jarak dari pria muda dan tampan itu. Tapi, Rye Eun tidak ingin membuat cucunya semakin tertekan, mungkin ini memang akan menjadi masalah besar bagi Ha Won. “Lalu, apa yang akan kau lakukan? Menolak perintah itu?”

“Seandainya bisa. Tapi appa mengancamku?”

“Maksudmu?”

“Dia akan mengirimku ke Afrika.”

“Apa? Tambang minyak itu? Kau serius?” tanya Rye Eun tak percaya.

Ha Won mengangkat bahu lemah, “yah, begitulah yang dia katakan,” jawabnya lirih.

“Tambang itu bahkan nyaris tidak menghasilkan apa-apa lagi, dan aku heran kenapa hingga saat ini, Il Sook belum juga menjualnya.”

“Dan kau pikir akan ada orang bodoh yang mau membelinya?” Rye Eun terdiam. Benar juga apa yang Ha Won katakan. Manusia bodoh mana yang mau membeli lahan kosong tanpa hasil? Tambang itu, merupakan satu-satunya kesalahan besar yang mendiang suaminya dulu lakukan. Gelap mata karena bujukan teman-teman dari asosiasi pengusaha dunia yang dia ikuti.

Ha Won masih merasakan gemetar menjalari tubuhnya, memikirnya dua pilihan yang sama sulitnya dan tidak mungkin dapat dipilih. Membayangkan apa yang akan terjadi jika ia menjalankan perintah itu, membuat tubuhnya bergidik ngeri. Hal ini pasti akan mendatangkan kesenangan tersendiri bagi bajingan itu. Mengingat bagaimana yakinnya pria itu jika mereka akan bertemu kembali setelah pesta dansa Tuan Choi, Ha Won berani bertaruh untuk itu. Sialan, ia mulai curiga jika sebenarnya Kyuhyun mempunyai tujuan lain atas tindakannya ini. Dan, terkutuklah pria itu karena membuatnya terjebak dalam situasi yang tidak menyenangkan. Seandainya sepertia biasa, pria itu menggunakan perusahaan advertising miliknya sendiri, tentu Ha Won tidak akan mendapati kerumitan ini.

Dilain pihak, bisa saja ia terbebas dari bayangan kerjasama ini. Seandainya, ia mau –atau lebih tepatnya, berani- tinggal dinegara gersang dan mengelola tambang yang sudah tau pasti akan seperti apa hasilnya. Tapi sialan, tidak, ia tidak se-frustasi itu hingga mau menghabiskan waktu mengerjakan hal yang sia-sia. Ayahnya benar-benar berniat membuangnya jika sampai tidak mendapatkan proyek ini.

“Wonie, menurutku tidak ada salahnya kau mencoba berkerja sama dengan si tampan itu. Mungkin, selain mendapatkan proyek itu, kau juga bisa mendapatkan sang pemilik. Jika kau tau maksudku,” Rye Eun sedikit tersipu mengatakan pendapatnya.

Ha Won ternganga mendengar usulan sang nenek, kepalanya menggeleng frustasi. Ia tahu, dan ia paham apa yang Rye Eun maksud. Dan ia tidak setolol itu hingga mengharapkan hal yang mengerikan itu terjadi. “Sepertinya, untuk kali ini kau bahkan tidak bisa memberiku saran yang tepat.”

 

***

 

Ha Won mendesah lemas dikursinya, bahkan Rye Eun pun kali ini tak bisa ia andalkan untuk mencari solusi. Wajar saja, karena bisa dikatakan, Rye Eun merupakan salah satu penggemar pria itu. Bahkan, Rye Eun dengan terang-terangan mengatakan jika Cho Kyuhyun merupakan topik favorit dalam obrolannya dan teman-teman perkumpulannya. Ha Won menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya dengan kuat. Bukan seperti dirinya yang biasa, hari ini ia benar-benar terlihat tidak bersemangat. Lagi-lagi, diluar kebiasaannya, Ha Won meminum Martini disiang hari, melihat udara dingin yang tengah melingkupi Seoul, ia rasa ini bukan hal janggal. Dan, Ha Won sedang tidak ingin diganggu, ia juga meminta semua meeting hari ini untuk ditunda. Keadaannya tidak memungkinkan untuk mengerjakan apapun.

“Mabuk disiang hari nona?” tanya seorang wanita yang tiba-tiba menghambur masuk ke ruangannya, tanpa mengetuk pintu. Jaera melenggang mendekati Ha Won, yang hanya meliriknya sekilas, sebelum kembali meraih gelas berkaki di hadapannya.

“Mau bergabung?” tawar Ha Won, mengangkat gelasnya lebih tinggi.

“Tidak, terim kasih. Aku tidak terbiasa minum alkohol disiang hari,” tolak Jaera sambil duduk di kursi yang ada di seberang Ha Won.

“Lalu? Untuk apa kau kemari? Aku tidak merasa memintamu datang.” Ha Won tidak bermaksud menyinggung sahabatnya itu, tapi, saat ini dia sedang tidak ingin diganggu.

“Hanya mampir sebentar, aku baru saja mengantar anakku ke tempat latihan ballet,” jawab Jaera. Matanya menyipit memperhatikan Ha Won, yang sejak tadi tidak benar-benar menatapnya. Seperti menyembunyikan sesuatu. Bahkan, tidak seperti biasanya, hari ini Ha Won hanya merias wajahnya asal. Meski Ha Won bukan tipe wanita yang suka menggunakan make up tebal, karena kecantikannya sudah tampak meski hanya dengan sedikit polesan. Tapi tidak dengan penampilan asal seperti ini. Ini tidak seperti sahabatnya. “Apa kau ada masalah? Kau tidak mungkin tampil asal-asalan seperti ini, jika tidak sedang dalam keadaan kacau.”

“Apa hal itu mengurangi pesonaku?”

“Oh, tidak. Satu-satunya yang bisa dilakukan untuk mengurangi pesonamu, hanya jika kau membungkus wajahmu seperti mummi,” sahut Jaera ketus, jengkel karena Ha Won mengabaikan pertanyaannya dengan lelucon konyol.

Ha Won tidak ingin tersenyum, suasana hatinya sedang tidak mengijinkan ia untuk tersenyum. Tapi melihat kekesalan diwajah Jaera, tak urung membuat sudut bibirnya sedikit tertarik. “Jadi, bisa kau menjawab pertanyaanku tadi?” tuntut Jaera tak sabar. Ia benci merasa penasaran.

