INTRODUCE MY SON

1463015_245298032292328_334486577_n

Misi… misiii….
cuma pingin ngenalin anak-anakku yang ketjeh ajeh sih.
#eaaaaaaaaaaaaaaaa…………… :v

Kim Nara berusaha manahan desahan yang sudah mendesak tenggorokannya, ketika bibir Ye Hyun semakin berani menjelajahi setiap jengkal tubuhnya. Tubuh pria itu begitu besar jika dibandingkan dengan tubuh mungil Nara, yang terbaring pasrah menerima setiap sentuhan Ye Hyun yang terasa panas membakar tubuh lembutnya. Pria itu sangat pintar memancing sendi-sendi dalam tubuhnya untuk berteriak meminta serangan total pria itu, alih-alih kebiasaan Ye Hyun yang selalu ingin bermain-main lebih lama sebelum melakukan permainan inti.

“Hyunie…” desahan pelan sarat akan permohonan itu sukses memunculkan seringai puas dibibir Ye Hyun, manakala ia berhasil membuat kekasihnya itu menyerah pada godaannya.

“Kau menginginkannya sekarang?” bisik Ye Hyun disela kegiatannya mengigiti tepian telinga Nara.

“Ne, jebal… Kau senang menyiksaku, hmm?” tanya Nara. Jemarinya meremas frustasi rambut tebal Ye Hyun yang tengah bersemangat menjalarkan lidah disepanjang lehernya. “Oh, Hyunie… kau…”

“Sssttt… malam masih panjang, sayang. Biarkan aku mengagumi bukti keindahan ciptaan Tuhan,” tangan Ye Hyun segera mencegah tangan Nara yang berniat menyentuhnya. Tidak, setelah lebih dari satu minggu wanita itu meninggalkanya untuk urusan pekerjaannya di luar kota. Wanita yang sudah empat tahun menghuni hati dan jiwanya itu tidak akan mendapatkan apa yang dia inginkan dengan mudah. Harus ada sedikit permainan, agar rindu itu terlepas dengan kepuasan total, batin Ye Hyun. Tangan lihainya segera bergerak melakukan sentuhan-sentuhan yang membuat erangan Nara semakin menyesaki indera pendengarannya dan Ye Hyun menyukai desahan lembut ketika wanita itu menyebut namanya dengan nada memohon.

Mendengar isakan frustasi yang terlontar berulang kali dari mulut Nara, tak urung membuat pria itu tidak tega meneruskan keusilannya. “Kau siap?” tanya Ye Hyun akhirnya. Menempatkan diri untuk penyatuan menggila yang sebenarnya sudah sejak tadi ingin ia lakukan.

“Ya, ya, ya…” Nara sudah siap akan serangan sesak yang akan memenuhi bagian tubuhnya yang terasa kosong, tepat ketika ponsel Ye Hyun berdering. Kegiatan keduanya terhenti seketika saat gangguan kecil itu muncul ditengah pacuan gairah yang siap mereka arungi.

“Hyunie?”

“Biarkan saja,” kata Ye Hyun acuh. Tubuhnya mulai bergerak kembali mengejar hasratnya yang sempat terganggu. Tapi, belum sempat niatnya terlaksana, benda yang tergeletak diatas meja nakas disamping ranjangnya itu kembali memekikan deringan kuat dengan tidak sabar. “Oh, ya Tuhan. Tidakkah orang itu tahu aku paling benci waktu istirahatku diganggu?” geram Ye Hyun disisi tubuh Nara. Sementara ia belum mengangkat tubuhnya dari atas tubuh feminim wanitanya.

“Angkatlah dulu, mana tahu itu penting,” kata Nara lembut. Tahu jika kekasihnya itu ketika marah akan terlihat menyeramkan.

Sambil melontarkan umpatan yang membuat Nara memejamkan mata dan menahan desakan tubuhnya yang sudah memprotes akan sentuhan pria itu.

“Mwoya?” keterkejutan Ye Hyun membuat Nara membuka matanya kembali dan memandang penuh tanya pada pria yang dengan tubuh polos tengah berdiri di dekatnya tanpa sungkan. “Ah, ne, aku akan segera kesana. Arra, aku mengerti… ne… gomawo…”

“Sialan! Dasar bocah tidak berguna, selalu saja membuat masalah,” umpat Ye Hyun sengit, sambungan telepon itu sudah terputus.

“Wae?” tanya Nara penasaran. Mendudukan diri setelah menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
Deru nafas yang semula penuh gairah itu sudah berganti dengan dengus kemarahan, Ye Hyun memandang Nara garang. Meski tidak bermaksud melemparkan tatapan itu pada kekasihnya. “Dong Ha ada dikantor polisi,” kata Ye Hyun dengan kemarahan tertahan.

“Astaga. Lagi?” tanya Nara tak percaya.

