Erotic Summer – Part 1

summertime-cocktail-poolside

Matahari sudah bertengger gagah di ufuk timur, menyebarkan bias jingga yang menyegarkan pandangan mata, menebarkan kehangatan lembut sensasi pagi. Didalam dapur mungil yang didesign sesuai keinginan si penguasa dapur, seperti biasa, Avery Bryant selalu melakoni perannya sebagai seorang istri dengan semangat. Tak ada hal yang lebih menyenangkan baginya, selain bisa menyiapkan segala sesuatu untuk keluarga kecilnya dengan tangannya sendiri. Dan, itu benar-benar menjadi kegiatan favoritnya selama lima tahun terakhir. Hobinya memasak dan mengatur segala hal hingga yang terkecil, serasa tersalurkan setelah ia menikah dan memiliki putri. Kebahagian dunia seolah telah berada didalam genggamannya. Keluarga, adalah dunianya.

Setelah beberapa saat berkutat dengan masakannya, Avery memindahkan makanan yang sudah ia siapkan keatas meja makan. Menunggu suami dan putrinya selesai bersiap diri. Setelah dirasanya semua sudah sesuai, Avery kembali kedapur untuk melepaskan apronnya. Terdengar langkah-langkah mantap pada undakan anak tangga, di susul langkah lainnya yang lebih kecil. Avery tersenyum saat kembali ke meja makan, dan melihat kedua orang yang paling berarti dalam hidupnya sudah menapaki anak tangga terakhir.

“Pagi, permata-permata hatiku. Sudah siap memulai hari?” sapa Avery, tersenyum sayang pada suami dan putrinya yang berumur empat tahun.

Aiden Lewis, seperti biasa, selalu tampak memukau dan terlihat tampan dengan cara berpakaiannya yang elegan. Sementara Gwen Lewis, putri kecil mereka, sudah siap dengan seragam sekolahnya. Meski baru berusia empat tahun, tapi, karena kecerdasannya ia sudah direkomendasikan untuk memasuki Taman Kanak-kanak. Gadis cilik itu segera menaiki kursi, bahkan sebelum sang ibu sempat membantunya. Bocah itu selalu ingin melakukan segala hal sendiri, berbanding dengan Avery yang selalu mengkhawatirkan anaknya. Hal itu, membuatnya sedikit lebih protectif terhadap Gwen.

“Sudahlah, dia sudah besar, sayang.” Aiden berkata pelan saat melihat Avery bedecak kesal, karena Gwen yang tidak ingin menerima bantuannya. Ia tersenyum saat melihat wajah datar Gwen menanggapi kekesalan Avery.

“Dia masih kecil Aiden, dan sudah seharusnya dia belum boleh melakukan hal-hal yang…”

“Aku sudah besar Mom, disekolahku bahkan aku yang paling tinggi diantara yang lain. Aku bukan bayi lagi,” mulut kecil Gwen memprotes cepat ucapan Avery. Selalu, situasi seperti ini memang sudah menjadi bumbu dalam semarak pagi di kediaman mungil bergaya Victoria itu.

“Nah, kau lihat bukan? Kurasa hanya dia bocah empat tahun yang bersikap layaknya orang dewasa.” Avery terus menggerutu sementara tangannya bergerak meletakan makanan di piring Aiden dan Gwen.

Untuk beberapa saat, ketiganya sibuk dengan makanannya masing-masing, diselingi protesan Gwen karena Avery yang menambahkan sayuran dipiringnya. “Bagaimana dengan persiapan peresmian Cafemu? Sudah finish?” tanya Aiden.

Avery menoleh kearah Aiden, ia tersenyum menerima perhatian dari suaminya. Aiden yang paling tahu sebesar apa keinginannya untuk bisa membuka Cafe itu. Tiga tahun menjadi pengelola Cafe -tempatnya berkerja beberapa saat lalu- membuat Avery cukup menguasai seluk beluk pengelolaan Cafe. Dan, hasratnya yang begitu kuat akan dunia memasak dan kesenangannya mencoba hal-hal baru dalam menciptakan kreasi makanan ringan, membuatnya memutuskan untuk membuka Cafe-nya sendiri.

“Hampir. Hanya tinggal beberapa hal kecil, mungkin dua atau tiga hari lagi kita sudah bisa meresmikannya,” jawab Avery dengan semangat.

“Benarkah? Kerja yang bagus, sayang. Kau memang selalu tepat melakukan segala hal,” meski sudah terbiasa mendengar pujian beserta kata-kata rayuan sang suami. Tak urung, hal itu acap kali masih sering membuatnya tersipu. Meski ia tahu, jika maksud Aiden hanya untuk menggodanya.

“Bisa kau hentikan itu, Dad?” sela Gwen dengan pandangan malas.

“Apa?” tanya Aiden tak paham, Avery ikut menatap anaknya yang duduk disebelah Aiden, berseberangan dengan dirinya.

“Rayuanmu membuat makananku menjadi hambar,” jawaban asal itu terlontar dari mulut kecil Gwen tanpa sungkan, membuat Avery tak mampu menahan ledakan tawa yang memaksa menerobos tenggorokannya. Ya Tuhan, terkadang ia tak yakin jika putrinya itu baru berusia empat tahun. Kosa kata yang Gwen ucapkan sudah melebihi usianya. Ia tak menyangkal akan kecerdasan putrinya, ia justru mensyukuri hal itu. Tapi, untuk saat-saat tertentu ia dan Aiden harus menghadapi keadaan yang tidak menyenangkan seperti ini. Sering kali Gwen melontarkan celetukan pedas yang mampu membuat kedua orangtuanya bersemu merah dan memutuskan untuk merapatkan mulut.

“Oh, kau membuat hatiku terluka, sayang,” ucap Aiden dengan suara yang terlalu didramatisir, berpura-pura sedih.

“Benarkah?” Gwen terkikik riang saat melihat wajah terluka Aiden yang ditunjukkan secara berlebihan. Ia tahu, jika ayahnya hanya berpura-pura. Tapi Gwen senang melihatnya.

“Tapi, kau bisa memberiku satu kecupan untuk mengobatinya.” Gwen masih terkikik seraya melompat turun dari kursinya, dan dengan semangat mendaratkan satu kecupan di pipi Aiden yang sudah disodorkan kearahnya.

Avery tersenyum bahagia melihat kedekatan keduanya. Meski tidak memiliki pertalian darah dan juga penurunan gen, ia tahu jika Aiden begitu menyayangi Gwen melebihi apapun. Ia sudah berhutang begitu banyak kepada pria itu. Ia tidak tahu akan bagaimana nasibnya dan Gwen jika Aiden tidak membantu kesulitannya. Ia tahu, bagaiamana Aiden mencintai dirinya dan Gwen. Pernikahan mereka memang harmonis dan itu memang benar. Tapi, dibalik itu semua, pernikahan mereka tidaklah sempurna. Cinta Aiden dan Avery tidaklah seperti apa yang ada dibenak orang-orang yang melihatnya. Mereka menyadari hal itu, tapi mereka cukup nyaman menjalaninya, bahkan menyenangkan.

Kekurangan yang dimiliki Aiden, membuatnya tak mampu menjadi suami yang sempurna. Itu juga kenapa kehadiran Gwen sangat berarti dalam hidupnya. Aiden merasa ketidak sempurnaannya tertutup atas kehadiran Gwen. Meski Gwen bukan darah dagingnya, ia takkan ragu menyerahkan segala yang ia punya untuk anak itu. Gwen terlalu berarti baginya, dan juga Avery, tentu saja.

“Dad, apa aku sudah bisa melepaskan dua roda belakang sepedaku minggu ini?” tanya Gwen tiba-tiba.

“Tidak,” belum sempat Aiden menjawab, jawaban lain terdengar dari Avery. Gwen segera mengerut tak suka.

Aiden melirik kearah dua wanita super dihadapannya. Avery tidak menoleh sedikitpun, ia sibuk dengan makanannya sendiri. Tidak peduli dengan tatapan memohon Aiden dan juga pandangan protes dari Gwen.

“Kenapa? Sekarang aku sudah lebih ahli, Mom. Ayolah, roda itu sangat mengganggu, kau tahu?” Gwen mencoba memberi alasan yang menurutnya harus dipertimbangkan. Ia menoleh kearah Aiden, meminta bantuan.

“Sayang…”

“Menjadi ahli, setelah minggu lalu kau terjatuh, begitu?” sela Avery lugas, tanda ia tidak menerima kompromi. Avery mengangkat pandangannya, menunggu protesan anak semata wayangnya itu. Gwen menunduk, memberengut kesal karena ia tidak mempunyai jawaban. Ia tidak suka menggunakan sepeda dengan bantuan dua roda dibagian belakangnya. Karena itu membuatnya terlihat seperti anak kecil. Dan ia benci dianggap anak kecil, meski kenyataannya dia memang masih kecil. Ada saat-saat dimana ia tidak ingin dianggap anak kecil, tapi ada juga saat dimana ia ingin selalu dimanja.

Aiden menggerakan tangannya di bawah meja, memberi kode kepada Gwen, jika semuanya akan baik-baiknya, serahkan padanya. Tapi ternyata hal itu tak juga membantu saat suara Avery kembali terdengar. “Aku tahu apa yang kau lakukan, Aiden.”

Hufh. Terdengar tarikan nafas pasrah dari dua orang lintas generasi dihadapannya.

***

Hari itu, satu hari penuh Avery habiskan untuk mempersiapkan peresmian Cafe barunya. Ia benar-benar bersemangat, ia bahkan menolak saran Aiden untuk menggunakan jasa Event Organizer. Untuk kali ini, ia ingin menyiapkan segalanya dengan tangannya sendiri, meski lelah, tapi ia puas.

