MISS YOU

MAPLE

Aku menunggumu dalam sisa penantianku, berharap kau akan datang kembali kepadaku, memelukku, seperti yang kau katakan saat itu. Mengikis semua ragu yang sempat merongrongku, aku melangkahkan kaki ketempat ini. Disini, ditepi sungai ini aku melepaskan jemari hangatmu, membiarkanmu melangkah demi menggapai satu diantara sekian banyak impianmu.

Empat musim telah berlalu sejak saat itu, sejak daun Maple yang telah berubah warna mengiringi kepergianmu dalam lambaian sendu. Mewakili rasaku ketika harus melepasmu. “Jangan berbalik. Ketika kau ingin melangkah kedepan, jangan pernah izinkan kepalamu untuk menoleh kebelakang sebelum kau sampai ditujuanmu. Keraguan akan menahanmu ketika kau menolehkan kepala.” Dalam sesak aku melihatmu menjauh mengikuti ucapanku, tidak menoleh sampai kau hilang dari jarak pandangku. Bagus, meski kutahu kau membenci hal itu, tapi kau tetap melakukannya demi diriku. Demi aku yang tidak akan pernah rela berpisah denganmu.

Hari ini, segala kabut kerinduan telah terkikis oleh sang waktu yang akan membawamu kembali dalam pelukku. Gelar itu telah kau raih, pencapaian sebagai seorang Master yang mengharuskanmu berpisah sementara waktu denganku telah berhasil kau genggam. Dendam akan kerinduan yang mencekik dapat terbalaskan hari ini.

Memandang riak air yang terkena sapuan angin senja, aku mengeratkan mantel dinginku, dimusim yang sama aku tidak sabar menanti pelukan hangatmu.

Tubuhku yang sempat menggigil, menegang seketika saat indera penciumanku segera disesaki aroma citrus yang sangat familiar. Aroma yang sempat menghilang beberapa waktu, kini telah kembali menguasaiku. Dia telah kembali, separuh jiwaku telah kembali. Gemuruh dalam hatiku bersorak sorai beradu dengan detak jantung yang berkerja dua kali lebih cepat, karena tak sabar bertemu dengan pemicu debaran ini.

Dua lengan besar segera mengurungku dalam kehangatan yang sangat kurindukan. Secara naluri, tubuhku menyerah dalam kehangatannya. Sunyi, suara daun kering yang semula ramai menari dalam sapuan angin, kini tak lagi terdengar. Alam seperti mengerti akan kebutuhan kami, membiarkan dua mahluk ciptaan Tuhan ini meleburkan diri dalam dekap kerinduan. Dari balik punggungku, aku dapat merasakan debaran yang sama seperti yang terjadi dalam dadaku. Seperti inikah rasa dahaga rindu yang tengah melaju?

Bahuku menghangat ketika nafas pria itu menghembus disana, mataku masih terpejam menikmati pelukannya. Kami masih enggan berkata-kata, masih ingin membiarkan tubuh kami beradaptasi dalam energi yang sama. Cinta.

“Kau lebih cepat satu menit dua puluh tiga detik,” kataku pelan. Dadaku masih belum mau mengehentikan debarannya, terlebih ketika telapak tanganku bisa kembali bersentuhan dengan kulit lengannya yang melingkar di pinggangku.

Aku sudah mengitung dengan cermat kapan pria itu seharusnya sampai dihadapanku. Begitu mendapatkan berita dari keluarga Kyuhyun satu minggu yang lalu, tentang kapan pria itu kembali ke Boston. Aku selalu menghitung setiap hari, setiap jam, setiap menit, dan setiap detik yang harus kuhadapai sebelum kembali bertemu degannya setelah empat musim kami berpisah. Berpisah tanpa pernah berkomunikasi, begitulah keinginanku. Aku tahu Kyuhyun tidak akan bisa berkonsentrasi dengan studi pasca sarjana-nya di Kanada jika terus memikirkan hubungan kami. Dia akan terus mengeluh merindukanku, dan kemungkinan ia akan kembali sering-sering dan menambah panjang waktu studinya sangat besar.