“Ne,” jawab Ye Hyun pelan, tangannya mencengkram ponselnya geram. Menahan diri untuk tidak membanting benda itu. Nara memandang Ye Hyun ngeri, pria itu akan sangat menakutkan jika sedang marah apalagi kali ini kondisinya sedang tidak tepat. Pria itu belum tuntas menyalurkan hasratnya. Dan itu akan semakin membuat emosinya semakin tak terkontrol.

Tapi, sepertinya kemarahan kali ini berhasil mengikis hasratnya. Tentu saja, bagi pengacara sekaliber Cho Ye Hyun yang sudah tidak diragukan lagi prestasinya dibidang hukum, berurusan dengan pihak yang berwajib bukan untuk pekerjaan melainkan urusan keluarga membuatnya berang. Karena bisa saja, hal itu mempengaruhi reputasinya dimata publik jika sampai tercium media. Terlebih, ini bukan pertama kalinya Lee Dong Ha, adik tiri pria itu terlibat aksi yang mengharuskannya berurusan dengan pihak yang berwajib.

“Kita kekantor polisi sekarang?” tanya Nara. Tidak tega jika bocah polos itu harus berlama-lama dikantor polisi. Entah apalagi yang telah dilakukannya kali ini.

“Tidak, kau tetap disini. Biar aku saja yang mengurusnya,” jawab Ye Hyun, lalu beranjak menuju lemari pakaian.
“Hyunie, kau tidak akan memakinya sepanjang jalan seperti waktu itu, kan?” tanya Nara khawatir. Pasalnya mulut pria itu jika sudah marah akan melontarkan kata-kata tajam yang meski diucapkan dengan sangat pelan, tetap akan menimbulkan nyeri diulu hati.

“Aku tidak berjanji,” kata Ye Hyun acuh. Tangannya menarik resleting celana jeans yang membalut bokong kokohnya yang disanggah dengan dua otot paha yang mengencang indah.

“Kalau begitu aku ikut,” kata Nara, segera bangkit dari ranjang untuk berjalan menuju lemari pakaian yang ia gunakan bersamaan dengan pria itu. Ia tidak dapat membayangkan jika harus melihat Dong Ha tertunduk dalam, menerima segala umpatan dari kakaknya itu lagi.

“Kukira aku sudah mengatakan jika kau tetap disini. Apa pendengaranmu mulai terganggu?” sindir Ye Hyun tajam. Tanda jika dia tidak ingin apapun ucapannya dibantah.

“Hyunie,” mohon Nara.

“Aku pergi.” Aroma citrus khas pria itu mengelus lembut indera penciuman Nara, ketika Ye Hyun melintas melewatinya.

***

“Ck, apalagi sekarang yang bocah bodoh itu lakukan? Selalu saja membuat kekacauan,” umpat Cho Ye Hyun kesal. Baru tiga puluh menit ia menikmati cumbuannya bersama sang kekasih dan ia harus diusik dengan urusan yang membuatnya meradang. Bagaimana tidak, Lee Dong Ha, adik tirinya yang bodoh itu kembali harus berurusan dengan pihak yang berwajib. Lagi? Baru satu tahun mereka kembali tinggal bersama, setelah sejak kuliah Ye Hyun memilih menetap di Seoul dan Dong Ha yang semula menetap di Busan dengan sang nenek, memutuskan untuk melanjutkan karir menarinya di Kota tempat kakaknya tinggal itu, tapi meski baru sebentar bocah itu sudah tiga kali berurusan dengan polisi.

Pria berusia dua puluh delapan tahun itu memarkirkan Audy Hitamnya dengan terburu-buru, ingin segera menyelesaikan masalah apapun itu yang membuatnya harus datang ketempat ini.

“Sekali lagi kau terlibat masalah yang membuatmu berurusan dengan polisi, jangan harap aku akan mengurusimu lagi. Aku akan benar-benar membiarkanmu membusuk dibalik trali besi, jika kau kembali membuat ulah. Camkan kata-kataku!” ancam Ye Hyun setelah satu jam kemudian, ia berhasil mengeluarkan Dong Ha dan seorang gadis muda yang mungkin seusia dengan adik tirinya itu dari tuntutan atas kasus pengrusakan sebuah mobil.

“Aku juga tidak bermaksud menghancurkan kaca depan mobil itu, hyung. Mana kutahu jika penjahat itu akan menghindar dan pukulan kayu itu mengenai mobil dibelakangnya,” Dong Ha mencoba membela diri dengan sikap polosnya yang masih tampak jelas.

Pembelaan yang justru menghantarkan lirikan tajam Ye Hyun pada wajah pucat Dong Ha. “Jangan coba-coba memulai perkelahian, jika kau tidak yakin bisa menang,” kata Ye Hyun dengan geraman dalam. Ia melemparkan tatap mengejek pada Dong Ha. Bodoh! Apa dia pikir dengan ukuran tubuhnya yang kecil itu sanggup mengalahkan tiga orang perampok yang memiliku ukuran tubuh dua kali lipat lebih besar darinya? Ia yakin adiknya itu akan mati konyol seandainya mobil patroli polisi tidak melintas di sekitar tempat kejadian.