Untuk kesekian kalinya Ha Won menarik nafas lelah, membahas masalah ini, membuatnya merasa terjebak dalam Taman Labirin. Hanya berputar-putar ditempat yang sama, dengan kesulitan mencari jalan keluar. “Aku ingin terjun ke jurang,”

Mwo??? Hei, kau ini sebenarnya kenapa? Masalah apa yang membuatmu nyaris gila seperti ini?”

“Aku bahkan sudah gila Lee Jaera, bukan nyaris. Tak ada pilihan yang bisa kuambil tanpa merugikanku,” geram Ha Won.

“Dan, apakah masalah itu?”

Global Corp,”

“Oh, aku mengerti.”

“Tidak. Kau tidak mengerti, ini….”

Floating Paradise?” Ha Won mengerutkan kening, lalu mengangguk. “Ya Tuhan, apa yang membuatmu nyaris gila dengan Hotel menakjubkan itu? Ini benar-benar kejadian langka. Tidak ada yang tahu, alasan Global Corp melempar proyek ini kepasar bisnis. Tapi, apapun alasannya, ini benar-benar berita baik. Sepupu Jiyong bahkan sudah mengajukan penawaran, tepat di hari pemberitaan itu keluar.” Jaera berhenti sejenak, ia bisa menebak apa yang tengah dialami sahabatnya ini. Bertahun-tahun mereka bersahabat, membuatnya tahu masalah apa yang mungkin tengah terjadi pada Ha Won, bahkan sebelum wanita itu bercerita. “Apakah kau diharuskan mengajukan penawaran juga?”

Mata Ha Won terbelalak, terkejut. “Bagaimana kau bisa tahu?”

“Biar kutebak, pasti appa-mu ikut andil dalam masalah ini?” tarikan nafas lemas Ha Won dan bahu yang merosot, hingga punggung yang disandarkan tanpa tenaga ke kursi kerjanya, sudah cukup menjadi jawaban bagi Jaera atas pertanyaannya. Wanita itu tertawa, tanpa peduli akan lirikan kesal Ha Won. Tebakannya selalu benar, tentu saja, raut frustasi di wajah Ha Won sudah menjelaskan semua itu. Tidak ada satu orangpun didunia ini yang mampu membuat Ha Won tidak dapat berkutik selain ayahnya. Dan, yang semakin memperkeruh keadaan ini adalah kenyataan bahwa masalah ini berhubungan erat dengan pria yang begitu dibencinya, sang playboy tampan.

“Jadi, kali ini apa yang akan menimpamu, jika kau menolak perintahnya?”

Jemari Ha Won bergerak malas memainkan kaki gelasnya, mengusap-usap bagian yang membundar itu dengan telunjuknya. “Membuangku ke Afrika,” jawabnya tanpa semangat.

Kedua alis Jaera saling bertautan, “Afrika?” tanyanya tak paham.

“Mengelola tambang minyaknya yang bahkan sudah tidak ada hasil,” jawabnya pahit.

Jaera langsung terduduk tegak dari posisinya menyandar tadi, ini ancaman yang paling mengerikan. “Jung Ha Won, kusarankan kau harus mendapatkan proyek itu. Aku tidak perduli meski sepupu Jiyong juga mengharapkan proyek itu. Aku lebih tidak ingin kehilangan dirimu, apalagi dengan cara diasingkan seperti itu. Appa-mu benar-benar mengerikan.”

“Tidak, jika aku harus berhubungan dengan bajingan itu,” desis Ha Won dengan gigi menggertak kesal. Ini akan menjadi mimpi buruk terpanjang selama hidupnya jika sampai ia mengikuti saran Jaera.

“Oh, jadi kau lebih memilih dibuang dan terasingkan kenegara gersang itu? Begitukah maksudmu sahabatku yang bodoh?” Jaera tersenyum melihat tatapan membunuh Ha Won, karena mengatakan wanita itu bodoh. Tapi kali ini tidak ada bantahan dari Ha Won, sepertinya ia memang benar-benar sudah frustasi. “Jangan bodoh Wonie, kau harus mengesampingkan kebencianmu itu. Tak ada gunanya kau terus memusuhi pria itu, untuk saat ini. Kau hanya perlu menawarkan kerjasama secara profesional, bukan menawarkan tubuhmu untuknya.”

“Lee Jaera!!!” pekik Ha Won terkejut mendengar kalimat terakhir Jaera, tidak menyangka sahabatnya bisa mengatakan hal menjijikan seperti itu.

“Aku hanya mengatakan yang sebenarnya Wonie, kali ini kau tidak ada pilihan.” Jaera mengangkat bahu ringan, karena inilah kenyataannya. Ha Won harus mengesampingkan rasa bencinya, hanya itu solusi yang ada.

“Aku tidak sudi menjalin hubungan dalam hal apapun dengan pria itu,” Ha Won bersikeras.

Jaera menghembuskan nafas jengkel melihat kekeras kepalaan Ha Won, wanita itu sudah berada diujung tanduk, tapi masih saja mempertahankan gengsinya untuk mengakui jika dia tidak memiliki pilihan lain. “Baiklah, semua keputusan ada padamu. Aku hanya menyarankan, karena aku tidak ingin melihatmu terpanggang kering dan menghitam di tempat itu.” Ia melirik pergelangan tangannya, melihat jam tangannya sejenak. “Seperti kataku tadi, aku hanya mampir sebentar. Aku harus segera pergi, dan… selamat berperang melawan gengsimu, sayang.” Senyum mengejek sempat ia lemparkan, sebelum beranjak pergi meninggalkan Ha Won dengan rahang mengencang menahan gumpalan kekesalan dan keputusasaan.

Ia tidak ingin mengikuti apapun kata-kata Jaera, tidak. Tapi semua perkataan wanita itu benar. Posisinya saat ini, tidak memberinya pilihan lain. Ia benci berada dalam situasi terjepit seperti ini.

 

***

 

Kyuhyun merasa Dewi Fortuna sedang menaungi dirinya, saat tiga hari lalu Ji Hoon menyerahkan apa yang sudah dia tunggu-tunggu. Berkas penawaran kerjasama dari J.I.A Advertising, perusahaan periklanan milik wanita yang sudah berhasil mengguncang ketenangannya selama ini. Akhirnya, entah apa yang membuat wanita itu memutuskan mengirimkan penawaran ini setelah hampir seminggu dari waktu pemberitaan awal. Mengingat kebencian besar yang wanita itu tunjukan padanya. Ia bahkan sempat berpikir, akan membutuhkan persediaan kesabaran ekstra untuk menunggu wanita itu bergerak.

