Freelance : Sad Romance

sad romance 4

hohhh….

setelah beberapa hari ujan yang bikin sinyal angot2an, akhirnya bisa juga post barang baru titipan tuh bocah.😀

ocey dah… mumpung sinyal akur…

HAPPY READING!!!!

**********

Author :   Meidha Hapsari

Cast      : Lee Donghae, Jung Ha Won, Lee Dongha

Genre   : Sad Romance, family life

 *****

Selama ini aku terlalu menutup diriku dari kenyataan.

Ternyata meamng kau, kan yang seharusnya ada di hidupku?

Seharusnya aku menyadarinya lebih cepat, dan tidak membiarkanmu sakit terlalu lama.

Aku tidak ingin menyesal.

Aku mohon tetaplah bertahan di sisiku!

 

Donghae menendang kerikil di depannya. Laki-laki itu berjalan tanpa arah sejak satu jam yang lalu. Sebenarnya bukan tanpa arah, hanya saja dia mengikuti aliran angin yang berhembus.

Donghae berhenti di sebuah taman dan duduk di salah satu bangku yang terlihat cukup usang. Mata laki-laki itu menatap ke depan dengan kosong. Banyak hal yang berkecamuk di dalam pikirannya.

Seandainya ia bisa mempertahankan wanita itu. seandainya ia tidak bersikap pengecut seperti ini. Seandainya ia tidak membiarkan wanita itu pergi manangisinya. Seandainya.. seandainya.. dan masih banyak seandainya lagi yang berada di pikirannya.

Namun, apa yang bisa ia lakukan sekarang? Dia melepaskannya. Laki-laki itu memilih untuk melepaskannya dan membiarkan wanita itu pergi. Dan semua itu karena kebodohannya. Karena rasa egoisnya yang terlalu mendarah daging.

Membiarkan wanita yang selama lima tahun setia mendampinginya pergi begitu saja. Pergi dengan segala sakit hati yang di berikan Donghae kepadanya.

Laki-laki itu akhirnya menunduk, membiarkan air mata mengucur dari mata indahnya. Dia akan membuang segala gengsinya kali ini. Dia akan meluapkan semua perasaannya sekarang, jika tadi dia hanya bisa menahannya karena ada wanita itu, sekarang dia tidak akan menahan-nahannya lagi. Dia memang harus menangis, menangisi kepergian wanita itu dan hidupnya yang akan berubah sebentar lagi. Mungkin.

‘Aku melepaskanmu Hae. Lebih dari apapun, aku hanya ingin melihatmu bahagia. Kau tidak mungkin tetap hidup jika berada di sisiku. Aku tahu itu. aku tidak akan memaksamu untuk mempertahankan pernikahan ini. Aku lelah. Aku lelah melihtmu terluka karena hidup denganku. Kita akhiri sekarang, dan mulailah hidup dengan baik setelah ini.’

 

 

***

Ha won memandang kamaranya yang pernah ia tempati dengan Donghae sekali lagi. Wanita itu mungkin tidak akan pernah memasuki ruangan ini lagi. Tidak. Tidak untuk selamanya. Mungkin.

Ha won menutup pintu kamar itu sebelum air matanya mengalir. Harum tubuh laki-laki itu begitu kuat menempel di sana. Dan dia tidak akan imun sedikitpun dengan wangi itu. wanita itu berbalik dan menemukan ankanya yang sedang memandang ke arahnya dengan mata bulat yang sangat mirip dengan ayahnya.

Wanita itu berjongkok, menyesuaikan tinggi badan mereka. Tersenyum lembut saat meliihat raut wajah polos milik bocah yang baru berumur empat tahun itu.

“Kita akan pergi kemana Mom?” Dongha, anak itu bertanya kepada ibunya.

“Kita akan pergi ke apartement milik Mom, sayang.” Ha won berbicara lembut kepada anaknya.

“Kenapa?” dong ha menatap Ha won ingin tahu. Lidah wanita itu terasa kelu ketika mendengar pertanyaan anaknya. Apa yang harus ia jawab? Mengatakan kepada anaknya  bahwa dia akan bercerai dengan ayah anak itu. dia tidak mungkin bisa mengatakannya.

“Karena kita harus tinggal disana untuk sementara waktu.”

“Kenapa kita tidak menunggu Dad pulang terlebih dahulu, kemudian kita bisa berangkat bersama-sama?” dongha masih menatap ibunya penuh pertanyaan. Ha won tampak menghembuskan nafasnya pelan, mengerakkan tangannya untuk mengusap rambut hitam milik anaknya itu.

“Ada sesuatu yang membuat Dad  tidak ikut bersama kita. Jadi, kita harus berangkat terlebih dahulu tanpa menunggu Dad, sayang.” Ha won mencoba memberi pengertian pada anaknya itu. dongha tampak mengangguk kecil dan memberikan senyum manis kepada ibunya, yang entah kenapa terlihat sangat mirip dengan laki-laki itu. coba saja katakan padanya, bagian mana dari anak itu yang tidak mirip dengan Donghae.

“Oke, sebaiknya kita pergi sekarang, karena taksi sudah menunggu di bawah.” Ha won menarik tangan Dongha keluar dari aprtement itu, sambil menarik sebuah koper di sebelah tangannya. Wanita itu menengokkan kepalanya ke belakang sebentar dan tersenyum kecil.

‘Aku meninggalkan tempat ini sekarang. Entah bisa atau tidak aku masuk kembli ke tempat ini. Semuanya tergantung pada keputusan laki-laki itu nanti. Aku sudah melepaskannya dan membiarkan laki-laki itu mengambil keputusan akhirnya. Dan membiarkan dia menentukan keputusan atas kehidupanku kelak.’

 

Donghae membuka pintu aprtementnya. Laki-laki itu masuk dengan keadaan yang amat sangat buruk. Bajunya sudah tidak karuan kusutnya dengan dasi yang sudah longgar dan jas yang semua kancingnya terbuka.