Kang Hyomi, wanita yang sejak tadi bersama Dong Ha sedikit berjengit mendengar nada berbahaya dalam suara Ye Hyun. Mata bulatnya memandang ngeri pada pria yang kini mulai berjalan menjauhi mereka setelah sebelumnya membantai mereka dengan tatapan membunuhnya. Dalam kengerian yang mendera, terselip kekaguman dalam hati Hyomi ketika memandang cara berjalan Ye Hyun yang begitu percaya diri, khas pria dewasa.

Dong Ha mendengus sebal melihat parter menarinya itu terpesona dengan kakak tirinya. Bukan hal baru memang. Meski terlahir dari rahim yang sama, tapi perbedaan gen yang menurun antara dirinya dan Ye Hyun sangat jelas. Nyaris seratus delapan puluh derajat. Cho Ye Hyun, adalah pria yang dianugerahi dengan berbagai kebaikan hati Tuhan. Dia tampan, kulit putihnya yang berkilau membalut kerangka berlapis otot-otot yang terbentuk dengan sempurna. Dia pintar, dan yang pasti dia beruntung karena begitu banyak wanita yang tergila-gila padanya, meski ia hanya melabuhkan hatinya pada satu wanita, Kim Nara.

Tidak seperti Dong Ha, bukan karena dia jelek. Dong Ha cukup tampan, meski tidak setampan kakaknya, karena sebagai penari latar tentu saja tubuhnya bisa dikatakan memiliki bentuk yang bagus, walau hanya sampai pada batas seratus tujuh puluh tiga centi meter. Berbeda jauh dengan sang kakak yang mencapai seratus delapan puluh lima centimeter. Dan itu, terkadang cukup membuat Dong Ha merasa rendah diri.

“Ayo kuantar pulang,” kata Dong Ha. Memecah keterpesonaan Hyomi yang masih saja memandangi Ye Hyun meski mobil pria itu sudah menjauh, nyaris hilang dari jarak pandang mereka. Menyadari dirinya tidak pandai mengendarai kendaraan apapun, Dong Ha lebih memilih menggunakan kendaraan umum. Terlebih, kakaknya tidak pernah mau repot-repot menawarkan diri untuk mengantar atau sekedar memberinya tumpangan.

“Ha-ya,” panggil Hyomi pelan, saat Dong Ha sudah mulai berjalan didepannya.

“Hmmm,” sahut Dong Ha tanpa menoleh.

“Dia benar-benar kakakmu?” tanya Hyomi, berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Dong Ha.

“Wae?” pria berusia dua puluh tiga tahun itu balik bertanya.

“Eum,,, tapi… kenapa marga kalian berbeda?” tanya Hyomi hati-hati, takut jika pria didepannya itu tersinggung dengan pertanyaannya.

Dong Ha menoleh sekilas pada wanita disampingnya, lalu kembali menatap kedepan sebelum menjawab, “kami berbeda ayah.”

“Mwo? Maksudmu… ibumu…”

“Ne, mendiang ibuku menikah dua kali. Beberapa tahun setelah kematian suami pertamanya, ia menikah kembali dengan ayahku,” jelas Dong Ha.

“Ouh, pantas saja kalian berbeda,” kata Hyomi sambil mengangguk paham.

“Berbeda dalam hal apa?” tanya Dong Ha. Sekedar ingin tahu pendapat wanita yang baru dua bulan dekat dengannya ini, tentang dirinya dan kakaknya.

“Banyak hal.”

“Contohnya?” kejar Dong Ha.

“Dia tinggi dan tampan,” jawab Hyomi mantab.

Dong Ha menghentikan langkahnya, lalu berbalik menghadap Hyomi. “Dan aku?”

“Kau? Hmmm… kau tidak tinggi dan… tidak tampan,” Hyomi menyeringai lebar menanggapi tatapan kesal Dong Ha yang tertuju padanya.

“Dengan kata lain, aku pendek dan jelek? Begitukan maksudmu?” sungutnya jengkel.

Hyomi mengangkat bahu santai menanggapi kekesalan temannya itu, “yah, bisa dibilang seperti itu.”

“Mwo? yah!!! Kau…”

“Yah!!! Sakit, bodoh! Kenapa kau menjitakku? Aku mengatakan yang sebenarnya,” protes Hyomi sambil mengelus kepalanya yang malam itu kurang beruntung karena harus merasakan jitakan tangan Dong Ha.

*******

Inih udeh sebulanan ngendok di lappie, kagak tau kapan bakal kelarnye. U,u
wkwkwkkw…..
anak-anakku yang tamfan kena juga, jadi korban kenistaan otakku. hmmmm… -_-

53 thoughts on “INTRODUCE MY SON

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s