Senyum licik muncul, saat ia membayangkan bagaimana reaksi Ha Won ketika kembali bertemu dengannya. Saat ini, Kyuhyun tengah berada dalam sebuah Private Room Restoran Perancis. Ia sengaja memilih siang ini untuk mengadakan pertemuan awal dengan wanita itu. Berdasarkan laporan Ji Hoon, yang mengatakan jika wanita itu bersedia mengadiri pertemuan yang sudah ia atur ini. Bagus. Kyuhyun sudah tidak sabar, melihat kembali sosok penghuni tetap mimpi panasnya sejak beberapa minggu lalu.

Memang, sejak pesta dansa Tn. Choi waktu itu, belum ada lagi kesempatan yang bisa membuatnya bertemu dengan wanita itu. Acara amal, yang bahkan pernah mereka hadiri bersama, kali ini tidak cukup menarik wanita itu untuk terjun secara langsung seperti tahun lalu. Tahun ini, ia mengirimkan wakilnya untuk menghadiri acara yang sudah menjadi kegiatan sosial tetap para pengusaha itu setiap tahunnya. Membuat kesempatan Kyuhyun untuk dapat bertemu dengan wanita itu semakin terbunuh. Bisa saja sebenarnya ia mengirimkan undangan langsung untuk bertemu dengan wanita itu. Yang ia yakin dengan sangat, akan langsung ditolak tanpa sempat masuk kepikiran wanita angkuh itu, Kyuhyun bahkan berani bertaruh untuk hal ini.

Ha Won tidak akan membiarkan dirinya terlihat murahan karena menerima ajakan kencan secara terang-terangan seperti itu. Kyuhyun mendengus kecil, memikirkan kegilaan yang tengah menyerangnya. Ia seperti bocah yang begitu menginginkan mainan, hingga rela melakukan hal-hal yang tidak ingin ia lakukan demi mendapatkan keinginannya. Wanita? Sejak kapan ia menjadi pria licik dalam hal wanita. Belum pernah sekalipun ia merasakan dorongan yang begitu besar untuk mendapatkan seorang wanita seperti ini, bahkan ketika ia masih remaja. Dan tentu saja, di usianya yang sudah bisa dikatakan matang, hal itu semakin terlihat konyol. Tapi, selalu ada kali pertama untuk segala hal. Dan, apakah ia bisa mempercayai pepatah kuno itu?

Perguliran waktu, membuat mimpi itu berhasil membuat rasa penasarannya semakin bergolak kuat. Kubangan gairah yang mendidih dalam tubuhnya menghasilkan letupan-letupan yang memaksa untuk menyeret wanita itu keatas ranjang secepatnya. Namun, mengingat seperti apa wanita yang akan dihadapinya, ia tak dapat mengunakan cara kotor dan ia tidak akan pernah memaksa seorang wanita. Itu hal yang paling memalukan. Tidak ada dalam sejarah seorang Cho Kyuhyun, ia harus merobek pakaian wanita, harus para wanitalah yang bersedia menanggalkan pakaian mereka sendiri untuknya. Itu baru benar.

Dan, jika memang ia harus bersabar untuk menunggu Jung Ha Won menanggalkan pakaiannya, maka ia akan menunggu. Wanita itu terlalu indah untuk diperlakukan seperti wanita-wanita yang ia kencani selama ini. Daya tarik wanita ini benar-benar berbahaya.

 

***

 

Ha Won tak ingin terlihat tegang, tidak saat harus bertatap muka dengan bajingan itu. Tapi, tetap saja ia berdebar saat sekretarisnya kemarin memberitahukan bahwa surat penarawan mereka mendapat tanggapan dari Global Corp. Dan, Kyuhyun memutuskan siang ini waktu yang dia tentukan untuk membahas kelanjutan dari penawaran itu. Kini, Ha Won mulai merasakan hatinya gelisah tanpa alasan yang jelas.

Berbalut busana resmi yang tetap terlihat modis, dress coklat itu melekat pas di tubuh rampingnya dengan menampilkan lekukan yang menawan, Ha Won berjalan enggan memasuki restoran yang sudah ditetapkan. Ini kali pertama Ha Won benar-benar berhubungan secara profesional dengan pria itu. Dan, ia khawatir tidak sanggup bersikap profesional dengannya. Mengingat apa yang terjadi saat terakhir kali pertemuan mereka. Ia tidak yakin mampu menaham emosi, yang sudah pasti akan terus terpancing. Ha Won mencoba menghitung sampai sepuluh dalam hati. Berusaha menepis ketegangan yang masih bergelayut di tubuhnya.

Dihadapannya saat ini, didalam sebuah private room dalam restoran Perancis ternama. Pria itu berdiri menyambut kedatangannya, dengan gagah, tegap, dan mempesona. Tampan seperti biasa, hal yang tidak pernah ingin Ha Won akui, meski nyatanya Kyuhyun memang tampan. Ha Won berpikir, kapan Kyuhyun bisa terlihat jelek, tanpa ketampanan mengintimidasi seperti itu? Ha Won berani bertaruh, sekalipun hanya kain kotor yang digunakan pria itu, ia akan tetap terlihat memukau. Egois, Kyuhyun akan membuat pria lain terlihat menyedihkan jika disejajarkan dengannya.

“Senang bertemu kembali denganmu, Nona Jung,” Kyuhyun menyulurkan tangan.

“Kuharap, aku bisa merasakan hal yang sama, Tuan Cho.” Ia menyambut uluran tangan Kyuhyun dengan kaku. Sedikit terkejut saat merasakan kehangatan yang menyelimuti tangannya, menjalar hingga ke punggung. Tak ingin terlarut pada godaan awal pria itu, Ha Won segera menarik tangannya.

Kyuhyun menggerakan tangannya, mempersilahkan Ha Won untuk duduk. Wanita itu berusaha duduk senyaman mungkin di kursinya, tapi saat ini, hal itu menjadi sesuatu yang sulit. Tentu saja, kenyamanan menjadi hal yang sangat sulit didapat, jika berada disekitar pria itu.