Donghae tersenyum kecut saat menyadari keadaan aprtementnya yang sepi. Laki-laki itu tahu bahwa ialah satu-satunya penghuni di aprtement itu saat ini. Ha won sudah memberitahunya bahwa wanita itu akan segera pindah sesegera mungkin setelah mengurus surat perceraian mereka. Dan sepertinya wanita itu menepati ucapannya.

Donghae memutar kenop pintu kamarnya sebelum akhirnya memutuskan untuk menutup pintu kamar itu lagi. Dia tidak akan sanggup menempati kamar itu jika  wanita itu juga tidak berada di kamar itu. harum tubuh wanita itu terlalu melekat di sana dan dia tidak akan mungkin sanggup berada di sana sebelum akhirnya merasa tersiksa sendirian.

Laki-laki itu memilih untuk melangkah ke dalam kamar anaknya yang berada di samping kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya di kasur anaknya yang berseprai motif biru laut. Setidaknya dia tidak akan merasa tersiksa jika tidur di sini. Dia hanya perlu menghirup bau anaknya, bukan bau wanita itu yang pasti akan sangat menyiksanya habis-habisan.

Donghae mulai memejamkan matanya pelan. Laki-laki itu membutuhkan istirahat setelah sepanjang hari ini yang teras begitu melelahkan. Perlahan laki-laki itu terbuai masuk kedalam mimpi. Melupakan semua masalah yang terjadi padanya.

“Kenapa tidak kau makan eo?” ha won memandang Dongha yang sedari tadi hanya memainkan makananya.

“Aku tidak selera, Mom.”

“Wae?”

Dongha mengerucutkan bibirnya ke depan sambil menatap Ha won. “Aku rindu Dad. Biasanya dia ada di sebelahku ketika makan. Aku rindu Dad, Mom.” Dongha mulai merengek kepad Ha won, rengekan yang sama persis seperti laki-laki itu jika menginginkan sesuatu.

“Hey.. Dad pasti juga merindukanmu. Dan dia pasti tidak akan suka jika melihatmu sakit nanti karena tidak mau makan.” Ha won berusaha membujuk anaknya.

“Tapi, aku merindukannya, Mom.”

“Lee Dongha, dengarkan Mom! Kau harus makan, Dad pasti tidak akan suka jika melihatmu seperti ini. Kau tidak ingin melihat Dad marahkan?” dongha mengelengkan kepalanya kuat. “Jika kau tidak ingin melihatnya marah, kau harus makan ok!”

“Baiklah.” Dongha mulai menyuapkan nasi ke mulutnya.

“Anak pintar.”  Ha won tersenyum lembut sambil mengacak rambut Dongha pelan.

Ha won sedang membaca majalah mode di kamarnya setelah berhasil menidurkan Dongha dengan mulus malam ini. Anak itu terlalu mempunyai banyak kebiasaan dengan ayahnya, mulai dari bangun tidur hingga menjelang tidur. Dan itu sangat mempersulit Ha won dalam situasi sekarang ini.

Wanita itu masih memperhatikan beberapa model yang di pasang dalam majalah, ketika suara telfon menganggunya.

“Yeoboseyo!”

“Ini aku Won-ie.” Tubuh Ha Won menegang seketika mendengar suara orang yang menelfonnya.

“Oppa. Bagaimana kabarmu?”

“Aku baik. Bagaimana denganmu?” ha won mengigit bibir bawahnya kuat-kuat.

“Baik.” Tampak helaan nafas orang di sebelah sana.

“Aku sudah tahu kabarnya.”

“Oppa.”

“Bagaimana bisa kau melakukan hal itu. kau sudah kehilangan kewarasanmu dengan melepaskan laki-laki itu?”

“Aku tidak mungkin menahannya terus-terusan jika dia tidak bahagia berada di sisiku, oppa.”

“Tapi kau tahukan resiko dari keputusanmu itu?” ha won terdiam, dia tahu, tentu saja ia tahu. “Dia mau menikahimu karena perusahaan milik keluarganya. Jika dia berpisah denganmu, maka secara otomatis suntingan dana yang di berikan perusahaan kita kepadanya akan aku tarik, adik.”

“Bisakah kita membicarakan itu nanti?”

“Aku akan pulang ke Korea secepatnya.”

“Oppa, ini masalah rumah tanggaku. Kau tidak berhak sama sekali untuk ikut campur.” Ha won mulai meninggikan suaranya.

“Tidak bisa, adik. Pria itu yang melamarmu padaku, dan dia sudah berjanji untuk menjagamu. Walaupun aku tahu motif pria itu yang sebenarnya, tapi apa peduliku. Yang kutahu kau mencintainya. Dan aku tahu, kau pasti akan terluka karena masalah ini.”

“Oppa, tapi….”

“Tidurlah adik! Kau butuh banyak istirahat sekarang. Jjalja.”

Klik

Ha won masih memandangi layar ponselnya. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Dia tidak pernah memperkirakan ini sebelumnya. Dan satu hal yang pasti. Kakaknya itu tidak akan pernah main-main dengan perkataannya. Dan itu akan menambah satu masalah lagi untuk dirinya.

***

“Wonie!!” donghae terbangun dan mengedarkan pandanganya ke penjuru kamar, menacari istrinya. Laki-laki itu terduduk dan mengucek matanya pelan, sebelum akhirnya mendapatkan kesadarnnya. Donghae tersenyum kecut. Seharusnya jika ia memanggil nama wanita itu, maka wanita itu biasanya akan langsung duduk di sampingnya. Tapi, pagi ini berbeda. Wanita itu tidak ada di sampingnya , dan ia sangat tidak menyukai kenyataan itu.

