It’s Time to Swim

waterbom-bali

“Sudah siap?” tanya Donghae. Melihat Ha Won yang masih sibuk memasukan beberapa jenis makanan ringan kedalam sebuah kantung.

“Sebentar lagi,” sahut Ha Won.

Sambil menggendong Dong Ha yang sibuk mencengkram balon karet di tangannya, Donghae mendekati tas berisi kecil pakaian mereka. “Kelihatannya banyak sekali, apa saja yang kau bawa?”

“Hanya pakaian kalian,” jawab Ha Won. Yah, minggu ini mereka berencana pergi ke kolam renang, sekedar mengisi hari libur. Dan juga, mengingat ayah dan anak itu yang sama-sama menyukai air. Sepertinya itu pilihan yang tepat.

“Oke, kami tunggu dimobil,” kata Donghae. Membawa tas berisi pakaian itu di tangan kanannya, sementara tangan kirinya menggendong Dong Ha yang semakin gemas menggigiti balon itu.

Sepuluh menit kemudian, Ha Won berjalan kearah mobil sambil membawa pelampung kecil dan juga makanan yang tadi ia siapkan. Ia melihat Donghae sedang bercanda dengan Dong Ha, bayi itu terkikik riang ketika sanga ayah mengangkatnya tinggi ke udara, lalu menurunkannya seolah bayi itu akan jatuh. “Hati-hati, Hae,” Ha Won mengingatkan suaminya ketika Donghae mengangkat Dong Ha sedikit lebih tinggi.

“Eh, nyonya besar sudah datang. Ayo kita berangkat,” kata Donghae begitu menyadari kehadiran Ha Won. Ia menyerahkan Dong Ha kepada Ha Won, dan sebagai gantinya, menerima kantung dan pelampung yang disodorkan Ha Won padanya.

“Hati-hati,” ingat Ha Won lagi. Meski sudah sering membiarkan Donghae mengemudi, tapi tetap saja rasa was-was itu selalu ada. Mengingat bagaimana kemampuan menyetir sang suami yang bisa dibilang belum begitu bagus.

“Tenang saja, baby. Percayakan padaku,” ujar Donghae. Menepuk-nepuk dadanya bangga, yang mendapat dengusan kecil dari Ha Won sebagai balasan. Malas melihat suaminya terlalu banyak gaya seperti itu.

Kolam renang itu terletak tidak terlalu jauh dari rumah mereka, dalam waktu setengah jam mereka sudah memasuki area kolam renang berikut waterbom itu. Setelah membeli tiket masuk, Donghae membawa keluarganya memasuki wahana air itu. Dong Ha segera bergerak aktif dalam gendongan Ha Won ketika mata kecilnya menangkap pemandangan air yang melimpah ruah. Ini memang kali pertama bagi bayi itu dibawa ketempat seperti ini. Seperti ikan yang sudah terlalu lama diluar air, bayi itu menggerak-gerakan tubuhnya. Mulutnya bergumam tak jelas dengan tubuh yang digerakkan menunjuk kearah air, meminta ibunya membawanya memasuki kolam.

Pemandangan berbagai wahana permainan air yang berwarna-warni, membuat indera penglihatan Dong Ha bersinar senang. “Kau ikut berenang?” tanya Donghae dengan senyum mengejek. “Aawww,” ringisnya ketika merasakan rusuknya tertohok siku istrinya.

Ha Won meliriknya sebal, pria itu sudah tahu jika dia tidak bisa berenang tapi masih saja suka menggodanya. “Cepatlah ganti pakaianmu, aku akan mengganti pakaian Dong Ha. Kau tidak lihat anakmu sudah bersemangat untuk terjun kekolam secepatnya,” kata Ha Won.

Mereka segera berjalan kesebuah meja di pinggir kolam, meletakan barang bawaan mereka. “Seharusnya kita tidak perlu membawa makanan, beli saja disini,” kata Donghae. Mengingat ia harus memasukan makanan mereka kedalam satu tas lagi agar tidak disita penjaga pintu masuk kolam itu. Membuatnya terlihat seperti ingin pindahan karena membawa dua tas besar.

Ha Won melirik tak setuju, “dan mengeluarkan uang dua kali lipat dari harga yang sebenarnya?” cibirnya. “Lagipula mana kita tahu makanan disini terjamin kebersihan dan kesehatannya atau tidak.”

“Ck, dasar perhitungan,” ucap Donghae, meletakan bawaannya diatas meja.

Ha Won yang tidak memperdulikan ucapan suaminya segera mendudukan diri dikursi itu dan memangku Dong Ha yang terlihat ingin sekali segera menyelam. “Sabar, sayang. Ganti dulu pakaianmu, kau ini jika sudah melihat air antusias sekali.”