Dengan kurang ajar, Kyuhyun membiarkan matanya menjelajah sesukanya pada tubuh Ha Won. Memuaskan dahaga akan sosok cantik dihadapannya. Kyuhyun bertanya-tanya dalam hati, akan seperti apa tampilan di balik pakaian itu? Atau bagaimana saat rambut coklat itu terurai diatas bantalnya, lembab, berkeringat? Oh, God. Haruskan wanita ini begitu mempengaruhinya sedemikian rupa? Kyuhyun memperbaiki posisi duduknya, tak ingin terlihat menjijikan seperti pria budak berahi yang tak mampu mengontrol diri.

Ha Won, harus ekstra menahan diri untuk tidak menyambar botol wine yang ada dihadapan mereka dan membenturkannya kekepala Kyuhyun, atas pelecehan tersirat yang pria itu lakukan pada dirinya. Ia tahu dari pandangan Kyuhyun, apa yang tengah berkecamuk di pikiran pria itu. Semoga Tuhan memberi kesabaran ekstra padanya, untuk menghadapi bajingan ini. Matanya memandang Kyuhyun tepat di manik hitamnya, menunjukan ketidak sukaannya pada pria itu.

Kyuhyun hanya menunjukan wajah datar, meski dalam hati ia tersenyum. Wanita ini tahu apa yang ada dikepalanya. Baguslah, wanita itu harus tahu apa yang dia inginkan darinya. Menarik pandangannya dari tatapan menantang Ha Won, Kyuhyun mengambil buku menu, seorang pelayan yang sejak tadi berdiri didekat mereka sama sekali tidak menyadari pertarungan emosi tersirat yang terjadi dihadapannya.

“Kau ingin memesan apa?” tanya Kyuhyun, mengangkat pandangannya dari daftar menu. Menuggu Ha Won menjawab.

“Aku tidak lapar, mungkin sebaiknya kita….” Ha Won bersumpah, hal yang saat ini sangat ingin ia lakukan adalah berlari sekencang mungkin dari hadapan pria ini, manakala perutnya berkhianat dengan melakukan hal yang membuat urat malunya bergetar. Bagaimana mungkin, perutnya bisa menghasilkan bunyi memalukan seperti itu? Ya Tuhan, mungkin kau bisa mencabut nyawaku sekarang, daripada harus menanggung malu dihadapan Kyuhyun yang berusaha bersikap datar. Meski ia tahu pria itu berusaha menahan diri untuk tidak tertawa keras-keras.

“Terkadang, rasa lapar dan gengsi memang tidak selalu sejalan.” Kyuhyun berkomentar, sambil kembali melihat buku menunya.

Ha Won berani bersumpah jika ia melihat senyum samar yang berusaha ditutupi pria itu. Sialan. Ia memang sampai tidak sempat sarapan, dan beberapa hari ini ia memang tidak nafsu menyentuh makanan apapun. Pikirannya dipenuhi tentang bagaimana ia harus menjalin hubungan bisnis dengan pria ini, sementara emosinya selalu terpancing jika milihat wajah Kyuhyun. Membayangkan akan seringnya ia berjumpa dengan pria itu, membuat pikirannya semakin kacau.

“Mau kupilihkan?” tawar Kyuhyun

Cepat-cepat Ha Won meraih buku menunya. Ia tidak akan membiarkan pria itu, sedikit saja bertindak atau melakukan putusan sekecil apapun atas dirinya. Memberikan sedikit kewenangan pada pria itu, maka tangan besarnya akan meraup lebih banyak lagi. “Aku bisa memilih sendiri,” dengan angkuh wanita itu menyebutkan makanan apa yang dia inginkan.

Pelayan tadi beranjak pergi setelah menerima pesanan makanan yang kedua orang itu sebutkan. Kesunyian mulai menguasai ruangan mewah itu, masing-masing asistant mereka menunggu diluar ruangan. Hanya dua raga itu yang menempati ruangan dengan nuansa Prancis yang begitu kental, membuat pertemuan bisnis itu terlihat seperti sebuah kencan. Ha Won kembali mendapati ketidak nyamanan yang menyerangnya. Berduaan dengan Kyuhyun adah hal yang paling ingin ia hindari.

“Warna merah lebih cocok untuk kulitmu,” itu bukan kata-kata yang ingin Ha Won dengar pada pertemuan bisnis seperti ini. Kyuhyun menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi dengan tangan bersedekap didada, dan pandangan menilai yang ia tujukan pada Ha Won.

Ha Won menahan sakit, saat ia harus menggigit bagian dalam pipinya untuk mencegahnya menyumpahi pria ini, ia berdeham kecil, sebelum berkata, “kurasa itu bukan bagian dari topik yang akan kita bahas siang ini, Tuan Cho.”

“Aku yakin, dengan rambut indahmu itu, kau akan semakin terlihat berkilau. Apalagi. kau memiliki pinggul yang menakjubkan, dan juga kaki jenjang yang…”

“Tuan Cho,” Ha Won menggeram kecil saat Kyuhyun tak menanggapi ucapannya dan justru melanjutkan kata-kata konyolnya, yang menurut Ha Won merupakan hal yang tidak patut untuk dibahas di restoran. “Kau sudah melantur jauh dari apa yang membuat kita melakukan pertemuan ini.”

“Ya, aku tahu alasan pertemuan ini, nona.”

“Tapi, kau…”

“Aku hanya mengatakan jika warna merah cocok untukmu.”

“Aku tidak akan pernah memakai apapun yang berwarna merah, merah akan membuat wanita terlihat murahan.”

“Oh, aku berani bertaruh jika kau yang mengenakannya, warna itu akan terlihat lebih berkelas. Percaya padaku,”

“Apa kau sudah beralih profesi menjadi pengamat mode?”

Kyuhyun mengangkat bahu santai, “hanya ingin tahu, seperti apa dirimu dalam balutan warna merah.”

“Dan, kau menginginkan aku mengenakan pakaian berwarna menjijikan itu?” cibir Ha Won. “Kau bisa membayangkannya dalam mimpimu,Tuan Cho.”

“Oh, kau akan menyesal jika tahu apa yang selalu aku impikan, nona.”

“Benarkah?” tantang Ha Won, “dan seperti apakah mimpimu itu?” tanyanya tanpa rasa ingin tahu.