Donghae memilih untuk menuruni ranjang dan berjalan ke kamar mandi. Laki-laki itu membasuh wajahnya di wastafel, kemudian melihat bayangannya di cermin. Rambut di Janggutnya mulai tumbuh, dan jika dalam keadaan normal, Ha won pasti akan mengomel dan menyeretnya untuk bercukur. Tapi, lagi-lagi tidak untuk pagi ini. Tangan laki-laki itu bergerak mengambil krim pencukurnya, kemudian mulai mengoleskannya di sekitar dagunya, mengitari sampai  ke atas bibirnya. Mulai mencukur dengan gerakan teratur, dari atas ke bawah.

‘Seharusnya kau itu kebih memerhatikan dirimu. Lihat! Bagaimana bisa kau lupa bercukur seperti ini. Kau bukan anak kecil lagi Lee Donghae.’

 

Dongahe tersenyum saat mengingat ucapan yang selalu di lontarkan wanita itu ketika membantunya bercukur. Dan biasanya ia akan menanggapinya dengan sebuah senyum lebar yang akan membuat Ha won seketika itu membuang segala kekesalannya.

Laki-laki itu menyalakan keran air dan membasuh wajahnya. Kemudian mematikan keran air itu dan mengambil handuk yang tergantung di sampingnya, mengeringkan wajahnya dengan handuk itu.

“Pagi ini pasti aku sudah gila. Dan hari ini-pun sepertinya aku akan menjadi gila kembali. Tidak ada dirimu, bagaiman aku harus bertahan Ha won-ah?” donghae menatap cermin itu dengan pandangan sendu.

Donghae menuangkan air panas ke cangkir kopinya. Pria itu hanya membuat segelas kopi untuk mengisi  perutnya pagi ini. Lagi-lagi dia hanya tersenyum kecut. Biasanya dan biasanya lagi, wanita itu akan sibuk mengomel kalau ia hanya mengkonsumsi kopi pada pagi hari. Dan wanita itu akan berusaha mati-matian untuk menjejalkan satu tangkup roti ke mulutnya, di susul dengan tawa  Dongha yang akan langsung meledak.

Laki-laki itu menyeruput kopinya pelan, merasakan tenggorokannya yang di basahi oleh rasa kopi yang sebenarnya manis tapi entah kenapa teras pahit untuknya. Dan lagi-lagi alasan  yang sama. Kopi itu bukan buatan wanita itu.  jadi, apa ada alasan untuk membuat kopi itu terasa enak di tenggorokannya?

“Apa aku bisa bertemu Dad hari ini?” lagi-lagi Dongha menanyakan hal yang sama dalam kurun waktu satu jam terakhir.

“Mungkin.” Dan lagi-lagi jawaban yang sama yang di lontarkan oleh Ha won sejak anak itu bertanya.

“Kenapa mungkin, Mom?” dongha mulai medesak Ha won.

Wanita itu tampak menghela nafasnya pelan sebelum menjawab pertanyaan anaknya itu. “Aku tidak tahu Dad sibuk atau tidak hari ini, jadi aku tidak dapat memastikan kau akan bertemu dengannya atau tidak.”

“Tapi aku rindu padanya.” Mata anak itu mulai terlihat sendu, membuat Ha won tidak tega dan langsung merengkuh tubuh mungil itu ke dalam pelukannya.

“Aku tahu kau rindu padanya. Tapi, dia sedang sibuk hari ini. Kau harus bersabar hm..!” bodoh, dia seperti menenangkan dirinya sendiri dengan berkata seperti itu. sejujurnya dia amat sangat merindukan laki-laki itu hinga ke taraf yang sangat mengkawatirkan. Tapi, keadaan yang memaksanya untuk menekan rasa rindunya dalam-dalam, setidaknya sampai laki-laki itu mengambil keputusan.

“Sajangnim, ada sebuah surat untuk anda. Saya sudah meletakannya di atas meja.”

“Terimakasih Hyerin-ssi.” Donghae melangkah memasuki ruang kerjanya. laki-laki itu mengambil sebuah amplop berwarna coklat yang terbungkus rapi di meja kerjanya. laki-laki itu membuka amplop tersebut dan seketika rahangnya mengeras melihat isi dari amplop itu.

Donghae mrogoh saku celanya untuk menagambil ponselnya. Laki-laki itu mendial nomor satu. Nomor wanita itu.

“Yeoboseyo.”

“Apa maksudmu hah? Kenapa kau mengirimkan surat perceraian padaku?”

“Aku hanya melakukan apa yang semestinya aku lakukan Hae.”

“Apa yang semestinya kau lakukan?  Menggelikan.”

“Hae!!”

“Dengar Jung Ha won! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menandatangani surat terkutuk ini. Brengsek kau.”

“Hae, ini satu-satunya cara agar kau bisa lepas dariku. Jik bukan aku yang menggugat, kau tidak mungkin bisa melakukannya. Aku mohon Hae!”

Donghae nampak menghela nafasnya kasar. “Berapa kali kau sudah mengirimkan surat  cerai ini? Berhenti, berhenti sekarang jung Ha won!”

Klik

Donghae memutuskan sambungan telfonnya. Laki-laki itu mencengkram ponselnya kuat-kuat. Mungkin wanita itu sudah mengirimkan surat perceraian lebih dari dua kali, dan jangan harap Donghae akan menandatanganinya. Laki-laki itu masih cukup waras untuk tidak membiarkan semuanya bertambah rumit. Dia harus menyelesaikan masalah ini secepatnya dan membuat semuanya berjalan normal kembali.

***

“Ada apa?”

“Dia menolak surat perceraian itu.” ha won tampak menghela nafasnya berat.

“Cih.. kau fikir suami mana yang ingin di gugat cerai Jung. Dia pasti tidak waras jika menandatangani surat perceraian itu.”

“Diam kau Cho Kyuhyun! Aku menyewamu untuk menjadi pengacaraku, bukan menjadi penasehat pribadiku.”

Kyuhyun terkekeh pelan melihat raut wajah kesal dari wanita di depannya. “Hey.. aku hanya membeberkan sebuah fakta. Lagipula, bukankah kalian baik-baik saja selama ini, jadi apa yang membuatmu memutuskan untuk bercerai dari si ikan badut itu?”