Itu alasan kenapa aku memutuskan komunikasi kami, memberinya kesempatan untuk segera menyelasaikan studinya dan melanjutkan urusannya denganku. Urusan kami, urusan hati.

“Kau ingin menyiksaku lebih lama lagi, hmm?” bisikan lembut yang menggelitik tepian telingaku membuat kedua sudut bibirku tertarik. Aku tersenyum ketika menangkap nada merajuk dalam suaranya, bibirnya mulai berkelana disepanjang bahuku sebelum berlabuh dalam gosokan halus dirambutku. Aku tahu dia sedang meraup aroma lily yang begitu dia sukai. Ingin rasanya aku berbalik yang melihat seperti apa rupa priaku saat ini, ratusan hari kulalui dengan bingkaian wajahnya dalam memory otakku. Apakah bakal janggutnya mulai kembali berulah dan pria itu membiarkannya semakin merajalela memenuhi rahangnya? Atau apakah jerawat yang selama ini menghuni wajahnya mulai merasa lelah dan akhirnya memilih musnah? Oh, mataku sudah memprotes untuk segera melihat objek istimewa yang dinantinya.

“Kenapa kau berkata seperti itu?”

Aku dapat merasakan sudut bibirnya tertarik membentuk senyum sinis dibelakangku, ketika mendengar dengusan kecilnya, “apalagi namanya jika bukan menyiksa? Kau melarangku menghubungimu selama aku menimba ilmu,” sungutnya sebal. Bentuk protes yang sudah bisa aku tebak.

“Kau tahu alasanku melakukan itu, bukan?”

Aku merasakan pelukakannya dipinggangku semakin mengerat. “Ya, meskipun aku kesal, tapi aku bisa apa? Aku hanya memanfaatkan rindu yang mencekik sebagai cambukku untuk bisa sesegera mungkin menyelesaikan studiku dan segera membuat perhitungan denganmu,” katanya dengan nada mengancam yang terlalu dibuat-buat. Ya, kami berdua tahu jika dia mendengar suaraku, menatap wajahku, meski hanya dari balik layar, maka bisa dipastikan dia akan kembali ke Boston dan mengabaikan studinya. Dan itu hanya akan menimbulkan masalah baru, beasiswa itu terlalu sayang untuk ditelantarkan hanya demi ego kami berdua. Maka dari itu, meski hatiku tertekuk memprotes keputusanku sendiri, aku harus melakukannya. Memupus komunikasi kami agar dia bisa berkonsentrasi.

“Kau langsung kemari?”

“Tidak ada rencana lain setelah acara kelulusanku selain menemuimu, orang pertama yang sangat ingin kulihat saat aku kembali kesini.” Dia benar-benar tidak mau menunggu lagi.

Aaahhhh…. aku sangat tidak sabar untuk memandang wajahnya, wajah priaku, penguasa hatiku. Membiarkan lengannya yang masih melingkari pinggangku, aku berbalik. Mataku dengan rakus segera melahap pemandangan yang tersaji dihadapanku. Tampan, satu kata yang tidak akan pernah bisa lepas darinya. Busana formal yang aku yakin dipakainya ketika acara kelulusan masih melekat ditubuhnya, menandakan jika ia benar-benar segera kembali ke Boston setelah acara kelulusannya selesai. Ah, pasti dia sangat tampan dan gagah ketika mengenakan busana kebesaran hitam yang menandakan kelulusannya.

Dia sedikit lebih kurus dari terakhir kali aku melihatnya, pasti ia melanjutkan kembali kebiasaan makannya yang tidak teratur selama satu tahun ini. Tapi, terlepas dari itu dia tetap sama, tidak berubah. Iris hitam itu masih memantulkan bayangan yang sama, wajahku. Alis hitam lebat bak semut berarak itu selalu berhasil memancing jemariku untuk menyentuhnya, dan aku melakukannya. Mata Kyuhyun terpejam ketika tanganku bergerak menyentuh wajahnya, ia terlihat meresapi saat jariku menari diantara bekas-bekas jerawat yang sudah tidak terlalu kentara. Ah, dia sempurna dengan ketidak sempurnaannya. Hidung mancungnya membuat jariku merosot, hingga ibu jariku jatuh tepat menyentuh bibir merahnya yang penuh.