Avery pulang kerumah sedikit terlambat, yang mengharuskannya berhadapan dengan Gwen yang sudah memasang sikap protes. Bocah kecil itu berkacak pinggang kearah ibunya yang baru saja melangkah masuk, “kau terlambat lagi Mrs. Lewis?” wajah imutnya dibuat semenyeramkan mungkin. Hal yang justru membuat Avery ingin tertawa, tapi ia tidak melakukannya.

Avery segera mendekati Gwen dan berlutut mensejajarkan diri dengan putrinya. Dengan wajah bersalah, ia mengecup kedua pipi bulat anaknya. “Maaf, tadi masih ada sedikit urusan yang harus kukerjakan. Apa kau sudah mandi?” tanya Avery, mengalihkan pembicaraan untuk mengurangi kekesalan Gwen. Aneh memang, Aiden, sang suami tidak pernah memprotes jika dia terlambat pulang. Justru perempuan cilik inilah yang akan mengomelinya jika ia terlambat sampai dirumah.

“Tentu saja, Dorrie bahkan memandikanku sejak empat jam yang lalu,” jawabnya ketus. Dorroty Hayes, janda berusia lima puluh tahun, yang masih mampu mengendarai sepeda motor dengan kecepatan mengerikan itu. Dorrie, begitu biasa dirinya dipanggil, hanya tinggal seorang diri setelah kedua putranya menikah dan pindah dari Boston, Dorrie yang sudah menghabiskan waktu di Boston sejak ia lahir, sama sekali tidak tertarik dengan tawaran anak-anaknya untuk ikut salah satu dari mereka tinggal di kota lain. Demi mengisi kesepiannya, Dorrie menawarkan diri kepada pasangan muda Lewis itu, untuk membantu merawat Gwen sejak bocah itu lahir. Dan, tentu saja keluarga kecil itu menyambutnya dengan baik. Dorrie mengasuh Gwen, hanya jika pasangan itu sedang tidak dirumah

Tangan kecil Gwen segera memeluk Avery, yang kemudian berdiri. Kebiasaan yang selalu dilakukan saat Avery pulang bekerja adalah dengan menggendongnya. Gwen selalu merasa dirinya sudah besar, tapi untuk kebiasaan yang satu itu, ia masih belum bisa merubahnya. Tak peduli jika ibunya lelah, ia akan menangis jika Avery tidak segera menggedongnya. Meski hanya sampai meja makan, atau ruang bermainnya. Yang penting ia sudah merasakan pelukan dan gendongan ibunya. Untuk yang satu ini, Aiden bahkan tidak akan berhasil membujuknya.

“Kau terlihat lelah,” ujar Aiden saat mereka sudah bersiap untuk tidur. “Kau yakin tidak ingin memakai jasa EO?”

Avery merebahkan diri disamping Aiden, tersenyum mendengar nada khawatir dalam ucapan suaminya. “Tak apa, aku senang melakukannya. Lagipula, hanya tinggal beberapa hari lagi.”

“Aku tahu. Tapi, kau juga harus memperhatikan kesehatanmu.” Avery mengangguk. “Kuharap, semuanya berjalan sesuai dengan keinginanmu,” ucapnya lembut.

“Aku juga berharap begitu.”

Aiden menggerakan tangannya, mengelus pucuk kepala Avery dengan lembut. Sekedar membantu merilekskan pikiran istrinya, membuat mata wanita itu terpejam merasakan sentuhan ringan dari sang suami.

“Ave, lusa sahabat lamaku akan datang. Dia akan mengadakan pameran lukisan di Mauren Hotel. Mungkin, dia akan mampir kesini. Kau tidak keberatan?”

Kedua mata Avery kembali terbuka, sudut-sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman lembut. “Tidak, mana mungkin aku keberatan dengan kedatangan sahabat suamiku. Kau pasti merindukannya, kan?”

“Sangat, dia salah satu sahabat terbaikku. Tapi, kami harus terpisah saat ia melanjutkan sekolah seninya di Dallas. Sejak itu, kami mulai disibukan dengan kegiatan masing-masing hingga sedikit melupakan satu sama lain. Tapi, kudengar sekarang dia tinggal di Arizona. Tempat kediaman kedua orangtuanya.”

“Kalau begitu, kau harus mengajaknya kemari. Aku juga ingin mengenal seperti apa sahabat suamiku.”

“Terimakasih, Ave. Kau memang yang terbaik,” kata Aiden atas pengertian Avery.

“Aku tahu,” ucap Avery riang.

Aiden tersenyum penuh kasih, Avery menutup mulutnya yang terbuka lebar menandakan rasa kantuk yang mulai menggerogoti tubuh lelahnya. “Tidurlah, kau butuh banyak istirahat,” ucap Aiden.

“Kau juga, bukankah besok kau ada persidangan?”

“Hmm… Baiklah, selamat tidur, sayang,” ucap Aiden seraya menarik tangannya dari kepala Avery.

“Selamat tidur,” balas Avery saat Aiden sudah berbalik memunggungi dirinya.

Seperti inilah hubungan mereka, hanya berputar pada kata-kata. Tanpa sentuhan lebih, tanpa keintiman. Selama lima tahun menikah, bahkan mereka bisa dibilang tidak pernah bersentuhan dalam arti yang sebenarnya dalam hubungan suami istri. Aiden menyayangi Avery, tapi ia tidak bisa menyentuhnya. Bukan mereka tak ingin melakukan hal yang normalnya suami istri lain lakukan, tapi, garis takdir sudah menentukan segalanya. Kecelakaan yang dialami Aiden sepuluh tahun lalu, mengakibatkan kerusakan serius pada bagian terpenting dalam tubuhnya. Membuatnya tak lagi sempurna sebagai seorang pria. Aiden sadar dengan ketidak sempuraan dirinya itu, ketidak mampuannya dalam memberikan nafkah batin untuk sang istri.

Ia tak melarang Avery, jika ingin mencari pemenuhan kebutuhannya dengan pria lain. Mendapati Avery mau menikah dengannya saja, sudah menjadi anugerah tak terkira bagi Aiden. Tuhan masih memberinya kebahagiaan dengan cara lain. Dan ia tidak akan menuntut lebih. Tapi, Avery tak pernah ingin menyakiti Aiden, lima tahun mereka menikah tidak satu kalipun Avery berniat untuk bermain gila dibelakangnya. Mungkin, masalalu wanita itu juga yang membuatnya tak ingin bermain-main dengan para lelaki.

Avery memandangi punggung pria yang sudah menjadi super hero dalam hidupnya itu. Demi Tuhan, ia tak tahu lagi bagaimana caranya mensyukuri berkah Tuhan, yang sudah mempertemukannya dengan pria berhati malaikat ini. Aiden adalah mata air yang dikirim Tuhan, pada kehidupannya yang gersang dan tandus. Aiden datang tepat disaat ia tengah terjebak dalam labirin kehidupan.

Aiden pria yang tampan, seorang pengacara muda dengan karir cemerlang. Berbagai kasus berat berhasil dimenangkannya. Tapi, Aiden yang dulu sangat berbeda dengan sekarang. Dulu, Aiden merupakan pria dingin, ia benci dengan wanita yang hilir mudik menebar godaan kepadanya. Tak sedikit dari mereka yang berusaha merayunya secara terang-terangan. Wajah tampan, ditopang tubuh yang terbentuk sempurna dengan lekukan-lekukan otot yang membentuk kesatuan indah. Kesempurnaan itu menutupi dengan sangat baik, kekurangan yang ada di baliknya.

Tapi, gelapnya awan mendung yang menaungi kehidupan Aiden, segera berganti menjadi indahnya binar pelangi, saat sosok Avery memasuki hidupnya. Aiden langsung terpesona saat pertama kali melihat Avery, pada sesi interview di kantornya. Kecantikan, kisah hidup dan ketegaran wanita itu, begitu menarik perhatian Aiden. Hingga, saat Avery baru satu bulan bekerja sebagai sekertarisnya, Aiden memberanikan diri melamarnya. Aiden tahu saat itu Avery tengah mengandung tiga bulan, karena wanita itu sendiri yang mengatakannya. Avery yang muda dan cantik, terjebak dalam kondisi seperti itu, membuat keinginan untuk melindungi wanita itu mendorong Aiden hingga berani mengambil langkah tersebut.

Bahkan, kepada Avery, Aiden berani menceritakan tentang kekurangannya. Awalnya, Avery sempat terkejut. Tentu saja, siapa yang akan menyangka seorang pria dengan kemaskulian yang begitu kuat, ternyata memiliki riwayat buruk tentang kejantannya. Keterpurukan yang keduanya rasakan, membuat Avery menerima pinangan Aiden. Sejak saat itu dunia keduanya menjadi lebih bersinar, terlebih setelah kehadiran Gwen ditengah-tengah mereka. Aiden merasakan kebahagian tak terkira. Tak pernah sedikitpun ia berpikir akan memiliki anak, meski bukan anak kandungnya sendiri. Tapi itu tak berarti apapun, bagi Aiden Gwen adalah segalanya, dunianya, hidupnya.

Avery memejamkan matanya yang sudah lelah. Tapi, tiba-tiba kenangan lain merangsek masuk menari-nari dibenaknya. Selalu, pada saat-saat tertentu bayang-bayang masalalu itu kembali muncul, semakin ia berusaha melupakannya, semakin bayangan itu mendesak. Kenangan erotis keindahan musim panas, yang ia lewati bersama sosok tampan seorang pria yang hingga saat ini begitu dibencinya. Pria yang sudah membawa Gwen kedalam kehidupannya. Penipu ulung dengan pesona mematikan, senyum pria itu bahkan mampu mencairkan puncak Everest, itulah yang Avery ingat. Avery masih polos kala pria itu menerobos masuk dalam kehidupannya. Membuat liburan musim panasnya di California lima tahun lalu terasa penuh warna.