“Kami hanya sudah saling merasa tidak cocok saja.”

“Ck.. itu sebuah alasan umum Jung. Dan kau!” kyuhyun menatap Ha won penuh intimidasi. “Bukan seorang wanita yang akan menyerah begitu saja dalam mempertahankan sesuatu yang sudah menjadi milikmu.”

“Berhenti berbicara seperti itu padaku.” Ha won menanggapi Kyuhyun malas.

“Terserah padamu, itu hidupmu dan kau berhak menentukannnya.” Kyuhyun beranjak dari duduknya. “Aku harus mengantar Hyunje untuk membeli kaset gamenya hari ini.”

“Kalian berdua sangat mirip. Aku tidak membayangkan betapa pusingnya je wo mengurusi dua setan beda generasi seperti kalian.”

“Yang penting dia masih hidup sampai sekarang bukan?” kyuhyun menanggapi Ha won tidak peduli. “Aku pergi dulu, pastikan kau sudah menemukan kewarsanmu setelah ini.”

“Pergi saja sana kau iblis.” Ha won menatapa kyuhyun garang.

“Tidak ada iblis setampan aku Jung Ha won.”

“Cih.. besar kepala sekali kau.”

“Hahaha..” Kyuhyun tertawa kencang, sebelum akhirnya melangkahkan kakinya meninggalkan ruang kerja Ha won. Membuat wanita itu berada sendirian lagi di ruangan besar itu.

Ha won menyandarkan tubuhnya pada sofa. Membiarkan tubuhnya sejenak meras rileks. Kyuhyun benar, seharusnya ia bisa berfikir sedikit waras. Tapi, sudah berapa lama ia mempertahankan fikiran warasnya itu. sudah hampir lima tahun dan dia benar-benar merasa lelah sekarang.

Ini bukan maunya. Siapa juga yang ingin mengalami kegagalan dalam sebuah hubungan rumah tangga. Hanya orang yang tidak waras yang berfikiran seperti itu. dan dia juga tidak pernah membayangkan ini sebelumnya. Jika saja, dia tidak melihat wajah laki-laki itu yang begitu tersiksa beberapa minggu yang lalu, mungkin dia tidak akan mengambil keputusan ini.

“Apa yang harus aku lakukan padamu Hae?”

***

“Kau sudah gila Lee Donghae.” Donghwa menatap Donghae murka.

“Apa?”

“Apa maksudnmu bercerai dengan Ha won?”

“Aku tidak akan bercerai dengannya hyung.” Donghae menjawab pertanyaan kakaknya itu dengan tenang.

“Patikan saja kau tidak bercerai dengannya, atau keselamatan perusahaan kita ini akan terancam.” Donghwa menatap Donghae sinis.

“Aku tidak sepicik itu bodoh.”  Raut wajah Donghae berubah menjadi tegang. “Kau fikir pernikahanku ini mainan?”

“Bukankah selama ini memang begitu? Kau menikahi wanita itu hanya karena ingin menyelamatkan perusahhaan kita saja kan?”

“Sialan kau.” Donghae mendekati kakaknya dan memukul wajah kakaknya itu deangan tinjunya. Laki-laki itu mencengkram kerah baju Donghwa dan menatap  wajah kakaknya dengan sangar. “Dengar! Jika kau hanya menganggap pernikahanku dan Ha won sepicik itu, tidak akan ada Dongha di tengah-tengah kami. Dan aku akan mempertahankan wanita itu di sisiku entah bagaiman caranya. Aku tidak peduli dengan perusahaan brengsek ini, yang aku butuhkan hanya wanita itu.”

“Kau mencintainya?” terdengar nada keterkejutan dari mulut Donghwa. Mata laki-laki itu seketika melebar melihat raut wajah adiknya yang terlihat kecut.

Donghae melepaskan cengkeramannya, kemudian mengacak rambutnya frustasi. Laki-laki itu menjatuhkan badannya pada sofa. “Aku tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Yang ku tahu adalah, aku tidak bisa melepaskan wanita itu dari hidupku. Mungkin ini memang terlambat, tapi aku benar-benar membutuhkannya sekarang. Bukan sebagai jaminan atas perusahaan kita, tapi sebagai wanitaku, hyung.”

“Astaga.” Donghwa menatap dosaengnya itu prihatin. “Aku tidak pernah memperkirkan ini sebelumnya Lee Donghae. Kufikir satu-satunya wanita yang kau cintai hanya Seejin saja.”

“Ku fikir awalnya memang begitu. Tapi, entah sejak kapan aku mulai menyukai wanita itu. ku fikir ini karena aku memang terbiasa hidup dengannya , nyatanya aku memang tidak bisa kehilangannya, hyung. Terlebih sejak ada Dongha di tengah-tengah kami.”

“Kau akan bagaimana sekarang?” donghwa menatap serius ke arah Donghae.

“Yang pasti aku akan mempertahankannya. Dia hidupku dan aku tidak akan pernah membiarkan hidupku hilang.”

***

“Sebenarnya apa yang terjadi?”

“Aku tidak begitu tahu. Tiba-tiba saja beberapa minggu yang lalu Ha won menghubungiku dan menyuruhku untuk menjadi pengacaranya.”

“Apa yang sebenarnya di fikirkan oleh adikku itu?”

“Molla hyung.” Kyuhyun mengedikkan bahunya tidak tahu. Dia sebenarnya juga bingung dengan keputusan yang di ambil wanita itu.

“Jika mereka benar-benar bercerai, maka kau harus membuat Dongha jatuh ke tangan Ha won.” Yunho menatap Kyuhyun penuh tekad.

“Kau tidak bermaksud membiarkan mereka berdua berceraikan, hyung?” kyuhyun menatap Yunho penuh selidik.

“Jika itu keputusan yang di ambil oleh Ha won, aku bisa apa?”