Aku terdiam, jariku tidak bergerak ditempatnya berhenti, begitupun dengannya. Matanya yang semula terpejam perlahan terbuka, pandangan kami bertemu dalam palung rindu yang terpancar jelas. Debaran dihatiku masih belum mereda, ketika muncul debaran yang lebih menggila saat perlahan tapi pasti bibir lembut itu mendarat diatas bibirku. Tuhan, aku merindukannya, sungguh.

Mata kami terpejam saat perasaan itu tumpah dalam kecupan manis yang berubah menjadi lumatan penuh kerinduan. Kyuhyun seperti ingin membayar setiap detik yang tidak dilaluinya bersamaku, membalas dendam dari setiap kesepiannya ketika jauh dariku. Aku membiarkannya memuaskan haus akan sentuhannya padaku, karena akupun demikian. Nafasku tersengal ketika dia mengizinkan paru-paruku kembali terisi udara.

“Lusa kita menikah,” katanya masih terengah.

“Apa?” aku berharap hanya nafasku yang belum kembali normal, bukan telingaku. Aku yakin jika tadi mendengar kata menikah dalam ucapannya. Aku memandanganya tak mengerti.

“Kau mendengar ucapanku, tidak perlu bertanya lagi,” katanya. Mata Kyuhyun menunjukan kesungguhan melebihi ucapannya.

“Kau bercanda,” kataku tak percaya. Aku berusaha tertawa kecil menanggapi ucapannya.

Kali ini wajah seriusnya berhasil membungkam tawa terpaksa yang kuciptakan. Dekapan di pinggangku yang sempat meregang, kini kembali menguat. Membuatku semakin terhimpit dada bidangnya. Ia menundukan kepala, membuat keningnya menyentuh keningku. “Kau tahu berapa lama aku menunggu saat ini? Sekarang, aku sudah tidak sanggup lagi untuk menunggu, rinduku sudah tidak bisa di tolerir. Aku ingin mengikatmu selamanya, disini, disisiku. Honey, katakan kau bersedia menikah denganku, katakanlah,” ucapnya penuh perasaan.

Aku tidak bisa menjawab, dadaku kembali disesaki perasaan baru. Menikah dengannya adalah keinginan terbesar dalam hidupku, menjadi istrinya adalah impianku, melahirkan anak-anaknya adalah harapanku dimasa depan, dan menua bersamanya adalah hal yang sangat ingin kujalani.

Aku menelan ludahku yang terasa mengganjal ditenggorokan karena tak sanggup membendung kebagiaan yang baru saja ditawarkan padaku. “Apa ini tidak terlalu cepat? Kau bahkan baru kembali.”

“Tidak.”

“Tapi kita belum mempersiapkan apapun,” kataku mengingatkan.

Kyuhyun menarik wajahnya, aku mendongak memandangnya. Senyum manis terkembang dibibirnya meski matanya masih memancarkan keseriusan. Kedua telapak tangannya memerangkap wajahku, kedua ibu jarinya mengusap pipiku lembut. “Keluarga kita sudah menyiapkan segalanya,” jelasnya singkat.

Aku tertegun mendengarnya. Keluarga kami?

“Maksudmu?” jujur aku masih belum mengerti semua yang ia katakan.

“Ya, orang tuaku dan orang tuamu sudah menyiapkan segala keperluan pernikahan kita.”

“Kyu, aku…” Kyuhyun menahan tangannya ketika aku ingin melepaskan tangan itu dari wajahku. Aku berusaha bernafas dengan normal dibawah pandangannya yang memancarkan kesungguhan tak terbantah. Dadaku semakin sesak akan kejutan bertubi-tubi yang beruntun menyerangku. “Bagaimana itu bisa terjadi?” tanyaku akhirnya.

Lagi-lagi senyum manisnya muncul sebelum menjawab pertanyaanku. “Tentu saja bisa, aku meminta bantuan kedua orang tuaku dan orang tuamu. Kau kira aku bisa mengurus semuanya sementara kita terpisah ribuan mil jauhnya?”

“Orang tuaku?”