Avery semakin memejamkan mata rapat-rapat, berusaha menghalau kenangan apapun yang berisikan pria itu merajai benaknya. Tak ada tempat yang tersisa bagi penipu seperti dia. Tidak ada. Tidak…

Dengkuran halus terdengar saat kelelahan berhasil menariknya kealam mimpi.

***

Berbagai karangan bunga ucapan selamat, dari para relasi Avery dan juga Aiden berjejer di sepanjang pelataran Gwen’s Cafe. Aiden yang berprofesi sebagai pengacara, tentunya mempunyai banyak koneksi yang turut mendukung pembukaan Cafe itu. Acara peresmian hari itu berjalan lancar. Ucapan selamat tak henti mengalir dari para undangan yang memenuhi Cafe. Avery berharap, ini akan menjadi awal yang baik untuk usahanya.

“Kau puas dengan hasilnya?” tanya Aiden, kebahagiaan terpancar jelas diwajah tampannya melihat antusiasme sang istri.

“Tentu saja, aku sempat takut ini tidak berjalan sesuai harapan. Tapi, ternyata acara ini berlangsung dengan lancar. Kau lihat, semua undangan merasa puas, dan mereka juga menyukai semua hidangan yang kami buat. Ya Tuhan, aku benar-benar bahagia.” Avery tak mampu menutupi sukacita yang ia rasakan.

“Kau pantas mendapatkannya, sayang,” kata Aiden mantap. “Oh ya, kau ingat dengan sahabat lama yang kuceritakan beberapa hari yang lalu?” Ia mengingatkan, menarik perhatian Avery yang masih memperhatikan para karyawannya membereskan ruangan setelah acara peresmian tadi. Gwen yang kelelahan, sudah tertidur di tempat tidur single yang terdapat didalam ruangan kantor Avery. Ia sengaja menyediakan ruangan kecil di kantornya sebagai tempat beristirahat pribadi.

“Oh, ya. Aku ingat, kapan dia akan datang?”

“Sebentar lagi. Dia sudah dekat, mungkin beberapa menit lagi sampai. Aku menyuruhnya langsung kemari, mana tahu dia ingin melukis di Cafemu. Atau, yang lebih baik lagi, dia mau memberikan satu karyanya untuk dipajang di sini,” Aiden tertawa renyah.

Avery terdiam, “dia… Pelukis?” tanyanya pelan, suaranya tercekat. Seperti ada bongkahan batu besar yang mengganjal tenggorokannya.

“Ya, dia seorang pelukis. Kukira aku sudah mengatakannya padamu, bahwa dia akan mengadakan pameran lukisan?”

“Ya. Tapi… aku tidak berpikir, jika lukisan yang akan dipamerkan adalah hasil karyanya sendiri.” Avery merasa suaranya semakin melemah. Mendengar kata “Pelukis” membuat kepalanya berdenyut nyeri, benaknya segera terarah pada satu sosok. Sosok pria pada masalalunya. Pria yang tidak akan pernah ingin ditemuinnya lagi. Dadanya mulai berdebar mengingat sosok itu. Konyol. Karena ia sudah yakin tidak akan pernah bertemu dengan pria itu lagi. Ada ribuan mil yang terbentang antara Boston dan California, jadi, ia yakin tak ada alasan yang bisa membuatnya khawatir akan bertemu kembali dengan pria itu.

Avery menyentak bayangan itu dari benaknya. Bodoh. Dia bukan satu-satunya pelukis didunia ini. Jadi, ia hanya melakukan hal bodoh, jika mengkhawatirkan hal yang tidak mungkin. Avery berpegangan pada pemikiran itu. Dan ia bersyukur, karena hal itu membuat hatinya mulai kembali tenang.

Aiden merogoh saku celananya saat merasakan ponselnya bergetar. Sesaat, terdengar ia menjawab panggilan itu. Avery menaikkan kedua alisnya, saat Aiden mengakhiri obrolannya di ponsel. “Dia sudah didepan, sebentar aku akan menjemputnya.”

“Bawa saja dia keruanganku, akan kusiapkan makanan ringan untuk teman mengobrol nanti,” Avery berseru, saat Aiden mulai berjalan menjauh. Aiden berbalik, tersenyum dan menautkan ibu jari dan telunjuknya membentuk lingkaran, memberikan tanda oke.

Avery sendiri yang menyiapkan dan membawa suguhan untuk tamu Aiden. Senyum merekah dibibir indahnya. Aiden jarang mempunyai teman dekat, ia terlalu menutup diri. Dan jika Aiden mengatakan orang ini, adalah sahabat terbaiknya, berarti dia memang orang yang spesial. Avery mendengar suara dua orang yang sedang tertawa di dalam ruang kantornya. Tangan kirinya membuka knop pintu, sementara tangan lainnya menahan nampan yang berisi suguhan yang ia bawa.

Tapi, saat ia berhasil membuka pintu itu, dan melihat siapa gerangan tamu kehormatan sang suami. Avery merasa bumi tempatnya berpinjak berguncang hebat. Paru-parunya kosong seperti udara didalamnya disedot paksa, membuatnya seperti berada didalam ruang hampa. Avery tidak mampu bergerak, bahkan sekedar menarik nafas. Ia terlalu terkejut melihat tamu itu. Ia seperti terhimpit gunung es, saat dingin mulai menjalari tubuhnya.

Hal yang sama juga dialamai oleh pria itu. Ia terlihat sama terkejutnya dengan Avery. Pria itu menegang di kursinya, tangannya mencengkram erat lapisan lembut lengan kursi. Rahangnya mengeras dan matanya tak berkedip, menyalang nanar melahap sosok Avery yang kini terlihat rapuh berdiri disana. Keduanya terlihat tegang, memandang dingin satu sama lain.

Alis Aiden berkerut melihat ketegangan yang tiba-tiba menguasai ruangan -dengan konsep minimalis yang memadukan dua warna dasar hitam dan putih- itu. Ia seperti tersisihkan dalam satu dimensi yang tidak ia pahami. “Ehm,” dehaman Aiden membuat kedua orang yang sejak tadi saling melempar pandangan dingin itu tersentak bersamaan.

Aiden tersenyum kearah Avery, yang masih berusaha menguasai tubuhnya dari guncangan rasa terkejut yang menyerang tiba-tiba. Begitu juga dengan pria itu, ia merasa tak enak hati dengan sahabatnya. “Ave, kemarilah sayang. Kenalkan, dia Marcus Hunt. Sahabat yang baru muncul dari dasar bumi,” kelakar Aiden, mencoba mencairkan kebekuan yang baru saja terjadi.

Marc. Avery, mendengar hatinya berbisik. Dulu, dia selalu memanggil pria itu Marc. Ia ingat, baru beberapa menit yang lalu, ia meyakini diri jika pelukis didunia ini tidak hanya ada satu. Tapi, keyakinan dan harapan tak selamanya berjalan sesuai kehendak. Avery menelan ludah dengan susah payah, berharap bisa membasahi tenggorokannya yang mendadak kering.

Kenapa? Ya Tuhan, permainan macam apalagi ini? Tidakkah ada pria lain yang bisa menjadi sahabat suaminya? Kenapa harus dia? Kenapa harus penipu ini? Kenapa harus bajingan yang begitu dibencinya ini?

Kedua tangan Avery mencengkram erat pinggiran nampan yang sedang dibawanya. Buku-buku jarinya memutih, dan menjalar menyusuri seluruh tubuhnya, hingga wajahnya memucat seolah darah tak lagi mengaliri bagian itu. Ia berjalan kaku mendekati kedua pria itu. Jantungnya berdentam dengan debaran yang mengkhawatirkan. Avery bahkan takut jika kencangnya debaran itu akan terdengar ketelinga dua pria dihadapannya. Ia nyaris membanting nampan di tangannya, saat jarinya bergetar hebat diluar kendali. Buru-buru ia meletakan benda itu diatas meja.

***

“Marcus Hunt,” pria itu mengulang namanya dengan penuh penekanan. Tangannya terulur, menunggu Avery menyambutnya. Masih tak percaya dengan apa yang ditangkap pandangan matanya yang gelap sehitam malam. Lima tahun ia mencari keberadaan gadis ini, tidak, wanita ini. Karena gadisnya yang dulu lugu sudah bertransformasi menjadi wanita dewasa, cantik, dan semakin mempesona. Ia menahan keinginan kuat untuk mencekik leher jenjang yang menggiurkan milik wanita itu, karena sudah berani menghilang dari hidupnya lima tahun lalu. Wanita ini berani pergi darinya setelah apa yang mereka lalui dengan begitu dahsyat pada musim panas itu? Bagaimana mungkin? Wanita ini berani mencampakannya setelah satu minggu penuh kerotisan yang telah mereka bagi bersama. Sialan. Ia bahkan masih ingat bagaimana saat wanita itu mengenakan bikin ungu yang membuatnya gila, dan juga kagum pada dirinya sendiri karena mampu bertahan untuk tidak meneteskan air liur. Benar-benar tidak masuk akal.

Nanti, Marcus bertekat. Ia akan membuat perhitungan dengan wanita ini. Dan -yang sudah pasti- tidak didepan Aiden, sahabatnya. Ya Tuhan, sebenarnya apa maksud semua ini? Bagaimana mungkin wanita yang dinikahi sahabatnya, adalah wanita yang selama lima tahun ini dicarinya dan membuatnya nyaris gila. Mungkinkah takdir sedang menunjukan eksistensinya?