Satu sudut bibir Kyuhyun tertarik membentuk senyum miring, sebelum berkata “Kau berada diatas ranjangku, telanjang, dan…”

“STOP!!!” pekik Ha Won, terkejut dan tidak ingin mendengar kelanjutannya. Ia tidak menyangka Kyuhyun bisa mengucapkan kata-kata menjijikan itu didepannya. Nafasnya seolah menyangkut ditenggorokan saat membayangkan apa yang Kyuhyun katakan. Itu pasti hanya bualan menjijikan yang dia ucapkan untuk membuatku kesal, pikir Ha Won.

“Kenapa? Tidakkah kau ingin tahu kelanjutannya?”

“Kau menjijikan!” Ha Won menghardik kesal. “Aku menghadiri pertemuan ini, untuk membahas tentang kerjasama yang kutawarkan, bukan untuk mendengarkan ucapan mesummu.” Lepas sudah amarah yang awalnya tidak ingin ia masukan dalam bumbu pertemuan ini. Belum pernah selama ini, ia menemukan masalah apapun dalam pengadaan kerjasama. Dan, tidak ada satupun relasinya yang bisa memancing amarahnya, hingga menghasilkan ledakan emosi seperti ini. Tapi sekarang, hal ini tidak bisa dicegah saat mulut busuk pria itu menyeruakan ucapan-ucapan sampah yang membuat wajahnya terbakar.

 

***

 

Kyuhyun harus mengerahkan kendali dirinya lebih banyak lagi. Kedua otot tangannya mengencang, karena penahanan ekstra. Melihat aramah Ha Won yang meledak, semakin terbayang pergulatan macam apa yang akan ditemuinya diatas ranjang nanti. Dapat ia pastikan, Ha Won bukanlah tipe wanita yang hanya menerima dengan pasrah. Tidak, ia berani bertaruh, Ha Won akan ikut berpartisipasi dalam permainan panas yang akan mereka ciptakan. Nanti. Kyuhyun bersumpah, mereka akan merasakan pergulatan gairah yang sesungguhnya. Hanya perlu kecerdikan, dan tentunya kelicikan kecil untuk menempatkan wanita itu diranjangnya.

“Kau tidak perlu semarah itu, nona,” kata Kyuhyun santai. Ia meraih botol wine dihadapannya, mengisi gelas Ha Won lebih dulu sebelum melakukan hal yang sama pada gelasnya. “Mungkin, kau butuh sedikit minum agar bisa lebih rileks lagi. Apakah pertemuan ini membuatmu tegang? Oh, aku menyesal jika hal ini mengusik ketenanganmu,” lanjutnya tanpa rasa penyesalan sama sekali.

Ha Won memejamkan matanya beberapa detik, untuk tidak mengumpat atas kepura-puraan pria itu. Ia kembali menghitung dalam hati, mencoba meredakan debaran di dadanya yang, sialnya tidak mau menghilang sejak ia menapaki restoran ini. “Bisa kita mulai pembicaraan bisnis kita, Tuan Cho? Aku akan menganggap apapun yang tadi kau katakan tidak pernah bersinggungan dengan indera pendengaranku,” Ha Won mencoba berkata setenang mungkin. Ia harus menarik topik bisnis ini sekarang, semakin cepat pembahasan proyek kerjasama ini dilakukan, maka semakin cepat pula ia bisa menyingkir dari hadapan pria ini.

“Aku tidak bisa berpikir dengan perut kosong, dan pembahasan ini akan membutuhkan pemikiranku, bukan begitu?”

Ha Won menarik nafas pelan dan dalam, untuk kali ini, ia menyetujui ucapan Kyuhyun. Ia tidak mungkin memaksa pria itu untuk melakukan pembahasan dengan terburu-buru, karena itu juga tidak sesuai dengan etiket. Setiap pembicaraan kerjasama tidak boleh didominasi salah satu pihak. Kedua belah pihak harus sama-sama ikut andil didalamnya. Baiklah, Ha Won akan berusaha bertahan terkurung dengan tidak rela bersama pria ini. Bagaimanapun juga, ia harus mendapatkan proyek ini. Ayahnya belum menghubunginya lagi, sejak terakhir kali membombarbir ketenangannya dengan perintah kerjasama ini.

Hufh. Ha Won benar-benar berharap kali ini Kyuhyun bisa bersikap bijak dengan tidak mengulangi kata-kata bodohnya seperti tadi. Mungkin, pria itu memang dalam keadaan lapar, hingga mengganggu kinerja otaknya. Semoga setelah perutnya terisi, Kyuhyun suda bisa diajak bicara dengan baik tanpa harus memancing denyut emosinya.

Untuk beberapa saat, keheningan menyebar diruangan itu. Kyuhyun meletakan kembali gelasnya setelah menyesapnya sedikit. Pintu terbuka disusul kemunculan seorang pelayan yang tengah membawakan pesanan mereka. Setelah semua makanan tersaji dengan rapih dan ditata dengan cantik, pelayan itu kembali meninggalkan ruangan. Kyuhyun menggerakan tangannya mempersilahkan Ha Won untuk mulai mencicipi.

“Sebelumnya, aku tidak begitu tertarik dengan bagian-bagian yang tidak tersembunyi dari tubuh wanita. Tapi, untuk kali ini aku harus mengakui jika kau memiliki tulang selangka yang indah.” Ha Won tidak mengharapkan Kyuhyun kembali membahas topik seperti ini, setelah beberapa menit mereka disibukan dengan makanan mereka.

Ucapan Kyuhyun tadi, mau tidak mau memaksa Ha Won untuk kembali melemparkan tatapan tajamnya pada pria itu. Selama ini, ia menyangka jika otak Kyuhyun hanya diisi dengan segala pemikiran untuk bagaimana cara mengepakan sayap bisnisnya kesetiap penjuru dunia. Tapi, ternyata sebagian otak itu hanya berisi pikiran kotor tentang atribut wanita dan cara menikmatinya. Ya Tuhan. Mungkinkah ia sanggup membangun hubungan bisnis dengan pria seperti itu.

Seolah menegaskan maksud ucapannya, Kyuhyun sengaja berlama-lama memandangi tulang selangka Ha Won. Dan sesekali menurunkan pandangannya pada bagian yang mengunduk indah, dibagian depan tubuh wanita itu. Tidak, bukan hanya bagian-bagian itu yang indah. Tapi segala yang dimiliki wanita ini adalah wujud keindahan yang sesungguhnya. Kyuhyun merasa kepalanya mulai pusing membayangkan seperti apa, tampilan dibalik pakaian itu yang sesungguhnya. Apakah sama seperti apa yang selama ini berkeliaran di mimpi-mimpi panasnya, ataukah ada kejutan fantastis yang melebihi khayalannya?