“Appa! Apa itu bercerai?” Hyun je yang sedari tadi hanya mendengarkan pembicaraan ke dua orang dewasa itu akhirnya bersuara ketika mendengar satu kosa kata yang begitu sangat asing untuknya.

“Kau anak kecil tidak akan mengerti.” Kyuhyun menatap anaknya itu dengan datar.

“Appa?” Hyunje memasang wajah yang tidak kalah datarnya dengan ayahnya. Anak itu mendesis pelan sebelum akhirnya tersenyum smirk.

“Aku rasa arti dari kata bercerai itu negatif, kan? Tenang saja appa, aku nanti akan bertanya pada eomma.”

Kyuhyun menatap anaknya itu dengan sangar. “Jangan coba-coba Cho Hyunje, atau aku tidak akan jadi membelikanmu kaset game itu.”

“Yakk.. kau menyebalkan apppa.” Hyunje menatap wajah Kyuhyun sebal, ke dua iblis berbeda generasi itu saling melontarkan argumentnya masing-masing, sementara Yunho menatap ke dua makhluk itu dengan senyum kecil.

***

Donghae meletakkan setangkai mawar di depan sebuah makam. Laki-laki itu berjongkok di depan gundukan tanah yang masih terlihat basah itu.

“Dia salah paham padaku.” Laki-laki itu mulai mengeluarkan pertanyaan retorisnya.  “Seharusnya dia tidak boleh salah paham padaku, kan? Apa yang harus aku lakukan? Maafkan aku! Sepertinya aku benar-benar mencintai istriku.”

“Seejin-ah, sekarang hanya dia wanita yang benar-benar aku inginkan. Kau tahu? Aku benar-benar bisa melupakanmu karena dirinya. Dia wanita yang hebat bukan? Seharusnya aku menyadarinya sejak awal, bukan malah mengabaikannya dan mengejar sesuatu yang tidak pasti untukku.”

“Aku mulai merasa bodoh sekarang. Dia tidak berada di sisiku dan aku mulai merasa limbung. Seperti kehilangan satu tiang untuk menyangga atap rumahku. Seperti kehilangan pijakanku di tanah.” Laki-laki itu menghembuskan nafasnya pelan sebelum melanjutkan kalimatnya. “ Aku tidak tahu seberapa parah luka yang kutorehkan untuknya, dia selalu  diam selama ini, menutupi semuanya sehingga sangat sulit untukku mengetahui dia yang terluka. Bahkan surat cerai itu dia yang mengirimnya lebih dahulu. Aku ini laki-laki pengecut ya?” donghae menatap makam Seejin dengan sendu.

“Tiga minggu yang lalu. Saat kau kritis di rumah sakit dan aku menunggumu seharian. Mengabaikan dia dan bahkan membentaknya saat dia menyuruhku pulang. Aku egois sekalikan? Pantas saja dia ingin berpisah denganku. Tapi aku tidak bisa, aku tidak bisa berpisah darinya. Aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpanya. Akan jadi seperti apa aku nanti?”

“Han Seejin!” donghae berdiri, menatap gundukan tanah di depannya sekali lagi. “Aku pergi.” Laki-laki itu berbalik, melangkah meninggalkan area pemakaman.

Donghae memasuki mobilnya. Laki-laki itu terdiam sambil menatap kemudi mobilnya. Banyak sekali pikiran yang harus ia tanggung saat ini. Donghwa benar, jika ia bercerai dengna Ha won, maka secara otomatis perusahaan akan kesulitan, jadi apa gunanya ia memepertahankan perusahaan itu jika akhirnya jatuh juga. Tapi, pikirannya tidak hanya sepicik itu. dia sedang berfikir keras untuk mempertahankan keluarganya. Mempertahankan istri dan anaknya tetap berada dalam pelukannya. Semuanya harus di kembalikan ke jalur yang benar. Donghae mengambil ponselnya, laki-laki itu harus menyelesaikannya sekarang atau semuanya akan terlambat.

“Yeoboseyo, kau di mana?”

“Aku ada di apartement. Wae?

“Ani.”

Klik

Donghae memutuskan sambungan telfonnya. Laki-laki itu menginjak gas-nya kuat-kuat, membuat mobilnya melaju dengan kecepatan yang mencengangkan. Kalau saja dalam keadaan normal, Donghae pasti akan memilih untuk menggunakan sopir atau apapun itu, asalakan ia tidak menyetir sendiri, atau Ha won lah yang akan dengan sangat sukarela menjadi sopir untuk Donghae. Wanita itu pasti akan sangat cerewet jika Donghae menyentuh mobil dan mencoba untuk menyetir sendiri, mengingat kemampuan Donghae dalam mengendalikan kemudi  memang sangat payah.

Laki-laki itu memarkirkan mobilnya sembarang saat sudah berada di apartement Ha won. Laki-laki itu membuka pintu mobilnya dengan kasar kemudian melangkah dengan sangat tergesa-gesa ke dalam lift. Kemudian melangkah keluar saat sudah mencapai lanatai di mana Ha won tinggal.

Laki-laki itu terdiam ketika sampai di depan apartement Ha won. Seperti menimbang-nimbang sesuatu sebelum akhirnya memutuskan untuk menghubungi wanita itu.

“Buka pintunya!”

“Apa?”

“Buka pintunya Jung Ha won!”

Tidak sampai dalam hitungan tiga puluh detik pintu itu akhirnya terbuka. Wanita itu berada di hadapannya sekarang dengan wajah yang terlihat terkejut. Donghae menatap Ha won dengan tajam. Sudah berapa hari mereka tidak bertemu? Satu hari, dua hari? Ah.. bahkan dia tidak pernah berani untuk menghitungnya.

“Kau! Kenapa ada di sini?”

Donghae tidak memerdulikan pertanyaan Ha won, laki-laki itu tanpa permisi mencengkram bahu istrinya masuk ke dalam apartement dan menyudutkan tubuh wanita itu di dinding, mengurungnya dalam kekuasaaan tubuh Donghae.