Kyuhyun sedikit meringis ketika aku memandangnya intens. Sepertinya aku tahu apa yang terjadi dibelakangku. “Kau curang!” tuduhku. Aku berusaha melepaskan diri dari kungkungan hangatnya, tubuhku memberontak tapi hatiku tidak rela dia melepaskan pelukannya.

“Kau yang memaksaku berbuat curang,” balasnya tak mau kalah.

“Kita sudah sepakat,” kataku mengingatkan perjanjian kami.

Kyuhyun menggigit sudut bagian kanan bibir bawahnya, pandangan kesalnya ia tujukan padaku. “Kau gila. Kau tahu aku tidak bisa hidup jauh darimu, kau tahu aku bisa gila jika tidak mendengar kabar darimu meski hanya satu menit pun. Dan kau malah memaksaku untuk tidak memikirkanmu selama satu tahun demi studiku? Jika bukan karena kau, lebih baik aku membuang beasiswa itu daripada harus berjauhan denganmu,” nada suaranya meninggi melepaskan kekesalannya selama ini. Dan aku yakin Kyuhyun tidak akan ragu melakukan hal itu, mencampakan impiannya menimba ilmu demi untuk terus dekat denganku.

Aku tahu aku gila. Keegoisanku yang memaksa melakukan ini semua, aku tidak ingin dia menghubungiku, sebab aku tahu hanya akan ada keluhan ini dan itu jika kami tetap saling berhubungan selama dia menimba ilmu. Aku tidak ingin rasa rindu yang kusampaikan mengganggu konsentrasinya yang hanya akan memperlama waktu studinya, yang artinya semakin memperlama perjumpaanku dengannya. Lebih baik begini, memupuk rindu hingga tak mampu lagi saling menunggu. Menyiksa hati dengan himpitan rindu yang terasa membunuh.

“Honey, apa kau kira aku bisa tenang sementara aku tidak tahu bagaimana keadaanmu, bagaimana hari-harimu tanpaku disampingmu. Apa kau hidup dengan baik, apa kau makan dengan baik, apa kau bernafas dengan baik sementara oksigen yang kita hirup tak lagi sama? Apa kau kira aku bisa bertahan selama satu tahun jika tidak mendapatkan semua kabar itu dari ayahmu? Atau ibumu?”

Aku terdiam dengan pandangan yang mungkin tidak dapat ia artikan. Mataku sudah memanas sejak aku merasakan kehadirannya, tapi, sebisa mungkin aku menahan laju itu runtuh dari mataku. Aku tidak ingin merusak momen ini.

Ya Tuhan, haruskah pria ini merasakan itu semua karena diriku? Aku tahu dia mencintaiku, tapi aku tidak tahu sedalam apa rasanya padaku. Mungkinkah seperti ini?

Mataku tak lagi mampu menahan butiran haru yang menyesakkan. Aku menyurukkan wajah didadanya, menyembunyikan mataku yang mulai basah. Kyuhyun tidak suka melihatku menangis, dengan alasan apapun.

“Aku benci padamu,” kataku berusaha mengendalikan suaraku agar tidak terisak.

“Kenapa berkata seperti itu?” ada nada bingung dalam sauranya. Tapi tangannya bergerak lembut mengelus rambutku yang memanjang hingga melebihi bahu.

“Kenapa cintamu selalu terasa lebih besar dari cintaku?”

Aku dapat merasakan senyumannya diatas puncak kepalaku, lengannya semakin menenggelamkanku dalam pelukannya. “Karena yang aku tahu, alasanku masih bernafas hingga detik ini adalah untuk mencintaimu.”

Bongkahan batu dalam tenggorokanku yang tadi kurasakan, kini kian membesar menahan laju kata yang ingin terlontar. Tuhan, sebesar itukah cintanya padaku? Inikah buah penantianku? Cintanya tidak berubah meski kami terpisah waktu.

“Kyu,” panggilku pelan, teredam dekapan hangatnya yang enggan kulepaskan.

“Hmmm…” sahutnya. Hidungnya kembali mengirup aromaku demi memuaskan dahaganya.