Avery masih memaku tatapannya pada tangan kuat yang terulur kearahnya. Ia tahu bagaimana kehangatan yang dihasilkan tangan itu ditangannya, ditubuhnya. Tangan itu, bahkan sudah melakukan banyak hal pada tubuhnya bertahun-tahun yang lalu. Ia ngeri membayangkan harus kembali bersentuhan dengan tangan itu. Tapi, ia tidak mungkin membuat Aiden bingung, apalagi curiga dengan perubahan yang terjadi padanya. Dengan harapan tubuhnya sudah mati rasa akan sentuhan sekecil apapun terhadap kulit pria itu. Ragu-ragu, Avery membalas uluran tangan Marcus.

“Avery Lewis.” Ia sengaja mengenalkan diri dengan menyebut nama belakang suaminya, bukan dengan Bryant sebagai nama gadisnya. Avery dapat melihat rahang Marcus kembali mengeras, ia takjub karena pria itu tidak berniat meremukan jarinya dengan genggaman kuat, alih-alih Marcus menggenggam lembut dengan sedikit tekanan ditangan halus itu.

“Senang berkenalan dengan Anda, Mrs. Lewis,” ujar Marcus dingin. Melepaskan genggaman tangannya dengan enggan.

Aiden tertawa mendengar ucapan formal Marcus. “Kau terlalu formal, Marcus.” Mendaratkan tinju kecil di lengan pria itu, “tidak seperti bocah berandal yang kukenal dulu. Panggil saja dia Avery, kau tidak keberatan, kan? Sayang?” tanyanya masih dengan senyum simpul dibibirnya.

Avery berusaha menggerakan lidahnya yang terasa kelu, tak mampu digerakan dengan segera. Butuh beberapa detik bagi Avery untuk dapat kembali mengeluarkan suara, “ya, tentu. Tentu saja, dia boleh memanggilku seperti yang kau inginkan, sayang.” Entah kenapa, dorongan untuk menunjukan kemesraan dan keharmonisan pernikahannya begitu kuat. Ia ingin menunjukan pada pria itu, jika kehidupannya kini telah berubah. Dan ia masih bisa meraih kebahagiaan meski tidak bersama pria itu. Tapi, ia tidak bisa berpura-pura jika ia baik-baik saja. Tidak. Ia tidak bisa berada satu ruangan dengan pria ini.  Ia harus segera menyingkir dari sini, atau ia akan terlihat menyedihkan seperti tikus got yang baru diangkat dari dasar selokan yang penuh genangan.

“Aiden,” ucap Avery pelan, lebih pelan dari yang ia kira. “Aku… Aku… masih ada sedikit pekerjaan yang harus kuselesaikan. Jika kau tidak keberatan, bolehkah aku kembali melanjutkan pekerjaanku? Dan, kurasa kalian juga masih ingin melepas rindu. Aku… tidak ingin mengganggu,”

Aiden tahu ada sesuatu yang terjadi, tapi ia tidak mengatakan apapun. Ia tersenyum, “sebenarnya kau sama sekali tidak menganggu, sayang. Tapi, jika kau memang masih ada pekerjaan. Kau boleh menyelesaikannya,”

“Terimakasih,” balasnya. Raut wajahnya kembali berubah, saat menoleh ke arah Marcus. “Mr. Hunt, maaf, aku tidak bisa ikut bergabung menyambut kedatanganmu. Aku…”

“Tak  apa, aku mengerti,” ucap Marcus dengan nada lembut yang mengerikan. Ya, aku mengerti. Aku mengerti dengan sangat, Ave. Kau ingin segera melarikan diri lagi dariku, kan? Bagus. Teruslah menghindar selagi kau masih bisa, manis. Karena, setelah ini, aku pastikan kau tidak akan lepas dariku. Tidak sebelum aku mendapat penjelasan dari kerumitan ini. Hatinya bergemuruh, terjadi pergolakan besar disana. Matanya tak lepas, mengikuti gerakan Avery yang berjalan mendekati pintu dengan tubuh gemetar.

***

Avery heran karena ia masih bisa mencapai bagian belakang Cafe tanpa pingsan, mengingat gemetar hebat yang menerjang tubuhnya. Ia mendudukan diri pada satu dari sekian kursi pelanggan yang memang diletakan dibagian itu. Bagian ini, ia yakin, akan menjadi bagian yang paling disukai pelanggan. Karena pemandangan yang menjorok langsung kearah danau buatan yang terhampar lima belas meter dari Cafe, belum lagi, rimbunan bunga aster yang membentuk semak di sana sini. Juga beberapa pohon Ek yang berdiri kokoh disana. Semua itu sudah cukup untuk menjadi alternatif memanjakan mata sambil menikmati kudapan, ditemani semilir angin musim dingin yang sebentar lagi akan berakhir.

Avery merasa tubuhnya melemas, dan seperti ada ribuan palu yang menghantam kepalanya dengan dentuman-dentuman kuat. Berulang kali ia menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya yang kering, tapi tak juga mampu meredakan rasa kering yang mencekik itu.

Marc, pria itu. Ya Tuhan, ia masih tidak menyangka bisa bertemu pria itu dengan cara seperti ini. Ia tidak pernah berpikir untuk kembali bertemu dengan pria itu, tidak sejak ia tahu jika pria itu hanya ingin bersenang-senang dengannya lima tahun lalu. Satu-satunya alasan yang mampu mendorongnya untuk mencari pria itu, hanya jika suatu ketika, mungkin terjadi sesuatu pada Gwen, yang membuatnya harus mencari pria itu, dan ia berharap itu takkan pernah terjadi. Tapi tidak, tidak dengan cara seperti ini. Tidak, dengan kenyataan jika dia adalah sahabat Aiden, suaminya.

Avery memucat mengingat saat ini, pria itu hanya berjarak beberapa meter dengan putrinya, putri kandungnya. Tidak. Tuhan, jangan sampai pria itu mengetahui keberadaan anaknya. Ketakutan mulai menguasai Avery saat membayangkan Marcus melihat anaknya. Satu kali. Ya, hanya butuh satu kali ketelitian untuk mengetahui jika Gwen merupakan anak Marcus. Dominasi gen yang Marcus turunkan, membuat Gwen seperti perwujudan Marcus dalam rupa wanita. Begitu mirip. Rambut Gwen sedikit ikal, sama seperti Marcus. Matanya berwarna hitam pekat, bulat dan besar, bukan berwarna coklat emas dan kecil seperti mata Avery. Bentuk wajah dan rahangnya begitu tegas dengan tekstur lebih lembut. Dan, satu hal yang begitu menurun, yakni mulutnya yang sering melontarkan ucapan dan celetukan-celetukan pedas. Tapi, ada satu yang sangat disyukuri Avery. Kecerdasan yang Marcus turunkan pada anak yang mereka ciptakan bersama ditengah musim panas itu, sungguh menakjubkan. Gwen, di usianya yang baru menginjak empat tahun beberapa bulan lalu, sangat cepat dalam menyerap pelajaran apapun yang dia terima dan dia juga sangat kritis jika melontarkan pertanyaan.

Gwen adalah satu-satunya hal baik yang pria itu berikan padanya. Mengingat pertemuannya dengan Marcus. Mau tidak mau, kembali membuat kenangan erotis yang terjadi pada suatu musim panas lima tahun lalu kembali naik kepermukaan. Menarik ingatannya pada masa itu.

***

Perkenalan Avery dengan Marcus terbilang unik. Saat itu, seperti musim panas pada umumnya. Semua orang setuju jika tempat yang paling menyenangkan adalah pantai. Dan hari itu, pantai California dipenuhi manusia yang ingin menikmati sengatan sang mentari yang mampu membuat kulit mereka coklat secara alami. Avery baru saja bangkit dari keasyikannya berjemur, saat tiba-tiba sesosok pria tampan mendekat kearahnya. Pria itu tinggi, bahkan melebihi Avery yang sudah bisa dikatakan tinggi. Ia hanya mengenakan celana renang. Membuat kulitnya yang kecoklatan, terlihat begitu eksotik membalut rangka tubuh tegapnya. Ototnya tidak terlalu menonjol seperti pria yang sedang duduk dikursi tinggi di sisi lain pantai, pria yang bertugas sebagai penjaga pantai itu mempunyai otot-otot besar yang mengerikan. Tapi tidak dengan pria ini, bentuk tubuhnya pas menurun Avery. Kulit coklat dengan otot-oto yang membentuk lekukan-lekukan indah dibagian dadanya yang bidang, kemaskulinan yang pasti bisa membuat wanita manapun rela mengemis demi bisa bersandar pada bagian itu.

Kaki pria itu panjang dengan ototnya yang kencang, dihiasi dengan bulu-bulu yang melebat di kedua bagian itu. Untuk Avery -yang saat itu masih lugu diusianya yang baru sembilan belas tahun- tentu saja sosok Marcus sudah mampu menimbulkan getaran-getaran asing yang menyenangkan dihatinya. Avery dapat merasakan rona panas yang menjalari wajahnya, saat pria itu mendekat kearahnya. Sudah sejak beberapa jam lalu Avery sering kali menangkap basah Marcus menatapnya dengan pandangan aneh, yang tidak dipahami Avery. Tapi, karena pada dasarnya Avery bukan orang yang memiliki kepercayaan diri tinggi, ia tak ingin membuat harapan jika Marcus menaruh minat padanya. Karena, saat mata mereka bertemu, Marcus akan menarik kembali pandangannya pada papan kecil yang ada dipangkuannya. Kembali berkutat pada kegiatan jemarinya dengan pensil diatas papan itu.