Laki-laki itu hanya menatap wajah cantik milik istrinya. Menggunakan matanya untuk melihat keindahan yang selama ini telah menjadi miliknya. Bodoh. Bodoh, jika ia berniat untuk melepaskan wanita di hadapannya ini.

“Jung Ha won, apa yang harus kulakukan agar kau mau kembali padaku?”

“Nde?” belum selesai keterkejutan Ha won dengan perkataan yang baru saja Donghae lontarkan, laki-laki itu sudah terebih dulu membungkam bibir Ha won dengan bibirnya. Menekan kuat-kuat bibir wanita itu dan melumatnya dengan tergesa-gesa. Melesakkan lidahnya ke dalam mulut wanita itu ketika ada celah untuk lidahnya masuk ke dalam. Lidah saling membelit dan saliva saling bertukar. Tangan Donghae memeluk erat pinggang Ha won, sedangkan tangan wanita itu sudah melingkar indah di leher suaminya.

Ciuman mereka semakin dalam dan intens. Donghae memiringkan kepalanya saat menyadari Ha won membutuhkan oksigen. Laki-laki itu tidak berniat sama sekali untuk melepas ciumannya sebelum Ha won berniat untuk melepas ciuman itu sendiri. Lidahnya menelusuri rongga mulut Ha won, mencicipi segala sesuatu yang ada di dalamnya. Ha  won mencengkeram erat rambut Donghae saat akhirnya pertahanannya runtuh.  Wanita itu menyerah dengan ciuman yang di berikan suaminya.

Air mata Ha won seketika luruh, membasahi wajahnya dan wajah Donghae.Ha won melepaskan ciuman itu saat dirinya tidak tahan lagi untuk mengeluarkan isakan dari bibirnya. Donghae menangkupkan ke dua telapak tangannya yang besar pada wajah Ha won. Menghapus cairan bening yang terus mengalir dari mata indah istrinya.

Dia membenci ini. Membenci ketika harus melihat air mata keluar dari mata istrinya. Dan ia akaan lebih membencinya lagi , ketika air mata itu keluar karena dirinya.

“Jangan menangis!” donghae mengecup bibir Ha won berkali-kali. “Aku bilang jangan menangis Jung Ha won.” Laki-laki itu masih bertahan mengecup bibir istrinya. Hanya sebuah kecupan ringan tanpa lumatan. Laki-laki itu hanya berniat untuk meredakan tangis istrinya.

“Hae…” ha won menatap wajah suaminya itu sendu. Tangan wanita itu bergerak untuk membelai pipi suaminya. Menatap penuh rindu wajah suaminya. Donghae memejamkan matanya saat merasakan sentuhan Ha won. Membiarkan istrinya menyuntuh apapun yang ia suka dari wajahnya. Wanita itu akhirnya memilih untuk merengkuh tubuh suaminya. Merasakan harum tubuh Donghae yang begitu menyesakkan untuk dirinya, menenggelamkan kepalanya pada leher suaminya.

Donghae memeluk erat pinggang istrinya dan mengecupi leher wanita itu. meninggalkan jejak basah pada leher Ha won. Wanita itu memilih untuk memjamkan matanya. Sudah berapa lama mereka tidak bersentuhan seperti ini. Satu minggu? Dua minggu? Tiga minggu? Dia rasa lebih dari satu bulan.

Bibir Donghae naik ke rahang Ha won, menelusuri garis-garis lembut dari rahang istrinya dengan bibirnya. Laki-laki itu berhenti di sudut bibir Ha won. Mengecup berkali-kali sudut bibir wanita itu, kemudian melanjutkan penjelajahan bibirnya ke hidung, mata dan berhenti di dahi wanita itu.

Ha won memejamkan matanya saat Donghae mengecup lama dahinya. Wanita itu meresapi segala kelembutan yang Donghae berikan kepadanya.  Tidak apa-apa ia berhenti untuk memikirkan masalahnya sekarang, kan?  Donghae melepaskan ciumannya pada dahi Ha won, kemudian memandang wanita itu dengan tajam.

“Kau merindukanku?” donghae bertanya dengan nada yang lembut kepada istrinya. Ha won menatap laki-laki di depannya dengan terkejut, bagaimana bisa laki-laki itu menyadari perasaaannya. Dongahe tersenyum ketika melihat ekspresi Ha won. Laki-laki itu sebenarnya tidak perlu bertanya. Melihat dari respon tubuh wanita itu terhadap sentuhannya sudah dapat di pastikan bahwa wanita itu merindukannya.

“Hae , ini tidak boleh, kan?”  Ha won menggelengkan kepalnya pelan.

“Aku tidak peduli.”

“Hae, pulanglah!” donghae tidak memerdulikan permohonan Ha won, laki-laki itu malah memilih untuk menempelkan bibirnya pada bibir wanita itu, tidak memberikan kesempatan sama sekali untuk Ha won mengeluarkan protenya. Dia tidak bisa menahannya lagi, kebutuhan mereka sangat mendesak saat ini.

Donghae menagangkat tubuh Ha won, membuat wanita itu berada di gendongannya. Laki-laki itu melangkah ke dalam kamar, menggunakan instingnya untuk segera mencapai pintu kamar Ha won. Laki-laki itu membaringkan tubuh istrinya di atas tempat tidur.

Ha won mengerang pelan saat Donghae berhasil menyusupkan tangannya ke dalam baju wanita itu. menyentuh langsung kulit wanita itu dengan telapak tangannya yang terasa panas. Tangannya bergerak meloloskan baju Ha won begitu saja melewati kepala, membuat ciuman mereka akhirnya terlepas.

Wajah Ha won yang memerah dengan keringat yang membasahi pelipisnya benar-benar membuat wanita itu terlihat mempesona.