“Apa yang membuatmu begitu mencintaiku?” tanyaku penasaran. Selama ini dia tidak pernah menjawabnya dengan serius, selalu menjawabnya dengan kalimat-kalimat konyol yang menjengkelkan seperti, “Karena aku kasihan padamu, jika bukan aku yang mencintaimu. Siapa lagi?” atau “Karena kau berbeda dengan wanita-wanita lain, mereka cantik-cantik sementara kau tidak, makanya aku begitu mencintaimu. Karena kau itu langka.”

Tapi, kuharap kali ini dia akan menjawabnya dengan sungguh-sungguh.

“Karena takdirku,” jawabnya. Aku tidak membalas ucapannya, masih terdiam, memberinya kesempatan untuk menjelaskan apa yang dia ucapkan. “Karena Tuhan sudah mentakdirkanku untuk mencintaimu, seperti itupun denganmu. Kau juga sudah ditakdirkan untuk mencintaiku, jadi, katakanlah kau akan menikah denganku,” bujuknya diakhir kalimat.

Hatiku mengembang? Sangat. Aku bahkan khawatir akan melayang tinggi jika Kyuhyun tidak menahanku dalam pelukannya.

“Kurasa kau terlalu percaya diri, apa yang membuatmu yakin jika aku juga mencintaimu?” godaku.

Kepala Kyuhyun tertarik dari helaian rambutku, kedua tangannya kembali memerangkap wajahku. Bulatan pekat itu memandangku sejenak, sebelum kelopaknya tertutup. Bibirnya mendekat keujung rahangku dan mendarat disana, memaksa mataku ikut terpejat merasakan kecupannya. “Kau tidak akan datang ketempat ini disetiap hari dan jam yang sama, jika kau tidak mencintaiku,” katanya dalam bisikkan lembut. Bibirnya melakukan penjelajahan disepanjang rahangku dalam kecupan-kecupan lembut. “Kau tidak akan datang kerestoran Paman Sam setiap hari dan memesan menu kesukaanku yang jelas-jelas tidak kau sukai, lalu hanya memandangi makanan itu selama satu jam penuh sebelum kau pergi, jika kau tidak mencintaiku.”

Ah, bagaimana dia bisa tahu? Apakah selama ini, raganya berada di Kanada tapi matanya tetap berada disekitarku? Dia benar-benar mengerikan, kenapa banyak sekali mata-matanya yang mengawasiku?

Oh… Cho Kyuhyun kau selalu tahu bagaimana caranya mencintaiku.

Aku membuka mataku dan mendapati matanya yang tajam namun penuh kelembutan saat menatapku itu tertuju padaku.

“Jung Ha Won,” jarang sekali ia menyebut nama lengkapku. “Ditempat ini kita pertama bertemu, ditempat ini kita pertama merajut kasih, dan ditempat ini juga kita berpisah untuk bertemu kembali. Dan kini, aku ingin ditempat ini juga kau mengatakan kesediaanmu untuk mau melangkah menjejaki masa depan bersamaku, menjadi teman hidupku, menjadi wanita yang melahirkan anak-anakku, dan menjadi penghuni masa tuaku kelak sebelum kita benar-benar bersatu dikeabadian nanti.”

Aku bersyukur karena Tuhan yang menciptakan dinding hatiku. Karena jika tidak, aku yakin dindingnya akan runtuh disebabkan gedoran hatiku yang tengah berpesta menabuhkan genderang kemenangan. Tuhan, kebahagiaan apalagi yang aku cari? Kau sudah memberikanku lebih dari apa yang pernah kuinginkan dalam hidupku. Aku seperti melawan kuasa-Mu jika menolak menikah dengannya.

“Aku tidak punya hak melawan takdir yang sudah dijatuhkan padaku,” kataku menyambut ucapannya. Jika aku bisa melihat cinta, seperti itulah yang kulihat dimatanya. Binarnya melebihi apa yang pernah ia tunjukan padaku selama ini.

Ditepi sungai ini, disaksikan barisan pohon Maple yang berjajar rapih, dilatarbelakangi langit senja yang temaram, dan dengan paduan suara cicitan burung Robin yang mengalun indah. Aku menyerahkan hidupku padanya, pada dia yang dipilihkan sang Pencipta menjadi takdirku.