Kebingungan tergambar jelas diwajahnya, saat pria itu menyerahkan sebuah kertas kepadanya. Sebenarnya, bukan kertas itu yang membuatnya terpana, tapi sketsa yang ada didalamnya. Kertas itu berisikan sketsa dirinya yang tengah berjemur, pose yang pria itu ambil adalah ketika ia sedang memiringkan tubuhnya yang terbaring diatas alasnya berjemur, untuk memandangi sekelompok anak kecil yang dengan semangat bergotong royong membangun istana dari pasir. Ternyata, moment itu di manfaatkan oleh seseorang yang sejak tadi mengamatinya. “Ini?” Kedua alis Avery terangkat, bingung.

“Keindahan,” jawab Marcus. Menyunggingkan senyum maut, yang menurut Avery sangat kejam. Karena senyuman itu mampu membuat lututnya sedikit gemetar.

Avery bergerak kikuk, berusaha tidak terlihat konyol didepan pria itu. Bibirnya berusaha membentuk senyum yang ia harap mampu membalas senyuman maut Marcus. “Maksudmu?” Avery masih belum mengerti dengan alasan pria itu melukisnya diam-diam.

“Aku suka mengabadikan keindahan apapun dengan sebuah goresan pensil, sebelum mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih berharga,” Marcus menjelaskan dengan bahasa yang kurang dimengerti oleh gadis itu.

Marcus berkata tentang keindahan, tapi Avery masih belum mengerti apa hubungannya dengan dia?

Melihat kebingungan yang masih bergelayut diwajah Avery, membuat Marcus kembali memamerkan senyum tipisnya yang begitu memikat. “Kau, miss. Kau adalah keindahan maha karya Tuhan yang paling sempurna. Aku akan merasa berdosa jika tidak mengabadikan keidahan itu dalam sketsaku.”

“Oh,” Avery dapat merasakan wajahnya menghangat, akibat rona merah yang tanpa malu menjalari wajahnya. Ia tidak tahan untuk tidak tersipu mendengar rayuan lembut dari pria itu. “Terimakasih,” ucapnya malu.

Alis Marcus saling bertautan, “untuk?”

Avery bergerak canggung, ia heran kenapa pria ini masih bertanya. Ia berterima kasih untuk apa? Tentu saja untuk sketsa yang sudah pria itu buat, apakah pria ini berharap ia akan berterima kasih untuk pujian atau lebih tepatnya, rayuannya?

“Ini.” Avery mengangkat kertas yang berisikan sketsa dirinya

“Tidak. Tidak. Kau salah paham miss,” Marcus kembali mengambil kertas sketsa dari tangan Avery. “Sketsa ini milikku, aku tidak berniat memberikannya padamu.” Ia menjelaskan, tangannya bergerak menggulung kertas itu dengan gerakan efisien.

Kelembutan diwajah Avery segera menghilang. “Lalu? Untuk kau menyerahkan padaku, jika kau tidak bermaksud memberikannya?” tanya Avery ketus. Ia kesal, dan ia tidak berusaha menutupi kekesalan itu. Apa sebenarnya maksud pria ini? Melukisnya diam-diam, lalu menunjukan hasil lukisan sketsa itu kepadanya, tapi kemudian mengambilnya kembali? Apa dia ingin bermain-main dengannya? Cih, kekanakan sekali.

Marcus hanya mengangkat bahu, acuh. “Aku hanya ingin menunjukannya,” jika pria itu bermaksud ingin menyombongkan diri. Maka ia sudah melakukannya dengan sangat baik.

“Dasar tukang pamer,” Avery mengumpat pelan.

“Aku mendengarnya miss,” pria itu memberitahu. “Anggap saja aku meminta ijin padamu,”

Avery tercengang mendengar ucapan pria itu, “Meminta ijin setelah kau melukisku diam-diam?” tanya Avery tak percaya, ia yakin sebagian otak pria ini sudah bergeser dari tempatnya. “Wah. Wah. Wah. Sopan sekali ya?” sindirnya tajam.

“Kau tidak suka?”

“Menurutmu?”

Pria itu melipat tangannya didepan dada, matanya seperti kucing yang sedang mengincar seekor tikus. Bulatan pekat itu dengan kurang ajar, berkelana di atas tubuhnya, memandang Avery dengan pandangan yang mampu membuat punggung wanita itu meremang. “Baiklah, sebagai permintaan maaf karena aku sudah melukismu secara diam-diam. Aku akan memberimu kehormatan, untuk menanyakan namaku.”

Lagi-lagi Avery di buat tercengang dengan tingkah menyebalkan pria itu. Kepercayaan diri Marcus benar-benar sudah diluar batas kejawaran. Ia khawatir jika pria itu bahkan mampu membelah lautan dengan kepercayaan dirinya yang menggila. Avery mengangkat dagu, menanggapi ucapan Marcus. “Oh, benarkah? Dan apakah dengan aku mengetahui namamu. Aku bisa makan di restauran-restauran itu secara gratis?” ejek Avery, matanya melirik pada deretan restauran yang ada di disekitar mereka. Menantang pria itu untuk membalasnya.

“Tentu saja,” jawab Marcus yakin. “Karena aku yang akan mentraktirmu,” lanjutnya saat melihat raut terkejut dan tak percaya di wajah Avery, yang tadi mengejeknya.

Avery memandang curiga pada pria itu, “sebenarnya apa yang kau inginkan?”

Marcus menelengkan kepala kearah kiri, tangannya terlipat didepan dada. Alisnya berkerut, seolah Avery melontarkan pertanyaan yang sulit dan butuh waktu untuk memikirkan jawabannya. Sudut bibirnya sedikit tertarik saat melihat wajah penasaran Avery, “hanya ingin membuatmu kesal.”

“Oh. Kau berhasil dengan sangat baik, Sir,” ucap Avery dengan gigi bergemeletuk marah. Ia segera berbalik, tak ingin lagi berurusan dengan pria menyebalkan itu.

Melihat Avery yang berbalik menjauhinya, membuat Marcus segera mengejar dan mensejajarkan langkahnya dengan langkah marah wanita itu. “Hei, aku hanya bercanda. Ayolah, kita bahkan belum berkenalan,” Avery tak menanggapi pria itu. Rasa kesal memaksa kakinya untuk terus melangkah menjauh dari pengganggu barunya ini. “Baiklah-baiklah, maafkan aku. Aku hanya ingin berkenalan,” bujuk Marcus saat Avery tak juga menghiraukan dirinya.

Avery berhenti saat Marcus mencegat jalannya. Pria itu nyaris membuat Avery membentur dada bidangnya. Tingginya yang hanya sampai batas bahu pria itu, membuatnya harus mendongak untuk menatap tajam pada wajah Marcus. “Cara berkenalan yang sangat mengesankan,” sindirnya ketus.

Marcus tak menanggapi sindiran ketus itu, ia tersenyum, tangannya terulur pada Avery, yang masih menatapnya kesal. “Marcus Hunt.”

Avery memandang mata dan tangan pria itu secara bergantian, masih curiga jika ia akan kembali dikerjai. Dasar manusia aneh, baru kali ini ada yang mengajaknya berkenalan dengan cara membuatnya marah. Avery masih mempertimbangkan untuk menyambut uluran tangan tokoh dengan otot kencang yang membalutnya. Tepat saat ia berpikir untuk menyambut niat baik Marcus, sebuah teriakan kuat menarik perhatiannya dan juga Marcus. “Ave!!! Kemari!” Seorang wanita paruh baya bertubuh sedikit gemuk dengan rambut digelung keatas, melambaikan tangan kearah Avery. Itu bibinya.

“Aku harus pergi,”  Avery berjalan melewati Marcus.

Tapi langkahnya terhenti saat pergelangan tangan kanannya, terperangkap dalam cengkraman tangan Marcus. “Namamu,” kata pria itu dingin. Belum pernah satu kalipun ada wanita yang menolak berkenalan dengannya. Dan kali ini pun akan seperti itu. Ia sudah seperti remaja bodoh yang diam-diam memperhatikan wanita yang menarik perhatiannya.

“Tolong lepaskan tanganku Hunt, aku tidak ingin membuat bibiku menunggu terlalu lama.” Avery berusaha menarik tangannya dengan sia-sia, karena Marcus sama sekali tidak mengendurkan cengkramannya.

“Namamu,” ulangnya lebih menuntut. Matanya memerintahkan Avery untuk segera menjawab.

“Ave, bukankah tadi kau sudah mendengarnya?” ucapnya kesal.

“Belum seluruhnya,” Marcus masih menunggu Avery menyebutkan nama lengkapnya.

“Avery Bryant. Dan tolong lepaskan tanganku,” Avery menyentakan tangannya kuat-kuat.

Merasa tujuannya tercapai, Marcus segera melepaskan tangannya. Avery segera berlari menghampiri bibinya. “Kau akan bertemu denganku lagi besok, disini.” Ia berseru saat Avery sudah beberapa meter menjauhinya. Itu bukan permintaan, tapi perintah.

Sialan, apa pria itu kira ketampanan bisa membuatnya menuruti apa yang dia katakan? Yah, Marcus boleh bermimpi untuk bisa membuatnya menurut. Tak akan ada yang bisa membujuknya untuk kembali bertemu dengan pria itu, meski badai menerjang pantai dengan gempuran maha dahsyat, ia tidak akan perduli.