“Kau cantik. Kau cantik, sayang.” Donghae mengusap pelan pipi wanita itu, membuat semburat merah muncul di pipi Ha won. Donghae tersenyum kecil, sebelum akhirnya melumat bibir Ha won, lagi. Tangan laki-laki itu meraba semua tempat dari tubuh wanita itu yang dapat ia capai. Menyalurkan gelegar panas ke seluruh tubuh wanita itu.

Ha won mengigit bibir bawahnya, berusaha mati-matian menahan suara desahannya. Wanita itu masih waras untuk tidak membangunkan anaknya dengan suara desahannya. Donghae masih sibuk melumat bibir Ha won, sambil memperkejakan tangannya dengan aktif melucuti pakaian wanita itu. bibir laki-laki itu berpindah ke leher jenjang Ha won,  menghirup dalam-dalam aroma tubuh wanita itu yang terasa begitu menyesakkan.

Laki-laki itu mengerang pelan, sambil menyatukan tubuhnya dengan  tubuh wanita itu. Membawa mereka berdua ke dalam puncak kenikmatan yang luar biasa. Seperti gelegar api yang membakar seluruh tubuh mereka.

***

Donghae menatap wajah Ha won yang sedang tertidur di pelukannya. Laki-laki itu membelai pipi Ha won, merasakan kulit halus dari wajah wanita itu. bagaiman ia bisa melepaskan wanita di sampingnya ini, jika ia sendiri sangat membutuhkan kehadirannya. Bukan hanya tubuhnya saja, tapi jiwanya juga. Wanita itu begitu melengkapi hidupnya.

Donghae menaruh dagunya pada puncak kepala wanita itu. mengertakan pelukannya pada pinggang Ha won, sebelum akhirnya benar-benar memejamkan matanya.

Dia tidak peduli apa yang terjadi besok, yang terpenting adalah wanita itu berada di dalam pelukannya, dan dia tidak akan pernah takut lagi menghadapi semuanya.

Ha on menggeliat pelan saat menyadari sinar matahari telah menembus kaca jendelanya. Wanita itu mengarahkan telapak tangannya untuk  menghalau sinar itu mengenai wajahnya. Wanita itu mendudukkan tubuhnya dan setengah terkejut saat merasakan sesuatu yang melingkari pinggangnya. Wanita itu tersenyum saat menyadari Donghae yang sedang tertidu pulas di sampingnya.

Tangannya bergerak tanpa terkontrol membelai rambut tebal laki-laki itu, kemudian turun ke pelipisnya, mengusapnya pelan. Tidak sadar bahwa gerakannya itu dapat membangunkan suaminya.

Donghae membuka matanya, mencengkeram tangan Ha won saat wanita itu berniat untuk mengangkat tangannya dari pelipis Donghae.

“Lakukan saja! Kau sudah lama bukan tidak memperlakukan seperti ini?”  ha won masih tetap terpaku menatap Donghae, membuat laki-laki itu menghembuskan nafasnya pelan. “Kau tidak perlu terkejut seperti itu. aku sudah mengatakannya berulang kali, aku tidak akan pernah melepaskanmu. Kau tetap akan berada di sisiku, menjadi wanitaku, istriku dan ibu dari putraku.”

“Semuanya tergantung padamu Hae.” Ha won memalingkan wajahnya, merasa enggan untuk menatap wajah Donghae. Bukan karena dia tidak mau melihat wajah laki-laki itu, tapi karena ia memang tidak akan sanggup bertahan jika melihat laki-laki itu.

“Jung Ha won! Dengarkan aku!” Donghae menarik dagu wanita itu agae menghadap ke arahnya. “Lupakan semuanya!  Kita memulai dari awal lagi. Kau tidak perlu menutupi perasaan sakitmu. Katakan padaku! Katakan padaku, jika merasa tidak nyaman. Katakan padaku, jika merasa marah. Katakan padaku, jika kau merasa kecewa. Aku suamimu dan kau berhak berkeluh kesah padaku.” Donghae menatap Ha won penuh harap. “Jangan pendam semuanya sendirian lagi, atau aku akan merasa bertambah bersalah padamu.”

“Kau tidak perlu merasa bersalah padaku. Aku yang seharusnya merasa bersalah padamu. Seharusnya aku tidak pernah menginginkanmu, tidak pernah memaksamu menjadi milikmu. Tidak mengacaukan hidupmu. Aku yang seharusnya bersalah, Hae.”

“Aku sudah melupakannya.” Ha won menatap Donghae terkejut. “Aku sudah melupakan wanita itu, jauh setelah kita menikah. Aku sudah berhenti memikirkannya. Dan itu semua karena dirimu.”

“Maukah kau kembali padaku?” Donghae menatap maniak mata bening milik Ha won. Menunggu jawaban yang akan di berikan oleh wanita itu.

Dia hanya membutuhkan kata iya dari wanita itu, dan ia akan berusaha sekuat tenaga untuk membuat segalanya menjadi normal. Ya, hanya dengan kata ‘iya’  saja.

FIN

Jung Ha Won note :

Lohaaaaaaaa………….

FREELANCE terbuka untuk siapa saja yaaa………

Hehehhe…

Yang berminat Freelance disini, bisa hubungin Fbku yeee…😀

Oiaaa….Yang pada nanyain kapan FF ku di post. Eummm. Sabar yah. Saiia lagih nyari mood. #alibi wkwkwkkwkw….

Nanti pasti ku post koq. Tenang ajah, okeehhh…

Selamat membaca dan….

Ghamsahamnida………………..

 

 

36 thoughts on “Freelance : Sad Romance

  1. Fuuuihhh,legaaa udh slese bacanya..dibagian awl blm ngeh sm konfliknya,tp stlh bca smp tengah akhrnya thu konflik sbnarnya..untg kgk jd cerai,pisah ranjang bbrpa saat aja udh menyiksa bt onge,ckckck..nona jung,pesonamu benar” cetarrrr..buat authornya,ff mu bgus dek,😀 ..dtggu ff slnjtnya ya

  2. Ini keren bgt thor,,dri awal smpe akhir dah di buat penasaran.
    Tp thor ini btuh sequel yah, hawon kan belum menjawab ‘iya’, please sequel’a yah…
    Gomawo and fighting thor.