Tubuhku kembali masuk dalam pelukannya. Sepertinya dia benar-benar tidak mau terpisah jarak meski hanya sebatas siku denganku. Satu hal yang kini kupahami. Tidak ada penantian yang sia-sia, semua hanya permainan sang waktu. Dan Tuhan tidak pernah salah menulis takdirmu, kau hanya perlu menjalani dan mensyukuri apa yang sudah menjadi takdirmu.

FIN

AAAAHHHHHH….. Entah setelah baca inih kalian pada buru2 ambil keresek atau malah kagak keburu. Wkwkwkwk…. perlu mengeluarkan sesuatu mungkin????

Hhmmmmm…. entahlah, belakangan ini rinduku pada pria ini begitu mengganggu. Mungkin dia merasa kuabaikan karena keasyikanku bermain dengan yang baru? Tidak Honey, kau bodoh jika berpikir begitu. Kau yang pertama, dan akan selamanya ada disini, dihatiku. #olang calap ngomong inih :v

Kalian memiliki tempat sama di hatiku. Jariku hanya bergerak mengikuti apa yang terjadi di hati dan kepalaku. Aaaahhhhhhhhhhhh…. kenapa pria-pria tamfan inih selalu membuatku gila???? >.<  #jangan ada yg jawab -_-

Wkwkwkkwkw….. ziziiik beud yeh kata-kataku. Ngahahahhahahah….

Oceylaaahhh….

Inih hanya tumpahan rinduku pada dia Mr. Autisku. Lope banyak-banyak deh buat kamyu…❤ :*

Cuuuuzzzz…..

GHAMSAHAMNIDAAAAAAAAAAAAAAAAA…………

50 thoughts on “MISS YOU

  1. ngerasa melayang2 deh bacanya,mpe pegangan takut beneran melayang. . ..
    mengharukan,bikin mewek jg nich. . .
    huaaaa cho kyuhyun,romantis sekali dikau. . .

  2. Eaaaaa dongha lagi nangis sama bapaknya eommanya lagi celingkuh eaaa eaaa
    manyisss bgt eon, tapih tapih itu belom bilang iyah pan eon?

  3. Emaakkkkk ye hyun…pke pelet apa dirimu smp autis berromantis” ria kyk gt,sm kata”nya manis kyk kembang gula..duda kerenn yg dianggurin kmrn akhrnya diurusin lg,skrg giliran onge’ yg dianggurrin.,klo udh kyk gni bau” IF bkal menyusul,hahahahaha :-*

  4. Eonni ada apa dengan kpalamu. Apa kepala eonni habis kejedot tembok? :p heran tiba2 bisa keluar kata2 yg romantis kayak gitu,,,beda dari biasanya. Dari awal sampe akhir ceritanya manyis bgt😀 #peyuk yehyun* \^^/

  5. KRESEK MANAAAAAA???
    Kakaaaaaakkk!!!!
    dirimu kesambet apa buuukk?? *di tabok*
    kenapa jadi ada Honey honey nya??
    agak aneh euy kalau Kyu yang ngucapin itu..
    Muahahaha

    BTW aye belum lebaran kan di mari???
    HP eror, jadi g bisa buka FB *nangis di pojokan*

    Maaf lahir batin Yee…
    maaf kalau diriku suka punya salah ama dirimu *sungkem*
    ^^v

  6. ciyeee, unnikun romantis2an sekarang😀
    iaa, kangen jg am kyu romantis2an am ha won..
    ahh, takdir…
    kadang selalu takjub dengan kata ini🙂
    ishh, ayoh dilanjut romantis2an nya😀

  7. Aaahhh, finally something abt mr. Autis😀
    Tp itu beneran kyu sm ha won kan??? Aigoooo, mntng2 kangen, manissssnya brasa banget😀
    Aku juga kangeeen ye hyun sm appa nya d sini :’)

  8. “Satu hal yang kini kupahami. Tidak ada penantian yang sia-sia, semua hanya permainan sang waktu. Dan Tuhan tidak pernah salah menulis takdirmu, kau hanya perlu menjalani dan mensyukuri apa yang sudah menjadi takdirmu.”