“Kita sudah sepakat untuk tidak membahas masalah lain, selain tentang proyek ini, Tuan Cho,” Ha Won mengingatkan. Kedua tangannya mencengkram pisau dan garpunya dengan kuat.

“Apapun yang akan kita bahas nanti, belum tentu akan membuatku tertarik untuk bekerjasama denganmu, Nona,”

Ya, tentu. Tentu saja. Kyuhyun tidak perlu mengatakannya seolah ini kali pertama Ha Won melakukan hubungan bisnis. “Aku tahu,”

“Tapi, semua ini akan berjalan lancar sesuai dengan keinginanmu, jika kau bisa memberikan apa yang kuinginkan.”

Ha Won tidak ingin tahu apapun keinginan itu. Tidak. Ia memerintahkan hatinya untuk tidak memikirkan apa keinginan Kyuhyun, yang akan melancarkan kerjasama ini, dan menyingkirkan niat ayahnya untuk mengasingkannya ke Afrika. Tapi ia kalah dengan rasa penasarannya, “dan apa keinginan itu?”

“Hanya memberiku kebebasan untuk bisa melihat dan merasakan semua yang ada dibalik pakaianmu.”

Terdengar bunyi dentingan pisau dan garpu yang terbanting diatas piring, saat kalimat yang diucapkan dengan ringan itu menerobos indera pendengaran Ha Won dan segera memerintahkan otaknya untuk melepaskan amarah yang sejak tadi berusaha dikuncinya. Pria ini sudah berhasil membuat kepalanya nyaris pecah menahan gejolak emosi, yang sudah mendidih sejak tadi. Ha Won segera berdiri dari kursinya. Berusaha setenang mungkin mengatur nafasnya yang mulai memburu. “Kau lihat makananmu?” Ha Won menunjuk piring Kyuhyun. Lalu sudut bibirnya sedikit tertarik, nyaris menyeringai, “Mewah, bukan? Berkelas?” Kyuhyun tidak berkata apapun. Sebenarnya ia sudah siap menghadapi amukan Ha Won, alih-alih sikap tenang yang mencurigakan ini.

“Dan, apa yang akan terjadi jika aku melakukan ini…” tangannya segera menyambar botol wine dan menumpahkan semua isinya diatas makanan Kyuhyun hingga menghasilkan cipratan besar yang sudah pasti mengenai pakaian pria itu. “Kotor dan menjijikan, bukan?” ujarnya dengan seringai puas, saat melihat tatapan Kyuhyun tak lagi setenang tadi. “Dan seperti itulah dirimu yang sesungguhnya. Aku menyesal karena sempat kagum akan otak bisnismu yang selalu menghasilkan ide-ide brilian. Tapi ternyata, otak itu tidak lebih kotor daripada mulut busukmu, Cho Kyuhyun. Lupakan saja, tentang penawaran yang pernah kuajukan. Kesalahan terbesarku adalah, mengira kau bisa diajak bekerjasama secara profesional. Aku tidak menyangka jika yang ada di otakmu hanya bagaimana cara menanggalkan pakaian wanita.”

Setelah menguarkan amarahnya dengan sikap tenang yang dipaksakan, sementara dadanya nyaris meledak karena yang dia inginkan adalah berteriak memaki tepat didepan wajah Kyuhyun. Dengan punggung tegak, Ha Wo meraih tas dan beberapa berkas yang tadi ia bawa. Dan, tanpa menoleh sedikitpun pada Kyuhyun, ia segera melangkah menuju pintu. Lebih baik ia mengering di Afrika daripada harus menjadi penghuni ranjang pria itu.

Kyuhyun masih terdiam dikursinya dengan rahang yang mulai mengencang. Belum pernah. Belum pernah, seumur hidupnya ada yang berani menghinanya. Apalagi seorang wanita. Dan, apa yang membuat wanita itu berpikir ia bisa melakukan penghinaan itu terhadapnya. Mulut busuk?

Ha Won mengatakan mulutnya busuk? Sementara banyak diluaran sana wanita yang menggelepar tak sanggup menghadapi kelihaian mulutnya. Oh, wanita itu benar-benar harus diberi pelajaran. Akan ia tunjukan seperti apa permainan mulut busuk-nya ini. Entah karena hasrat yang sudah mendorong tubuhnya untuk bangkit, atau karena ketersinggungan kuat yang memaksanya melangkah keluar, tanpa mempedulikan bagian depan pakaian mewahnya yang terkena noda diberbagai tempat.

 

***

 

Ha Won baru saja mencapai bagian tengah restoran saat ia merasakan lengannya ditarik, dan yang terjadi selanjutnya benar-benar membuatnya membeku ditempat. Tengkuknya ditekan, sementara bibirnya dilumat dengan keras, kuat, dan nekat. Sebelah tangan Kyuhyun yang lain, menarik pinggang Ha Won agar lebih merapat padanya.

Kyuhyun menulikan telinga dari semua pekikan terkejut, yang disuarakan berpasang-pasang mata yang tengah menatap terkejut pada apa yang tengah ia lakukan. Ji Hoon yang berada disana bersikap tenang, seolah-olah tidak ada kehebohan yang terjadi disekitarnya. Sementara Min So, berusaha menutupi keterkejutannya, dengan mengikuti sikap tenang Ji Hoon. Tak ada satupun dari mereka, yang berani melakukan tindakan apapun untuk mencegah pemandangan panas yang tengah berlangsung.

Demi Tuhan, Kyuhyun tidak mengira bibir pedas wanita itu bisa semanis dan senikmat ini. Kyuhyun terus menggerakan bibirnya diatas bibir Ha Won yang masih belum merespon tindakannya. Tangannya meremas pinggang Ha Won, membuat wanita itu tanpa sadar memberikan Kyuhyun celah dari keterkejutannya untuk bisa mengecap lebih dari yang sebelumnya.

Saat keterkejutannya mulai memuai dan kesadarannya telah kembali. Ha Won menyadari apa yang tengah menimpanya. Matanya melotot tak percaya, saat merasakan bibir dan lidah Kyuhyun yang semakin mendesak dan membuatnya kewalahan. Pria ini pikir apa yang sedang ia lakukan? Melecehkannya? Oh, sialan. Pria ini benar-benar brengsek. Ha Won berusaha melepaskan diri dari serangan bibir Kyuhyun yang semakin berani. Wanita itu mencoba menggerakan tangannya yang terhimpit diantara tubuhnya dan tubuh Kyuhyun. Sekuat tenaga ia berusaha mendorong tubuh Kyuhyun, sementara kepalanya terasa pusing atas godaan bibir Kyuhyun yang mulai membuat tubuhnya bereaksi diluar kendali.