  3. Huwaaa keren pisan,suka suka suka sm ceritanya..
    Dari awal smpe deket2 akhir masih berasa nyesek2nya..
    Untung aja si donghae cepet sadar n berusaha mempertahanin ha won n dong ha..
    Ditunggu ff selanjutnya ^ ^

  4. Jumma itu kok ada 2 tulisannya? *garuk2 bibir Onge* -_- sayahnya tdi bingung masa, ane kira ceritanya masih panjang eh ternyata double, klo panjangkan sayahnya puas *maunye

    hahahah ane knapa di epep ini berasa cemana yah? Meski oneshoot tpi ngena bgt dech, ane smpe terbawa suasana sayahnya *cipokin Meidha* wkwkwk

    si setan Hyunje juga muncul aigo, boleh tuh Hyunje Vs Dong Ha? Nyiahahaha😀

    oia boleh usul Jumma? *boleh dunk* ehem ehem #tess suara

    Jumma skali-kali bikin ff enceh yg barengan ama si Onge dunk? Pengin baca sayahnya, huakakakak #ditabok# di ff ini ada sich tpi cuma sekilas doank kagak dijabarin, ane pengin donk yg dijabarin *kedip2 manyisss* #mlongos gandeng Hyuk, siap dilempar JR Onge# wkwkwk :p

    *sekian dan terima kasih pidato pembagian ilmu dri sayah* huakakakakk :v

  5. agak terharu sama ceritanya, trus nemuin typo dia awal2 pas baca,, tp biasalah namanya juga typo suka nyempil tanpa kita tau,, suka sama ceritanya, tp alurnya agak kecepetan kali ye,, buat authornya semangat terus,,

  6. Kata guru agama aku eon, kalo ada masalah selesaikan saja diatas ranjang. Ternyata donghae juga pake cara itu:D

  7. Huwoooooooooooooo…….. Geregetannnnn liat Dongeeeee
    Nyesekkkk juga sih,,,tapi ujung-ujungnya pasrah di ranjang hohohoohoh (>___<)
    Ha Won jgn mau balikan dulu ma Donge,,,,biarin sajo dia tersiksa ampe ngesot-ngesot gitu *jambak Donge*
    Heeemmm jdi penasaran jika Dongha sama Hyunje udh ketemu,,kira-kira mereka bakal ngapain ya?? kekekkekeke ;D
    Need Sequel *bawa banner*

  8. JEBALLLLLL!!!!!!

    I NEED SQUEL WITH HAPPY END,PLEASE!!!!!
    #capslockjebol

    Mata merah,hidung bengkak(?) hanya krn ni ff…

    SUCCESS

  9. annyeong,saya reader baru di blog ini.
    awal2 cerita blm terlalu ngeh sm konfliknya,jadi blom dpt feelnya tp semakin dibaca feelnya smkn dapet….ada perasaan sesak d hati.
    untnglah masalahnya bs d selesaikan dan akhirnya happy ending…yeaaaa
    walaupun agak gantung endingnya…hihihi tp gapapa ttp bgs ko ff nya
    ttp berkarya dan semangat

  10. Seru ceritanya, ngeliat ha won dan donghae sengsara ternyata menyenangkan😀
    Tapi kenapa dua iblis itu (red:hyunje dan kyuhyun) mesti muncul sih.
    Scene dongha-nya dikit bgt.
    Kalo bisa ku tunggu sekuelnya yah😀

  11. Hhuuaa,,
    keren ff nya,,,
    pas bca awl deg”an donghaenya knpa,,trus bca lgi kejawab sudah pnsran nya,
    untung donghae cpet bertindak,,,
    bwt nyelesain mslah nya biarpun brakhir di atas ranjang,,,
    ekkkk

  12. Awal.a agak aneh baca.a..
    Karakter ha won.a beda banget..
    Jadi berasa bukan ha won..😀
    Tapi ceritanya okelah, cuma di sini donge.a kurang kuat ngungkapain rasa.a ke ha won.. *menurut aku sih yaa..
    End.a masih agak gantung..

  13. untung kgak jd cerai…
    qlo bneran cerai repot dahh hawon ngejawab pertanyaan dongha muluu…
    blm lg dy nenangin hatinyaa…
    hae cr diemin hawon krenn dehh…
    langsung k inti dluu

  14. annyeong,new reader here..hhe🙂

    sukaa bgt,,tp masih gantung..😀
    menurutku konflik.y kurang dipertegas,,hhe
    #justsaran

    tp ini keren🙂
    keep writing author🙂

  15. sukaaaaaaa, jarang2 ketemu epep yg castnya hae bagus😀
    klo dr kalimat akhir dr hae sih uda ketebak klo hawonnya bkal jwb iya tp itukan menurut reades blm tentu menurut author😀
    dan hae jg blm ngungkapin cinta kan, kyknya butuh sequel deh😀

  16. uhhh kirain sad ending… abis juduLnya bikin aku ragu bacanya. paling ga tahan kalo baca FF yg sedih2an… NyeseKkkk

    ehh ga taunya happy ending. meski awaLnya ga tau konflik apa sebenernya yg bikin mereka mau cerai..
    tapi ayyeyyy… jadi senyum2 sendiri bacanya… apaLagi past akhirnya..

    *Merinding*

  17. Awal-awal memang masih bingung dengan konfliknya. Baru mulai koq, udah cerai ajj, diakhir-akhir udah ketahuan ternyata masalah WIL. Pesona LDH memang tak terbantahkan. ckckckc…

  18. indahnya dunia jika tak ada perselingkuhan,, hahahha
    aku kira mereka akan berpisah mengingat betapa kerasnya usaha haewon untuk menggugat cerai lee donghae,,
    aku reader baru,, annyeong,,
    aku ijin baca ff yg lainnya yah..
    nice ff ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s