***

Keesokan harinya, matahari bersinar dengan cerahnya, kembali menyebar kehangatan yang begitu didambakan bagi mereka yang menginginkan kulit putihnya berubah eksotis. Tidak mengerti apa yang terjadi dengan dirinya, Avery mendapati dirinya sudah berdiri diantara kerumunan orang yang tengah berjemur di pinggir pantai. Ia tidak ingin menuruti perkataan pria menyebalkan itu, tidak sama sekali. Tapi, meski begitu ia masih saja memutar kepala mencari keberadaan pria itu. Disinilah, kemarin ia bertemu Marcus. Dan seharusnya pria itu berada di…

Mata Avery menyipit, saat tatapannya terfokus pada beberapa orang wanita muda yang sedang terkikik dengan gaya dibuat-buat. Dan disana, sekitar sepuluh meter dari tempatnya berdiri. Marcus terlihat seperti raja yang dikeliligi selir-selirnya. Berdiri gagah hanya dengan celana renang yang membalut bokong kencangnya. Sementara dadanya yang berkilau karena terpaan matahari menjadi santapan mata para wanita yang berusaha menahan air liurnya. Cih, dasar playboy, dan aku bodoh karena mengikuti kakiku melangkah sesuai keinginannya, Avery menggumam kesal menyadari kebodohan yang sudah ia lakukan. Kenapa ia harus datang kemari?

Avery merasa jantungnya melompat, saat Marcus menoleh dan segera memaku pandangannya dengan intens begitu matanya menangkap sosok Avery. Senyum menawan penuh kemenangan menghiasi bibir pria itu, sebelum ia berbalik kembali menghadap para pengagumnya dan mengatakan sesuatu. Entah apa yang pria itu katakan, hingga membuat para wanita itu tergelak dengan kepala terangguk berulang kali. Dan, setelah para pengagumnya pergi, Marcus segera berbalik, berjalan menuju Avery yang tiba-tiba merasa dadanya berdebar tanpa alasan yang jelas.

“Aku tahu kau pasti datang,”

“Aku hanya sedang mencari bibiku,” elak Avery. Tak ingin kembali mendapati senyum kemenangan diwajah tampan Marcus yang sedikit berkeringat. Apa pria ini baru saja melakukan sesuatu yang memerlukan tenaga? Ataukah hanya karena sengatan matahari keringat itu menghiasi wajah dan tubuhnya? Dan Avery tahu, pertanyaan itu tidak akan pernah terjawab.

Kedua alis Marcus, terangkat menunjukan ketidak percayaannya. “Benarkah? Karena kemarin bibimu kemari untuk mencarimu, jadi hari ini keadaan berbalik? Bibimu yang kemari dan kau yang mencarinya? Eum, apakah kalian sedang melakukan permainan petak-umpat? Jika ya, mungkin aku bisa ikut bergabung,” goda Marcus atas alasan yang Avery utarakan.

Tatapan kesal Avery padanya, sudah merupakan jawaban atas tebakannya jika wanita ini sedang berbohong. Cukup menarik. Tidak banyak wanita yang menjaga gengsi didepannya. Bahkan lebih banyak lagi yang sangat sulit untuk menjaga pakaiannya tetap melekat ditubuh mereka. Dan, ketika mendapati ada wanita yang tidak terpengaruh dengan pesonanya, tentu saja, hal itu membangkitkan jiwa pemburu seorang Marcus.

Mata sewarna malam itu menelusuri tubuh belia Avery, yang hari itu mengenakan bikini dengan motif bergaris yang terdiri dari empat warna. Cantik. Wanita ini benar benar cantik. Rambut hitam yang menaungi wajah berbentuk oval, alis yag tidak terlalu tebal, bulu mata lentik dan mata coklat emas yang kecil tapi tajam, hidung mancung ditambah bibir yang mungil tapi penuh. Marcus harus menahan diri dari dorongan kuat untuk menarik tengkuk Avery, dan mendaratkan bibirnya dibibir penuh wanita itu. Ya Tuhan, daya tarik wanita ini benar-benar berbahaya. Bibir itu bahkan sudah merah meski tanpa pewarna.

“Sudah siap untuk makan gratis?” Marcus menarik perhatian Avery, yang berusaha terlihat tidak perduli akan kehadirannya, dengan berpura-pura memperhatikan orang-orang disekitar mereka, yang sibuk dengan kegiatannya sendiri.

Dengan gerakan canggung, Avery mencoba menatap Marcus tanpa mempedulikan getaran yang masih bergemuru didadanya. “Makan gratis?” tatapan canggungnya, berubah menjadi tatapan bingung.

“Ya, seperti kesepakatan kita kemarin. Keuntungan kau mengetahui namaku, adalah kau bisa makan gratis direstoran manapun yang kau inginkan,” Marcus mengingatkan.

Avery merasakan panas yang menjalari wajahnya, saat mengingat kelakarnya kemarin. Ia tidak bersungguh-sungguh mengatakannya, itu hanya ungkapan kekesalan atas sikap sombong pria itu. “Lupakan saja, aku tidak bersungguh-sungguh mengatakannya.”

Marcus mengangkat bahu, meski hanya gerakan santai, tak urung hal itu menunjukan kelenturan gerak tubuhnya yang terlihat sensual. “Yah, tapi aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku.”

“Tapi…”

“Sudahlah, katakan saja restoran mana yang akan kita masuki. Lagipula, ini sudah waktunya makan siang. Tidakkah kau merasa lapar?”

“Tidak,”

“Tapi aku lapar, ayo,” dengan santai Marcus menarik tangan Avery. Membuat wanita itu terkesiap kaget, merasakan gerakan tiba-tiba itu. Terutama karena sentuhan tangan pria itu, yang kini menggenggam pergelangan tangan kirinya.

Beberapa saat kemudian mereka sudah berada dalam sebuah resto yang tidak jauh dari tempat mereka tadi. Marcus belum menyentuh sup ikannya, sementara Avery begitu menikmati udang goreng yang disiram dengan saus Perancis. Marcus begitu larut memperhatikan gerakan bibir Avery, hingga melupakan rasa lapar yang tadi merongrong perutnya. Fokusnya tertuju pada Avery yang mengunyah makanan tanpa menoleh sedikitpun padanya. Marcus merasakan tubuhnya memanas saat matanya melihat lidah Avery yang bergerak lincah, membersihkan sisa saus yang sedikit menempel disudut-sudut bibirnya. Marcus menahan erangan yang sudah mendesak ditenggorokannya, saat membayangkan hal lain yang bisa dilakukan lidah itu.

“Ehm,” Marcus berdeham, berusaha menormalkan suhu tubuhnya yang tarasa meningkat. Dan ia tersenyum saat Avery dengan mulut penuh, melihat kearahnya. “Apakah sebegitu nikmatnya udang itu, hingga kau tidak ingin berpaling barang sedetikpun?”

Avery segera menelan udang yang tadi dikunyahnya, “lumayan. Aku pencinta udang, jadi, aku sering lupa diri jika sudah menikmatinya.” Lalu, matanya melihat kearah mangkuk Marcus yang belum berkurang isi didalamnya. “Kenapa kau tidak menikmati makananmu?” tanyanya heran.

“Aku lebih ingin menikmatimu,”

“Apa?”

Marcus tergagap saat menyadari ia mengatakan apa yang ada dikepalanya. “Ah, tidak. Maksudku, aku juga ingin menikmati makananmu. Boleh aku mencicipinya?” ujarnya berdalih. Berharap, Avery tidak begitu tanggap akan ucapannya tadi. Ia tidak ingin, Avery berpikiran buruk tentangnya. Meski wanita ini sudah berhasil mengisi pikiran terliarnya, sejak ia melihatnya kemarin.

Avery memandangnya sesaat, sebelum meletakkan pisau dan garpunya. “Silahkan,” ucapnya. Tapi, apa yang dilakukan Marcus setelahnya, membuat alis wanita itu berkerut. Marcus memajukan tubuhnya, lalu membuka mulutnya lebar-lebar. “Kukira kau masih memiliki tangan yang bisa kau gunakan, Mr. Hunt?” Avery tidak bisa membayangkan jika ia harus menyuapi pria itu. Tentunya, hal itu akan menimbulkan opini dari orang-orang jika mereka sepasang kekasih, alih-alih baru kenal kemarin.

“Memang, tapi asal kau tahu. Aku tidak keberatan jika harus membuka mulutku, sampai kau memasukan suapan udang itu kemulutku,” ucap Marcus santai.

Avery berdecak kesal, melihat tingkah kekanakan pria itu. Dengan enggan ia mengangkat garpu berisi udang, lalu memasukannya kemulut Marcus. “Sebenarnya aku tidak perduli kau akan membuka mulutmu sampai kapan. Tapi, aku tidak mau menjadi perhatian orang-orang karena duduk dihadapan seorang pria yang tidak tahu malu, membuka mulutnya lebar-lebar seperti kuda nil.”

Marcus tak menanggapi gerutuan Avery, ia mengunyah makanan itu dengan nikmat. Membayangkan ia makan dari garpu yang sama dengan wanita itu, membuat pikirannya semakin liar.

***

Avery tidak ingin terlalu dekat dengan Marcus. Ia tahu jenis pria seperti apa Marcus, tapi, melihat bagaimana gencarnya pria itu mendekatinya. Ia sadar, jika ia hanya wanita biasa yang tidak mampu bertahan jika terus digempur dengan pesona Marcus yang berbahaya. Senyum mematikan dari bibir sensual Marcus, sudah seperti santapannya beberapa hari ini. Tapi, ada yang tidak ia pahami akan kondisi tubuhnya saat ini. Ia sering mendapati tubuhnya meremang dan menggeleyar dibagian-bagian tertentu saat menangkap pandangan Marcus yang tengah menelusuri tubuhnya.