    totally speechless … I miss you my Jong Woon TT__TT

  9. Ini keren bgt eonni, satu waktu, satu tempat, satu scene, satu percakapan, tapi ini lebih dari cukup untuk menggambarkan kisah cinta mereka:3 aaaaaak pengen gitu juga❤ *plakk*

  10. Ini lu makan ape ya nii… Sumveh romantis… Ok carry on n don’t touch my Wonnie ㅋㅋㅋㅋㅋ intinya ini ff oneshoot romantis n so sweet :^) big hug for you :*

  11. kyaaaa,. kyuhyun bisa romantis jg!!! >_<
    lanjut eon, bikin ff kyuhyun nya,..
    oya ff eonnie, yg bad pattient(maaf klu slh nulis, soalnya lupa, -_-) kpn lanjut eon??

  12. hmmm,,, manyiiiiiiiiisss!!! ^^
    blakangan dah sering bca ff d note mu yg castnya hae-won ada dongha jga trus pas bca yg kyu-won kople brasa kya hawon lg selingkuh,haha

  13. aku musti komentar apa ini???
    akhirnya nongol juga pria ungu (?) ini di pagemu . . .
    pas pertama baca biasa aja . pas tau kalo itu kyu lgsg seyum2 ndiri, pas tau mo ngelamar iku deg2an juga. kenapa jd berasa ikutan dilamar gini xD
    xoxo jd ikutan jatuh cinta akunya . .

  14. Haaaaaahh Kyu betapa so sweet nya dirimu *fly Kyuhyun nya lomantis banget, sudah sudah aku gak bisa komen lagi sudah pkok nya nih ff keren bgt *ngflywithKyu😀

  15. sweet-nya ga too much. kata-kata puitisnya juga ga cheesy kok. Completely perfect imperfect.
    tapi aku pikir ff ini akan lebih bagus kalo judulnya bukan miss you, yah you know, udah terlalu banyak ff dengan judul miss you hehe. terus juga rada melotot pas bagian kyuhyun manggil ha won pake honey. err… so not his style, in my opinion sih hehe.
    tapi yang jelas, ff ini buat pagiku meleleh. ff ff lainnya ditunggu! hwai-tiiiing:))

  16. Hahahahahahaha.. Sumpaaaaaaaahhh oeeeeeeenn.. Co cweeeeeeeeeettttt sekaliiiiiiiiiiii.. Ya ampun, ya ampun, ya ampuuuuuuuunn.. Q jg mw dong bang kyuuuuuuuuuu dilamaaaaaaaaarrr.. Wkwkwkwk.. Aaaaaahhh bnr2 bkin ngiriiii..

  17. Keren banget. Kata”nya penuh makna banget, dan menjadikan ff ini terlalu sweet untuk dibaca. Kata”nya itu gak nahan. Bagus, keren banget. Heeehh ya begitulah, kalau ada pasangan yang bener” seperti ini, wow banget. Sayangnya hanya fiction. Keep writing! Ya~

  18. Jangan salahkan saya kalo saya jatuh hati sama si Autis ya gara-gara baca FF ini.. Evil n romantis berbaur jadi satu.. ㅋㅋㅋ
    Imaginasiku melambung ke suami tercintaku, dan juga pada dia, si Autis.. Omaigat, how could it be??? Huft..
    대박!!!
    #89LFams

  19. Jiaah,, aku kira,, donghae loh,,
    eh ternyata-eh ternyata kyuhyun’s back!!!

    Oke oke,,,
    Miss you ini,,, romantis eon,,
    Apalagi ngbayangin ada pohon maple itu loh,, ditepi sungai.#aheeek

    Bikin aku melayang,,
    Hahaaaa

  20. Kyuuuu,,, romantisnya dirimu,,, aaaaaa so sweet….
    Alasan kyu mau nikahin ha won bikin merinding,,, huaaaaa tersentuh.
    Keren dehhh pokoknya, next ditunggu karyamu ya eonn IF, BAD patient dan kartayamu yg lain,, hhehehehe🙂

  21. Aduhhh…sooo sweatttt bangettttt oniee…kyu oppa di sini romantis bangett.. kata” nya itu lohh aduhh bikin melayang..”lebaymodeon”
    Daebakk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s