Donghae mengambil celana renang dari dalam tas yang tadi disiapkan Ha Won. Wanita itu sempat melirik kegiatan suaminya, dan mengerutkan kening ketika pria itu hanya mengambil sebuah celana renang pendek. “Kenapa hanya celananya saja?” tanya Ha Won dengan mata memicing curiga. Awas saja kalau suaminya ini berniat memamerkan dada bidangnya di depan umum seperti ini.

Donghae menyeringai lebar melihat tatapan curiga Ha Won. “Ini, aku mengambil bajunya juga,” ia menunjuk tangannya yang tadi segera meraih kaus tanpa lengan berwarna hitam, senada dengan celana renangnya. Bertindak cepat sebelum istrinya itu melontarkan rentetan omelan yang memusingkan. Pria itu segera melesat menuju ruang ganti.

“Sudah siap, jagoan?” tanya Donghae begitu kembali dari ruang ganti. Ha Won memberengut melihat penampilan Donghae, sementara Dong Ha segera menyambut uluran tangan Donghae yang ingin menggendonya dengan antusias. Tidak sabar ingin segera menceburkan diri dalam air. “Hahahahha,,, kau sudah tidak sabar ya?” tanya Donghae pada anaknya yang terlihat begitu semangat. Bayi itu sudah siap dengan pakaian renang berwarna hijau dengan gambar ikan di hampir setiap bagian, berikut penutup kepalanya. Donghae melirik Ha Won yang masih memberengut. Ck, kenapa lagi wanita itu, pikirnya. “Kau kenapa lagi? Ingin ikut berenang?”

“Kenapa pakaian renangmu ketat sekali?” sungutnya. Matanya melirik tak suka pada pakaian renang yang Donghae kenakan. Pakaian itu membalut sempurna tubuh berotot Donghae hingga terlihat seperti lapisan kulit kedua.

Lagi-lagi kening Donghae berkerut, “ini pakaian renang, baby. Tidak mungkin aku berenang menggunakan kemeja dan jeans, kan?” katanya tak habis pikir. Dia tahu, pasti saat ini istrinya sedang kesal karena sejak ia keluar dari ruang ganti tadi, banyak mata wanita pengunjung kolam itu, baik tua maupun muda menatap tanpa kedip kearahnya. Menunjukan dengan sangat jelas jika mereka semua terpesona pada penampilannya. “Sabar, sayang. Sebentar lagi,” bujuk Donghae pada Dong Ha yang sudah tidak mau menunggu lama.

“Ck, ya sudah berenang sana. Awas kalau kau berani macam-macam saat berenang nanti, dan jaga Dong Ha baik-baik,” kata Ha Won berusaha menekan rasa cemburunya ditempat umum. Meskipun yang ingin ia lakukan adalah mencolok mata para wanita yang menatap lapar pada tubuh sempurna Donghae. Ia menyerahkan pelampung kecil Donghae.

“Benar kami sudah boleh berenang?” tanya Donghae tak yakin, karena wajah Ha Won yang masih belum menunjukkan kerelaan.

Ha Won membuang pandangannya pada tas berisi makanan dan mengeluarkan isinya, berpura-pura menyibukkan diri. “Sudah sana cepat, kau ingin Dong Ha terbang ke kolam itu sendiri karena terlalu lama menunggumu,” katanya acuh.

Donghae mengangkat bahu tak kalah acuh, “baiklah. Ayo, sayang, kita berenang.” Donghae mengangkat tubuh Dong Ha tinggi-tinggi, membuat bayi itu kembali terkikik riang dan menggerakan tubuhnya dengan aktif.

Dari kursinya, Ha Won memperhatikan Donghae yang memasangkan pelampung kecil bergambanr Nemo dileher Dong Ha, menahan agar bayi itu tetap terapung dipermukaan. Dong Ha segera menggerak-gerakan tangan dan kakinya begitu tubuhnya mulai dimasukan kedalam air. Ha Won tidak mampu menahan tawa, ketika melihat Donghae yang terlihat kewalahan menangani gerakan Dong Ha yang begitu aktif. Tangan dan kaki kecilnya bergerak dengan aktif menghasilkan cipratan air yang sering kali mengenai wajah Donghae. Pria itu tertawa kuat melihat semangat anaknya.

“Dasar ayah dan anak ikan, jika sudah bertemu air seperti mendapatkan harta karun saja,” gumam Ha Won pelan. Bibirnya masih mengulum senyum simpul.

Lima belas menit pertama, Ha Won berusaha menampik kekesalan yang kembali menyerang ketika melihat sekelompok remaja yang terus saja berusaha mendekat kearah suaminya. Meskipun Donghae tidak menanggapinya, tapi tetap saja remaja-remaja tidak tahu malu itu berusaha mendekat. Berpura-pura menggoda Dong Ha, dan berusaha membuat bayi itu tertawa. Dan sialnya, Dong Ha menanggapi godaan itu dengan menunjukan cengirannya yang menggemaskan. Sementara Donghae hanya sesekali tersenyum singkat, menghargai orang-orang yang gemas pada anaknya.