Ia bahkan sudah pernah berkunjung ke rumah sewaan pria itu, yang terletak beberapa kilometer dari pantai itu. Marcus benar-benar pelukis handal, tangannya sangat ajaib, semua lukisan yang dihasilkannya begitu hidup. Meski Avery tidak begitu mengerti tentang seni, terutama seni lukis. Tapi ia bisa menikmati bagaimana warna-warna itu bermain dengan begitu dinamisnya diatas kanvas. Ada satu lukisan yang Marcus tutupi dengan selembar kain putih, dan pria itu melarangnya ketika ia berniat mengangkat kain itu. Marcus beralasan, ia tidak suka jika lukisannya yang belum jadi, harus dilihat orang lain. Avery menghormatinya, ia menjauh dari lukisan itu.

Sudah hampir satu tahun Marcus menetap di California, pria itu berasal dari Dallas. Alasannya memilih menetap disini, karena setelah menghadiri pameran lukisan yang diadakan seniornya di Universitas dulu, ia merasa betah dengan tempat itu. Akhirnya, ia memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya disini. Alasan lainnya, karena ia juga bisa menitipkan lukisan buatannya di galery yang dimiliki oleh seniornya. Sementara Avery, ia hanya bertandang ke tempat itu untuk menghabiskan liburan musim panasnya sebelum memasuki semester barunya di Universitas.

Hari ini, mereka berencana menggunakan speed boat yang disewa Marcus untuk menyeberang kepulau. Marcus mengatakan jika pulau yang tak jauh dari bibir pantai itu memiliki area berjemur yang indah dan tenang, tidak ramai dan bising. Avery menyetujuinya. Ia tidak ingin liburannya kali ini berakhir, tanpa menghasilkan kulit eksotis seperti milik teman-temannya di Manhatan.

Avery mengenakan kemeja besar dipadu dengan hot pants, menyembunyikan bikini sexy yang ia kenakan dibalik pakaian itu. Ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan mendapati sinar matahari dengan tenang. Itu alasan mengapa hari ini Avery menggunakan bikini terminim yang ia punya. Ia ingin lebih banyak lagi kulitnya yang menerima sengatan hangat sang mentari. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk mencapai pulau itu. Ada beberapa pondok yang berjejer di bagian selatan, tapi Marcus membelokan speed boatnya ke bagian utara yang tidak begitu ramai dan terlihat sepi. Avery bahkan bertanya-tanya dalam hati, mungkinkah masih ada orang-orang selain mereka di bagian pantai yang mereka tuju ini?

Tapi, sampai mereka menapaki pasir yang menghangat, tak seorangpun yang terlihat, hanya ada satu cotage yang tak jauh dari bibir pantai. Avery mengikuti Marcus yang menuntunnya kesisi lain yang lebih terlihat nyaman. Benar apa yang dikatakan Marcus. Tempat ini benar-benar indah, sejauh mata memandang hanya hamparan biru yang membentang luas dengan ombak yang bergulung cepat menghempas karang.

“Bagaimana? Kau menyukainya?” tanya Marcus. Meski sudah tau jawaban atas pertanyaannya. Melihat binar terpesona dimata kecil itu, Marcus tahu ia melakukan hal yang tepat.

Avery mengangguk cepat, “sangat. Ini benar-benar indah, Marc.” Marcus tersenyum mendengarnya, ia menyukai cara wanita itu memanggilnya. Dua hari lalu, mereka sepakat untuk tidak lagi menggunakan panggilan formal. Dan Avery, mengatakan jika ia lebih suka memanggil Marcus dengan Marc. Marcus, tentu saja tidak keberatan.

Marcus, yang saat itu hanya mengenakan celana renang, segera membentangkan dua lembar kain sebagai alas mereka berjemur. Ia menoleh ke arah Avery yang saat itu mulai melepas pakaiannya. Menampilkan pemandangan yang membuat nafas Marcus tersangkut di tenggorokan. Bikini Ungu yang dikenakan wanita itu, bahkan tidak mampu menyembunyikan aset indah dibaliknya. Avery belum menyadari dampak yang dihasilkan tindakannya bagi Marcus. Pria itu merasakan desakan panas dalam tubuhnya kian mendidih, saat Avery merebahkan tubuh dengan santai di sampingnya.

Kemudian, tanpa melihat kearah Marcus yang tengah bersusah payah mengendalikan gejolak kelelakiannya. Avery memejamkan mata, menikmati serangan hangat dari sang surya. Setelah beberapa menit terpejam, Avery merasa sengatan matahari yang membalurnya terhalang sesuatu. Dan ketika ia membuka mata, ia mendapati wajah Marcus yang hanya berjarak beberapa centi diatasnya. Avery dapat merasakan nafas Marcus yang mulai tak beraturan. Hembusan nafas pria itu yang menerpa wajahnya, membuat Avery merasakan tubuhnya bereaksi lain. Ia tidak tahu apa yang ia rasakan, ia merasa tubuhnya mulai memanas dan seperti ada desakan asing yang tidak ia pahami.

“Ave,” suara parau Marcus dan tatapannya yang menghipnotis, membuat Avery tak mampu berkata-kata. “Bisakah, kau menunda acara berjemurmu?” pinta Marcus, suaranya semakin berat seiring dorongan kuat untuk segera bercinta dengan wanita itu.

Avery masih belum mengerti akan apa yang terjadi, tapi ia merasakan kepalanya mengangguk. Tatapan Marcus seperti sihir yang menyebarkan mantra dari dunia asing yang belum pernah Avery tapaki. Tak bisa membendung api gairah yang sudah mengerogotinya, Marcus segera mengangkat Avery menuju cotage yang tak jauh dari tempat mereka.

***

Langkah lunglai terayun tanpa semangat ketika jejak kekecewaan itu mengiringi setiap jalan yang dilaluinya dari kediaman pria itu.

Berusaha untuk tidak mempercayai ucapan paman Felix, yang merupakan tetangga Marcus. Seharian Avery menunggu di beranda rumah mungil yang sudah hampir satu minggu ini rajin ia tandangi untuk menghabiskan hari bersama pria itu. Terduduk gelisah didua anak tangga terbawah, Avery membesarkan hatinya akan harapan kedatangan Marcus.

Sia-sia. Hingga matahari kembali keperaduannya dalam cahaya senja yang menjingga. Sosok tampan yang mampu membuat lututnya bergetar itu, tak jua menampakkan wujudnya. Mata Avery tak lepas memandangi jalan berkerikil yang melintang dihadapannya hingga ujung jalan beraspal. Hanya sesekali penghuni rumah disekitar itu saja yang melintas didepannya. Tapi tanda-tanda kehadiran Marcus tak juga ada.

“Ave, kemasi barang-barangmu. Besok, pagi-pagi sekali kita harus segera kembali ke Manhatan.” Baru satu langkah ia memasuki kediaman bibinya, ibunya sudah menyambutnya dengan ucapan itu.

“Apa? Bukankah seharusnya minggu depan kita baru kembali?” tanyanya heran atas perubahan jadwal yang mendadak ini.

“Kau benar, tapi tadi Roger mengatakan, bibimu sudah melahirkan anak pertama mereka,” jelas Mrs. Bryant.

“Dia yang melahirkan, kenapa kita yang harus repot?” protes Avery. Ia memang tidak pernah menyukai adik tiri ayahnya itu. Wanita itu begitu sombong, dan selalu merendahkan keluarganya. Tapi ayah-dan ibunya selalu saja bersikap sabar pada wanita itu.

“Ave, dia bibimu,” kata ibunya pelan. Mengerti ketidak sukaan putrinya pada adik iparnya itu.

“Hanya bibi tiri,” Avery mengingatkan.

Ia menggigiti bibir bawahnya, kebiasaannya jika dalam kondisi cemas. Ia tidak boleh kembali ke Manhatan sebelum bertemu dengan Marcus. Tidak, tidak boleh. Ia harus tetap disini ketika pria itu kembali. Avery yakin Marcus akan kembali, dan menjelaskan kemana perginya pria itu dan kenapa tidak memberitahunya. Dan ia tidak akan bisa menanyakan itu semua jika ia ikut orangtuanya pulang, besok.

“Mom,” panggil Avery. Mrs. Bryant yang tengah menyiapkan makan malam itu menoleh kearahnya, mengangkat alisnya, menunggu apa yang akan dikatakan anaknya. “Bisakah aku tidak ikut pulang? Maksudku, aku ingin pulang minggu depan sesuai jadwal kita.”

Untuk beberapa saat Mrs. Bryant masih memandanginya, tapi terlihat sekali dari mimik wajahnya jika ia sedang berpikir. “Tidak bisa sayang, kau tahu ayahmu tidak suka jika kau jauh dari kami?”

Avery menarik nafas lemas, benar, seharusnya ia tahu jika orang tuanya tidak akan mengijinkannya. Meskipun disini ada bibinya juga, tapi ayahnya yang sangat penyayang tapi juga protektif itu tidak akan mengijinkannya tetap tinggal tanpa mereka.

Tapi bagiaman dengan Marcus, bagaimana dengan hubungan mereka?

Tiba-tiba Avery menyadari satu hal yang membuat wajahnya memucat. Marcus tidak pernah mengatakan apapun tentang Hubungan. Dan itu artinya, selama beberapa hari ini tidak ada hubungan apapun diantara mereka selain… Kesenangan Fisik.

Dadanya segera digempur debaran ketakutan. Ya Tuhan, bagaimana jika Marcus hanya ingin bermain-main dengannya? Bodoh, seharusnya ia menyadari ini semua sejak awal. Oh, tidak, dia memang menyadari, tapi tidak ingin mengakui. Ia tidak ingin mengakui jika jenis pria seperti Marcus, tidak mau menjalin suatu hubungan selain hanya untuk bersenang-senang. Dan dia dengan bodohnya menyingkirkan semua pemikiran itu demi bisa menikmati hari-hari penuh kenikmatan baru yang dikenalkan Marcus padanya.