Dan, ketika ia berhasil melepaskan diri dari jerat memabukan yang baru saja menghantamnya. Dengan nafas memburu keduanya saling melempar tatapan tajam dengan arti yang berbeda. Jika Kyuhyun menatapnya dengan keinginan kuat, untuk menyeret wanita itu kembali keruangan tadi, dan segera menyatukan tubuh mereka dengan cara apapun. Sementara Ha Won berusaha untuk tidak melayangkan tinjunya pada bibir yang baru saja menyerangnya.

Ha Won merasaka tubuhnya menjadi lebih kaku, saat menyadari dimana posisinya saat ini. Di tengah restoran, dimana semua pengunjung tentu saja bisa menyaksikan apa yang baru saja terjadi pada dirinya.

Bagus, Ha Won menggeram dalam hati. Hanya dalam hitungan detik, bajingan itu sudah berhasil meluluh lantakkan reputasinya hingga melebur tak bersisa. Dia, Jung Ha Won. Wanita yang selama ini terkenal dingin dan jarang terlihat menjalin hubungan dengan pria manapun. Dan kini, apa yang terjadi padanya? Mencoba menciptakan scandal dengan sang ahli?

Bajingan brengsek.

Ha Won tidak mengerti kenapa ia masih bisa menahan diri, untuk tidak melayangkan tinjunya pada bibirnya itu. Oh, tentu saja ia tidak dapat melakukannya sekarang, disini. Karena reputasinya sudah rusak, dan ia tidak akan menambah kerusakan itu lebih banyak lagi, dengan tindakan kasar yang belum pernah ia lakukan.

Kyuhyun masih berusaha menormalkan tubuhnya, dari hentakan gairah yang bangkit akibat ciumannya. Matanya masih diselimuti kabut gairah terbalut amarah atas ucapan wanita itu tadi. Kyuhyun mengingatkan diri sendiri, bahwa ia hanya ingin memberi pelajaran pada wanita itu, tapi, apa yang dirasakannya tadi benar-benar diluar dugaan. Ia bersumpah, jika semua mimpinya akan wanita itu tak ada yang mendekati sensasi memabukan yang baru saja menerpanya. Ia belum pernah merasakan api gairah yang begitu membara, hingga lepas kendali seperti ini.

“Kau tidak bisa melakukan ini padaku, Cho Kyuhyun,” suara dingin dan tatapan tajam penuh tuduhan dari wanita itu menusuk hingga kedasar jantungnya. Ha Won menegakkan tubuhnya dengan kaku, dagunya terangkat angkuh, tak ingin menunjukan jika apa yang baru saja terjadi sudah mempengaruhinya. Ia berbalik dan berjalan kearah pintu keluar resatoran tanpa memandang sekelilingnya, yang ia yakin masih belum mengalihkan tatapan mereka dari kejadian terkutuk yang baru saja terjadi.

Kyuhyun masih memandangi punggung tegak wanita itu yang mulai menjauh darinya. Jika wanita itu berpikir ia akan melupakan rencana kerjasama mereka, setelah apa yang baru saja ia rasakan. Maka Ha Won hanya menghibur diri sendiri. Kerjasama ini akan tetap terjadi, bukan karena ia menginginkannya. Tapi, karena inilah satu-satunya cara untuk menggiring wanita itu kembali berhubungan dengannya. Persetan dengan semua kerjasama itu.  Yang dia inginkan hanya selalu dapat berhubungan dengan wanita itu apapun alasannya.

 

***

 

 

 

Wakakakakkaka….

Kagak kecewa khan karena Cuma PG-17? Hahahhahahha….. yah, saiia khan kagak mau dikenal sebagai “Author NC”

NO. NO. NO…. masa anak alim n imyut, keceh badai kek ginih di cap kek gitu. Tidak mungkin!!! #geyeng2 cantik *naziiizzz… wkwkwkkwkwkwkw

Yah, setelah hampir dua bulan inih blog kosong melompong akhirnya ada juga penghuni barunya. Yeah, meskipun gak penting2 amat sih, ini penghuni baru. Tapi yang penting, masih keliatan nafasnyalah. Iya khan? Iya dund? Udahlah, iya ajah.

Hahahhaha…

OIA. OIA. OIAAA… GOMAWOOOOO BUAT TEMAN-TEMAN YANG UDAH NINGGALIN JEJAK DI FF-FF SEBELUMNYA YAAAA.

MIAN BANGGED, kalo jarang saiia bales. Bukannya gak mau bales, tapi saiia lebih sering buka blog lewat hp. Jadi agak rempong gitu. Harap dimaklumi yah Ceman-ceman. #peluk readers atu-atu….  Kisseu juga deh. Mumumu :* :* :*

Ocey dah. Sekali lagi….

GHAMSAHAMNIDAAAAAAAAA… (^.^)/

 

151 thoughts on “IF …. Part 2

  1. keren idenya eon…
    tumben2 q nemu ff dg cast s yeoja it tegas,berani,mandiri dan tentunya sempurna..
    oh iya eon, sbelumnya salam kenal.. q readers baru d blog eonni ini..
    minta izin buat baca ff eonni yg lain🙂

    dan maaf eon, klo q tdak span karna q langsung bc ff ini d part 2😀

  2. ahh seru bgt.. dan panjangg..
    tapi bacanya mulai part 2..
    jadi penasaran sama part 1 dan 3.
    boleh minta pw nya thor? hehe, gomawo^^

  3. Mmmmm kek.a ha won bakal makin galak ma kyu

    Gila,,,,bener” dah kyu kyu…. otakmu yadong abiz😀
    Trs gmn krja sama.a,,,,apa bakal terus brlanjt?????