“Ck, kenapa Dong Ha harus menunjukan wajah menggemaskannya itu. Seharusnya ia gigit saja tangan wanita-wanita genit itu, enak saja mencubiti pipi anakku,” gerutu Ha Won kesal.

Lima belas menit lagi setelahnya, Ha Won benar-benar sudah tidak bisa menahan kesabarannya. Para wanita itu semakin menjadi-jadi, berpura menabrak Donghae saat berenang atau ketika mereka saling mendorong dengan temannya. Dengan langkah-langkah kesal, Ha Won menghampiri tepian kolam. Lalu ia segera berseru memanggil suaminya, “Hae… kurasa sudah cukup, sepertinya Dong Ha sudah kedinginan,” ujarnya beralasan. Tentu saja itu tidak benar, bohong sekali mengatakan jika Dong Ha sudah kedinginan. Karena, pada kenyataannya meski sudah setengah jam berenang, bayi itu masih terlihat senang bermain air. Dong Ha masih bersemangat berteriak sambil membating-bantingkan mainan plastiknya kedalam air.

“Sayang, sudah dulu ya. Lain kali kita main lagi, arra?” kata Donghae lembut. Tapi, sepertinya bayi itu tidak setuju, bayi yang kini berusia delapan bulan itu menggeleng-gelengkan kepalanya ketika Donghae mengangkatnya dari kolam. Ia meronta-ronta ingin dikembalikan ke air. “Dia tidak mau,” seru Donghae pada Ha Won yang terlihat tidak sabar menunggu mereka di tepi kolam.

“Sudah angkat saja, dia tidak akan pernah bosan bermain air jika tidak dihentikan,” kata Ha Won. Tidak memperdulikan lirikan sinis wanita-wanita yang sejak tadi berusaha menggoda suaminya. “Cepat, Hae!”

“Haissshhh… sudah, sayang. Nanti eomma marah jika kau tidak berhenti,” bujuk Donghae ketika Dong Ha kembali meronta. Bahkan, kali ini bayi itu menangis memprotes kesenangannya diganggu.

“Iya, iya, nanti kita main lagi. Sekarang kau ganti baju dulu, ne?” bujuk Ha Won atas rengekan anaknya. Ia segera membungkus tubuh Dong Ha dengan handuk bayi itu. “Dan kau,” katanya pada Donghae. “Segera ganti pakaian renangmu, aku jengah melihat para wanita itu bersiap menelanmu bulat-bulat,” ketusnya kesal. Meninggalkan Donghae menuju tempat ganti anak-anak, untuk memandikan Dong Ha. Membilas bayi itu dari pengaruh kimia air kolam.

“Benar tebakanku, pasti alasannya menghentikan kami berenang karena remaja-remaja genit itu yang berusaha menggodaku. Ck, dasar pencemburu. Seharusnya dia sadar jika mempunyai suami dengan sejuta pesona sepertiku harus kuat hati dan banyak bersabar,” kata Donghae dengan kepercayaan diri tinggi, yang melebihi tinggi badannya. Ia menggelegkan kepala memperhatikan Ha Won yang berjalan menjauhinya.

 

***

 

Lohaaa….

Keluarga baruku numpang lewat yee… wkwkkwkwkw…

Gegara tadi sore ituh anaknye si bos ngerengek-rengek minta ditemenin berenang, jadilah kepikiran kek beginian. Secara, appa dan anak ikan itu khan paling doyan ama air. wakakakakka… #digigit Onge :p

Oceeyyy… jangan heran kalo cerita2  Lee’s Family cuma seiprit2. Wkwkwk… saiia bikin cerita mereka tuh biasanya Cuma spontanitas dari ide-ide aneh yg tiba-tiba muncul gak jelas. :v

Oceeyy deh… sekian n Ghamsahamnidaa….. (^.^)/

 

 

 

63 thoughts on “It’s Time to Swim

  1. Hihihi… Ya mo bgmn lg hae.. Abis kamu ini selalu menggoda iman para perempuan walaupun kamu gk ngelakuin apa2. Mungkin klo kau berdiri diem di monas, tuh monas jg bakalan rame dlm 5 menit hahaha….
    Ya ampun dong ha lucu bgt! Dasar water baby xixixi…
    Gumawo. Keren ff nya…

  2. Ohh astaga..
    Ha won eomma tega sekali dikau nyamain anak ama suami sendiri ama ikan??
    Dan cemburunya itu loo bkin dong hae jd semakin narsis -_-
    Suka eon pas bagian yg gambarin rasa percaya diri hae lbh tinggi dr tinggi bdannya, omo.. Jujurnya pke bingit #disambit Hae

    Uhmm rada bingung di atas ama kalimat “tas berisi kecil pakaian” tp selebihhnya bkin happy pas bacanya😀
    Hmm mga ktemu ama lee’s family lg..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s