Marc, sebenarnya kau kemana? Tidak bisakah memberiku kabar sebelum kau menghilang seperti ini? Kau membuatku takut, batinnya cemas.

***

“Ave,” suara bariton Aiden melonjakan lamunan Avery dari tikaman masalalunya.

Ia menoleh kearah suara itu dan menadapti Aiden berjalan bersama Gwen dalam gendongannya. Disampingnya, Marcus ikut berjalan dengan langkah pelan seperti dewa kematian yang ingin mempermainkan korbannya. Menyadari kebiasaan Gwen yang harus selalu ada dirinya ketika bocah itu bangun, Avery segera menghampiri Aiden dan meraih Gwen yang masih terlihat mengantuk dengan mata merah, yang menandakan bocah itu baru saja menangis. Pasti karena mencarinya.

Dan ketika pandangan Marcus seperti kamera yang memonitor setiap gerakannya. Avery buru-buru menyembunyikan wajah Gwen dalam lekukan lehernya. Sebisa mungkin menyembunyikan wajah anak itu dari jangkauan pengamatan Marcus. Meski ia tahu itu hanyalah sebuah kesia-siaan, karena ia yakin Marcus sudah melihat wajah anak ini ketika ia terbangun. Avery hanya bisa berdoa semoga Marcus belum atau lebih baik lagi tidak menyadari akan wajah Gwen yang begitu mirip dengannya.

Marcus menajamkan pandangannya ketika melihat gelagat aneh Avery yang terlihat takut jika ia akan mendekat. Tapi, jika Marcus sangat penasaran akan penyebab tingkah aneh wanita itu, maka ia sangat pintar menyembunikannya dibalik ekspresi datarnya.

“Ave, Marcus ingin pamit pulang,” kata Aiden.

“Ah, benarkah? Kenapa buru-buru sekali?” ujar Avery dengan senyum basa-basi yang dapat ditangkap mata Marcus dengan sangat tepat. Sementara dalam hatinya ia mengucap seribu syukur karena akhirnya pria itu pergi juga.

Marcus tertawa dalam hati, wanita ini memang tidak pandai menyembunyikan perasaannya. Yah, dia masih seperti gadis polosnya lima tahun lalu.

“Masih ada sesuatu yang harus kuurus untuk persiapan pameranku besok,” wajah keras Marcus sedikit memudar karena tahu wanita itu tidak tenang dengan kehadirannya. Bagus, karena itulah yang ia inginkan. Merusak ketenangan Avery sebagaimana wanita itu merusak ketenangan hidupnya hingga lima tahun lamanya. Kita akan menyelesaikannya nanti, Ave, batin Marcus yakin.

“Ah, tentu saja. Kau pasti akan repot sekali ya? Eum, baiklah, terimakasih karena sudah menyempatkan diri hadir hari ini.”

Ingin sekali rasanya Marcus menarik kerah gaun yang wanita itu kenakan dan mengguncang tubuh lembut itu, demi untuk menghentikan semua kepura-puraan yang wanita itu tunjukan sejak tadi. Ia muak melihat sikap basa-basinya.

“Ya, aku senang bisa datang hari ini.”

Avery menangkap maksud lain dari ucapan Marcus, tapi sebisa mungkin ia menjaga mimik wajahnya tetap datar untuk menutupi apa yang tengah terjadi dihatinya sejak melihat pria itu terduduk di ruang kerjanya.

“Baiklah, Ave, aku akan mengantar Marcu kedepan,” kata Aiden dengan senyum menawannya, yang dibalas Avery dengan anggukan singkat.

Aiden berjalan lebih dulu, disusul Marcus yang menyempatkan diri menatap Gwen sebelum berbalik mengikui Aiden.

Huhhhh….. Avery seperti merasakan bongkahan batu besar yang berhasil diangkat dari dadanya, akhirnya ia bisa bernafas juga setelah sejak tadi dadanya sesak membayangkan betapa dekatnya Marcus dengan anak mereka.

“Mommy,” panggil Gwen dengan suara sengau khas bangun tidur.

“Ya, sayang?”

“Aku haus.”

“Ah, mari kita tanya Brenda, sepertinya dia punya minuman spesial untukmu.”

***

“Masuk,” kata Avery ketika mendengar ketukan di pintu ruang kerjanya. Seorang pemuda dengan tubuh kecil dengan rambut merah menyala memasuki ruangan itu. “Ya, Smith, ada apa?

“Mrs. Lewis, ada yang ingin bertemu dengan Anda,” jawab Jason Smith.

Avery mengerutkan kening sebelum kembali bertanya, “siapa?”

Belum sempat Smith menjawab, suara lain sudal lebih dulu terdengar. “Aku,” jawab suara pria di belakang Smith.

Avery merasakan ketegangan yang dua hari lalu sempat mengikatnya selama beberapa jam kembali menerjangnya. Marcus melangkah memasuki ruangan itu bahkan sebelum Avery mempersilahkannya. Berbeda dengan penampilannya dua hari lalu, kali ini pria itu terlihat lebih fresh. Janggutnya sudah tercukur bersih, menampilkan wajah tampan yang sangat menjengkelkan karena mampu memanipulasi setiap pandangan wanita yang menatap penuh damba kearahnya. Tubuh tingginya, terbalut sempurna dengan celana jeans berpadu kemeja lengan panjang yang di gulung hingga sebatas siku dengan dua kancing bagian atasnya yang sengaja dibiarkan terbuka.

“Terimakasih Smith, kau boleh kembali pada pekerjaanmu,” kata Avery, yang dituruti pemuda itu dengan patuh.

Setelah memastikan Smith sudah menjauh dari ruangannya, Avery segera melempar tatapannya pada pria yang masih betah berdiri beberapa meter didepannya. “Ada yang bisa kubantu Mr. Hunt?”

“Akting yang sangat bagus, Ave.”

TBC

64 thoughts on “Erotic Summer – Part 1

  1. Syukaaaaa dengan cerita kek gini yang tentang dendam tapi berbalut ama yang love love….pasti lanjutan nya seru nich dibarengi ama skinship yang terlarang#cuci otak ….
    Ituh si aiden donghae banget kek nya…suami yang romantis plus penyayang dengan segala kebaikan lainnya….

  2. Kyk ny marcus dan ave telah terjadi kesalah pahaman disini… Hmm hmmm… Aahh trus aiden gmana nasibnya???
    Msh penasaran.. *

  3. KYAAAAAA!! aq suka bgt bgt bgt.. Daebaaaak^^b
    Aiden emank Hero’a Avery, wlwpun Aiden punya kekurangan yg sgt fatal jg dlm rmh tangga. Aiden jg nerima Gwen,keluarga yg sling melengkapi. Namja yg dlu ada di hidup Avery yg membuat Gwen ada dtg gi,mana Avery dah nikah!! bikin penasaran kelanjutan’a,,, ^o^

  4. Ohh ohh
    baca ini bkin jantungan.. Kyaaaa gk sabar pengn tau kelanjutannya,
    Bner dehh meski di fb nya eonnie nmpilin photo cast nya kek pemaen twiligt ttp aja yg nongol di pikiran ntu y hae, kyu, ama ha won..
    Ada dikit typo di bagian pertemuan awal ave ama marc ama pas bagian paling belakang selebihnya bkin snewen.. Intriknya itu looo..
    Di tunggu next partnya eonnie🙂

  5. Anyyeong eonni, new reader here hehe🙂
    in ff prtma yng aku bca d blognya eonni dn smpah in ff kren pake nget hehe..
    Smga nextnya cpt d post ya😀

  6. hallo reader baru nih aku, hani imnida salam kenal yaaa…

    ih suka bener sama cerita yg settingnya barat gini berasa baca novel terjemahan hahaha
    ini cast nya anak suju bukan sih tapi cuman pake nama barat mereka aja, abis aku kebayangnya aiden itu donghae dan marcus itu kyuhyun ?
    marc dendam banget kaya nya ditinggalin 5 tahun sama avery dan ave juga kesel banget gegara menurut dia marc ngilang gitu aja gak tanggung jawab. haduh salah paham ini anak dua yeh. tau deh kalo masing masing dr mereka saling ngejelasin bakalan kaya gimana situasi selanjutnya yaa? *penasaaaaaran
    malah kalo marc tau dia punya anak bakalan berbuat apa tuh diaaa hah pusing mikirinnya aku
    dan aiden entar gimana dong malah dia baik bener lagi sama ave hadoh hadoh gini nih nasib orang baik

    hayo hayo ditunggu kelanjutannya fighting🙂

  7. Kak Nia (maaf sok akrab), erotic summer nya bagus kak! Konfliknya bener-bener fresh buat aku, karena aku blm pernah baca ff yang konfliknya kaya gini. Aku suka karakter Marc juga di sini, gatau kenapa yg jelas aku suka aja hehe… Aku baca ff ini berasa nonton tv series nya USA.
    Aku gasabar mau baca tulisan kakak di part selanjutnya.
    SEMANGAT KAK!

  8. anyong eoni… eoni aku azizah.. new reader d sni.. ni adlah ff pertma yg sya baca d sni.. knp?.. krn ini post-an ny da d palin dpan.. heehe.. soalnya aku blm smpt ubrak-abrik..
    bnran eon.. aku dagdigdug bacanya.. aduh.. apa yg mau dlkuin marc. a.k.a cho kyubie.. kpd avery.. jgn smpai dia mrusak kharmonisan aiden-gwen-ave.. oh, mrk kluarga yg harmonis wlu pnh kekurangan..
    eoni, dtunggu next partny y.. hehe

  9. akkk ini mana lanjutannya! alurnya menarik. dan sulit ditebak. gak kebanyakan kayak ff lainnya. baru aku temuin ff ini. lanjut ya ron. udah lama juga postingan ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s