  4. anyeong,reader baru ni,nemu Ff ni gra2 googling ff bercast cho kyuhyun yg wajib dbaca, then nemu ff ini, gila keren banget teriak gx karuan past liat potonya kyu topless… god!!! ngiler ane,, syangnnya bcany lngsung dr part 2,alnya part 1nya dprotect, suka ni sma karakternya ha won. cewek hrus begitu,hrus jual mahal…haha btw mnta pw part 1ny dong >o<

  5. Bener kan he he he…
    Kyuhyun cm mau mengancam ha won aja, klo ha won mau diterima kerjasamanya maka ha won hrs bersedia menurutinya. Wah wah wah… Kyuhyun parah bgt! Dia udh bener2 gk tahan wakakakak..
    Bener2 dia dibuat penasaran dan ingin merasakan #dasar kyu mesum >.<
    Tp yg bikin lucu dan jd hiburan di ff ini yaitu neneknya ha won yg mantan model kekeke.. Dia lucu bgt! Apalagi temen2 seumurnya.
    Untuk ha won dan kyu yg hubungannya sgt menegangkan bener2 keren! Semakin ha won menolak maka kyu semakin gencar hahahaha….
    Daebak! Gumawo…

  6. Omo..
    Kyag nya tgd kedinginan ampek bergelung di bawah slimut dehh gara” di luar ujan tp knape sekarang rasanya jd panas bgini y??
    Huhhh sayangblon bsa baca yg di protect gara” blm tau pw nya..
    Tp bner dhh ini bkar rasa penasaran bgt pengnn tau part 1 ama lnjutannya..
    Fighthing eonnie, permainan emosinya ngena bgt🙂

  7. Ck cho kyuhyun kau juga m”buat hrga dri kku t’singgung jka sprti itu #ditaboksparkyu
    enth knpa saiia b’pkir wjud cho kyuhyun duplikat pnjbat ngara ini,hahaha
    owh astaga. . . .

  8. aNyeong eonni salam kenal ratih imnida🙂
    Eonn ffnya DAEBAKKKK Bingittts ga tau harus kasih berapa jempol he
    Woww Tuan Cho ampe segitunya sama Ha Won :-*
    Itu Ha won bencinya ampe ke ubun ubun sama kyuhyun ?? -_-
    Emang Ha won pernah di apain #plakk ??
    Eonni boleh minta pw part 1 sma 3 ?

  9. Annyeong KAK ….. Ff’nya Daebak bgt ….. Tp kog part.1 & 3 d’protect Hemmmt ….😦
    Kak kasih PW’nya DONG jebal …. Mention TWITTER Q yach Nie … @astuti_firda Gomawo …..:)

  10. Annyeong KAK kog part.1 & 3 d’protect Hemmmt ….😦
    Kak kasih PW’nya DONG jebal …. Mention TWITTER Q yach Nie … @astuti_firda Gomawo …..:)

  11. entah kenapa aku menyukai ff ini..kkk
    kyuhyunnya itu bikin aku pengen ngegetok mulut mesumnya..hihi
    aku suka ff ini,walau belum baca part 1 tapi tetep aja keren..
    wk..bersyukur banget aku bisa nyasar ke wp ini

  12. kkk..ffnya aku suka..
    sikyuhyun kaya banget yah..
    mulutnya tuh mesum banget..kk
    eonni,pasti ngeluarin ide-ide cerita ini susah payah,aku suka alur ceritanya..

    gak sabar buat minta pw part 3nya…
    salam kenal eon,aku pembaca nyasar ke ff mu..kk

  13. kkk..ffnya aku suka..
    sikyuhyun kaya banget yah..
    mulutnya tuh mesum banget..kk
    eonni,pasti ngeluarin ide-ide cerita ini susah payah,aku suka alur ceritanya..

    gak sabar buat minta pw part 3nya…
    salam kenal eon,aku pembaca nyasar ke ff mu..kk

  14. kkk..ffnya aku suka..
    sikyuhyun kaya banget yah..
    mulutnya tuh mesum banget..kk
    eonni,pasti ngeluarin ide-ide cerita ini susah payah,aku suka alur ceritanya..

    gak sabar buat minta pw part 3nya…
    salam kenal eon,aku pembaca nyasar ke ff mu..kk

  15. ff ini bikin saya ngiler kelakuanya kyuhyun yang mulut berbisanya itu,serta kekayaan yang melimpah itu bikin saya ngiri..wkk

    dan,ff mu ini emang patut banget buat diacungin golok satu,eh maksud saya jempol..haha
    Dan,semoga ff mu ini menjadi yang lebih baik lagi sampai terus menerus..kekeke..
    Ah iya,saya minta pw yang part 3,udah mention ke kmu kok,dan tinggal tunggu balesan dri kmu.

    makasih..

  16. Yaampun.. Lagi nyari ff di google eh nemu blog ini. Aseli ffnya kece badaaaiii.. Mantap mantap! Eman loh kak ini wp ceritanya asik, readernya juga lumayan banyak, ramein lagi dong. Kayaknya masih banyak ff kece yg ‘nanggung’. Keep writing deh kak aku menunggu~

  17. udah lama g bca ff upil yg karakternya itu bad boy tp sesuai dg imajinasi absurdku *bhs apa* dan lagi dsini upil bkin orang tereak2 dan pingin gampar sekalian *ditendng upil* sayang blum bca IF part 1
    pokoknya q sukaaaaa, pdhl bru 1thnan absen baca ff, tp nyari ff yg cem q msh awal kuliah tu udah susah, fell nya dah beda, pa lg skrng lg bejbun ff dr boyband2 yg membernya msh unyu.. *curcol*😀

  18. udah lama g bca ff upil yg karakternya itu bad boy tp sesuai dg imajinasi absurdku *bhs apa* dan lagi dsini upil bkin orang tereak2 dan pingin gampar sekalian *ditendng upil* sayang blum bca IF part 1
    pokoknya q sukaaaaa, pdhl bru 1thnan absen baca ff, tp nyari ff yg cem q msh awal kuliah tu udah susah, fell nya dah beda, pa lg skrng lg bejbun ff dr boyband2 yg membernya msh unyu.. *curcol* hehe

  19. Aku baru nemu BLOG ini dan langsung jatuh cinta sama yang If DEmi apapun ini keren banggeeeetttttt diksi sama alurnya ngena di hati dan selalu bikin penasaran setengah mati. apalagi dengan sikap Kyu-Hyun yang maksa gitu. ekekek padahal aku udah mikir kalo Ha-Won bakalan lebih milih ke Afrika dan Kyu-Hyun justru berbalik nyusul ke sana *abaikan tapi saya sukkaaaaa banget sama ceritanya. ngengomong saya mau baca yang IF part3 dan bagi pwnya dunggg yayayayayayayya????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s